Virus corona: Iran, negara yang telah memasuki ‘hari-hari paling sulit’ di dalam gelombang ketiga Covid-19, dengan 27 dari 31 provinsi ‘zona merah’

3 jam yang lalu Sumber gambar, EPA Di tengah penyebaran virus corona yang memasuki “gelombang kedua” di banyak negara, terutama di Eropa, Iran telah mencatat kematian dalam gelombang ketiga Covid-19. Iran adalah salah satu negara di Timur Tengah yang paling banyak mendokumentasikan infeksi virus corona dan “gelombang ketiga” yang tengah dialami negeri itu, sejauh ini…

Virus corona: Iran, negara yang telah memasuki 'hari-hari paling sulit' di dalam gelombang ketiga Covid-19, dengan 27 dari 31 provinsi 'zona merah'

Di tengah penyebaran virus corona yang memasuki “gelombang kedua” di banyak negara, terutama di Eropa, Iran telah mencatat kematian dalam gelombang ketiga Covid-19.

Iran merupakan satu diantara negara di Timur Tengah dengan paling banyak mencatat infeksi virus corona dan “gelombang ketiga” yang tengah dialami negara itu, sejauh ini yang paling banyak karakter meninggal.

Iran mencatat rekor infeksi di 24 jam pada pertengahan minggu ini dengan 4. 830 peristiwa baru pada Rabu (14/10) berarakan, menurut data dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Sampai Jumat (16/10), angka total infeksi di Iran mencapai lebih dari 522. 000 dan angka kematian hampir 30. 000. Angka infeksi dunia, sekitar ini mencapai lebih dari 39 juta dan kematian hampir 1, 1 juta.

Negara Persia ini telah mencatat rekor sejak tanggal 22 September lalu, dengan melewati 3. 574 kasus dalam 24 tanda, angka yang tercatat paling luhur pada awal Juni, pada “gelombang kedua. ”

“Walaupun gelombang kedua lulus ditekan, gelombang ketiga ini tampak karena protokol keberhasilan tidak diindahkan, ” kata Menteri Kesehatan Saeed Namaki pada akhir September bagaikan dikutip kantor berita resmi Iran Press.

Pada tanggal 5 Oktober berserakan, Iran telah mencatat angka janji seperti yang terdata pada Juli lalu.

Jumlah kematian sebanyak 279 pada Rabu (14/10) lalu juga ialah angka tertinggi dalam 24 jam yang terjadi.

Namun angka kematian yang sebenarnya jauh lebih tinggi.

Bulan Agustus lalu BBC seksi Persia menyambut bocoran laporan pemerintah yang membuktikan pada tanggal 20 Juli, hampir 42. 000 orang meninggal dengan gejala Covid-19. Namun Kementerian Kesehatan tubuh hanya melaporkan kematian sebanyak 14. 405.

Jumlah orang yang terinfeksi pada dokumen yang dibocorkan itu serupa dua kali lipat dibandingkan secara data yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan.

Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Haririchi keputusannya mengakui bahwa angka kematian sesungguhnya “secara signifikan” lebih tinggi daripada angka resmi yang dikeluarkan.

Menurut BBC Persia, Haririchi menerangkan bahwa statistik resmi didasarkan pada jumlah mair orang yang telah dinyatakan meyakinkan melalui uji PCR. Namun ia memperkirakan jumlah korban virus corona – tergantung pada tiap daerah – sekitar 1, 5 dan 2, 2 lebih tinggi dipadankan dengan data yang dikeluarkan.

Wakil menteri juga memperingatkan petugas kesehatan merasai kesulitan dan pasok medis hampir habis di tengah situasi yang semakin parah di Tehran & sejumlah daerah lain.

Tehran “ditutup” – “Hari-hari paling sulit dalam gelombang ketiga”

Zaman ini, 27 dari 31 provinsi di negara itu disebut pemerintah Iran sebagai “zona merah” karena pesatnya kenaikan angka infeksi.

Kondisi pada ibu kota Tehran dan sekitarnya digambarkan para pejabat “sangat kronis. ”

Dr Alireza Zali, ketua konglomerasi tugas virus corona di daerah Tehran, memperingatkan Rabu (14/10) lalu, bahwa pihaknya mengalami “hari-hari memutar sulit dalam gelombang ketiga” virus corona.

“Bila tidak dilakukan intervensi segera, kenaikan kasus tidak akan menghunjam dan kondisi akan tetap bagaikan itu, ” tambah Zali dalam pernyataan yang diberikan kepada BBC Persia.

Dalam cara menekan penyebaran virus, penggunaan masker di ibu kota Tehran diwajibkan sejak Sabtu lalu (10/10) dan pemerintah Iran mengumumkan denda sebesar Rp97. 000 bagi yang muncul rumah tanpa masker.

Presiden Hassan Rouhani, minggu lalu menetapkan bahwa siapapun yang menyembunyikan fakta bahwa mereka tertular Covid-19 dan tidak melakukan karantina mandiri selama 14 hari harus dikenakan “hukuman yang lebih berat. ”

Presiden juga memperingatkan para-para pejabat pemerintah yang berulang kali melanggar aturan dapat dikenakan sanksi dan bisnis yang melanggar akan ditutup.

Peraturan dan pernyataan pemerintah itu menunjukkan sikap resmi pihak berwenang yang menuding penyebaran virus karena kurang disiplinnya masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, khususnya penggunaan kedok dan menjaga jarak.