Sejarah Mbah Asih, juru kunci Bukit Merapi: ‘Kami bukan paranormal, tidak dukun’

24 menit yang lalu Ketika Gunung Merapi memperlihatkan peningkatan aktivitas di asal November lalu, perhatian publik tak hanya tertuju pada badan pemerintah yang menangani kebencanaan geologi, tapi juga pada seorang pria bernama Asihono. Dialah juru kunci Gunung Merapi pengganti mendiang Mbah Maridjan.

Sejarah Mbah Asih, juru kunci Bukit Merapi: 'Kami bukan paranormal, tidak dukun'

Ketika Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas di awal November lalu, perhatian publik tak cuma tertuju pada badan pemerintah yang menangani kebencanaan geologi, tapi juga pada seorang pria bernama Asihono. Dialah juru kunci Gunung Merapi pengganti mendiang Mbah Maridjan.

Pada suatu pagi di akhir November, Mbah Asih, begitu dia kini disapa, sedang duduk-duduk di beranda bersama ibu, istri, dan dua anaknya saat ia berceloteh, “Status Merapi sudah naik menjelma siaga. ”

Rumah Asih terletak di lereng Merapi, yakni di Karang Kendal, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, delapan kilometer sebab puncak Gunung Merapi.

Sebagai tukang kunci, informasi status Merapi itu tak hanya dia kabarkan kepada keluarganya. Dia juga bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi tersebut pada masyarakat, termasuk mengimbau supaya itu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan.

“Kami sebagai juru kunci mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaaan, ” ujar lelaki yang sekarang memiliki gelar Mas Kliwon Surakso Hargo.

Pengganti Mbah Maridjan

Asih adalah anak keempat daripada enam bersaudara, pasangan Mbah Mardijan dan Mbah Ponirah. Sultan Hamengkubuwono X mengangkatnya menjadi Juru Pokok Merapi pada 4 April 2011, menggantikan ayahnya, mendiang Mbah Maridjan, yang meninggal saat terjadi erupsi Merapi pada Oktober 2010.

Sebagai juru kunci penerus Mbah Maridjan, lelaki berusia 54 tahun itu berkewajiban melaksanakan tugas dari Keraton Yogyakarta untuk melakukan Labuhan Merapi setahun sekali.

Bagi Asih, Labuhan Merapi yang diadakan setiap Bulan Rajab dalam penanggalan Jawa, adalah rencana spiritual dari Keraton Yogyakarta dengan merupakan ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa sebab telah memberikan rejeki dan nikmat kehidupan kepada masyarakat, khususnya di sekitar Gunung Merapi.

Dalam ritual itu, Juru Kunci Merapi berlaku memimpin doa.

“Bersyukur dan berharap keselamatan kepada Allah, agar awak Merapi mendapat keselamatan dan rejeki yang banyak, ” ujar Cinta, menjelaskan kepada Furqon Ulya Himawan, wartawan di Yogyakarta yang mengadukan untuk BBC News Indonesia.

Dan pada pagi itu, Asih memberikan pengertian kepada keluarganya bahwa Merapi adalah sahabat karena ketika kondisi Merapi berstatus aman dan normal, Merapi memberikan kesuburan tanah untuk bercocok tanam, memberikan rumput segar buat pakan ternak, dan memberikan ramal yang melimpah yang bisa digunakan untuk pembangunan.

“Makanya kita kudu selalu menjaga alam dan tanpa sampai merusak, tidak boleh membabat kayu seenaknya, merusak pepohonan, akan tetapi kita harus memelihara, ” introduksi Asih kepada keluarganya yang meriung di teras rumah.

Aktivitas Merapi

Dalam menjalankan tugasnya, Cinta tetap berkoordinasi dengan Balai Analisis dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), yang mendeteksi aktivitas Gunung Merapi menggunakan beragam teknologi.

Patuh Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, logistik BPPTKG untuk melakukan pemantauan Gunung Merapi sangat lengkap seperti Seismometer untuk mendeteksi kegempaan atau getaran, dan Global Positioning System (GPS) beserta E lectronic Distance Measurement (EDM) untuk menilai deformasi atau penggembungan pada institusi Gunung Merapi.

Menurut Hanik, awak informasi BPPTKG terus memberikan informasi dan sosialiasi kepada masyarakat dan telah berkoordinasi kepada instansi terpaut, seperti ke Badan Penanggulangan Kesedihan Daerah (BPBD). BPPTKG merekomendasikan buat mengosongkan kawasan yang berada di dalam radius lima kilometer dari pucuk Merapi masuk kawasan yang berbahaya.

Sementara BPBD dan sejumlah warga sekitar terus melakukan pengamatan dalam sejumlah tempat. Mereka juga menjaga dan menutup akses jalan ke lokasi-lokasi wisata yang berada pada daerah rawan seperti lokasi wisata Klangon Kalitengah Lor yang jaraknya hanya sekitar tiga kilometer daripada puncak Merapi.

Menurut Kepala BPPTKG Hanik Humaida, lembaganya selalu memodernkan data dan informasi yang lalu disampaikan kepada masyarakat melalui bermacam-macam fasilitas media sosial dan permintaan agar mudah diakses.

“Masyarakat agar memasukkan informasi dari kami dan imbauan pemerintah setempat. Tentunya berita data yang resmi dari pemerintah, ” kata Hanik.

Juru kunci Merapi di masa teknologi

Asih sebagai Juru Kunci Merapi, mengambil peran untuk menginformasikan pada masyarakat sekitar Merapi untuk lebih hati-hati dan waspada. Dia berpadu dan berbaur dengan masyarakat buat berjaga dan selalu mengamati kondisi Merapi.

“Kalau ada sesuatu, awak ikut berperan menginformasikan kepada masyakat agar mereka bisa segera terang, ” katanya.

Hanik pun mengiakan berkoordinasi dengan Asih sebagai Ahli Kunci Merapi untuk menyampaikan bahan aktivitas terbaru Gunung Merapi. Cinta juga pernah datang ke biro BPPTKG untuk melihat aktivitas orang-orang di BPPTKG dalam melakukan penilikan Merapi.

“Saya kira informasi sebab BPPTKG diikuti Mas Asih, beliau juga mengikuti perkembangan dari ana, ” kata Hanik.

Informasi tentang aktivitas Merapi dari BPPTKG dengan menggunakan teknologi modern itu lebih populer di masyarakat generasi saat ini yang lebih karib dengan negeri digital dan internet. Beberapa umum generasi sekarang lebih mempercayai fakta dari lembaga seperti BPPTKG karena berbasis data dan bisa serta menggunakan teknologi canggih.

Rustiningsih Dian Puspitasari (20), seorang mahasiswi salah satu univeristas swasta di Yogyakarta, mengaku lebih memilih informasi dari BPPTKG soal aktivitas Merapi karena ialah lembaga resmi pemerintah dan mampu dipercaya data-datanya.

“Kita realistis saja. Lebih memilih informasi di berita atau lembaga yang sudah menyimpan informasi itu karena mereka berbasis data, ” katanya.

Namun ada juga generasi muda yang menggabungkan kedua jenis informasi tersebut, Ismi Nadiyatul Fatikah (21), misalnya. Menurutnya, dia mau melihat informasi dari lembaga sesuai BPPTKG dan juga informasi sebab Juru Kunci Merapi karena keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda.

“Kalau saya dua-duanya harus dipandang, dari sudut pandang BPPTKG dan dari sudut pandang leluhur kita, ” kata Ismi yang sedang kuliah di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

Mayoritas famili muda yang mengedepankan teknologi biar sepakat bahwa keberadaan Juru Pokok Merapi harus tetap dipertahankan jadi pelestari yang menghidupkan kearifan lokal warga Merapi dan penjaga kebiasaan.

“Menurut saya pribadi masih penting, karena (Juru Kunci Merapi) satu diantara warisan budaya dan leluhur kita masih mempercayai adanya juru pokok di gunung tertentu, jadi masih perlu, ” kata Ismi.

Meskipun begitu, ada pula yang berkata tidak semua orang percaya pada hal-hal mistis dan gaib yang lekat dengan predikat juru kunci.

“Lebih penting ke data dengan berbasis teknologi dari pada ujung kunci yang mungkin bagi orang basisnya mistis atau hal asing. Kalau bicara secara keilmuan bisa dibuktikan dengan bukti dan keterangan serta ada alat untuk mengukur apakah statusnya naik atau mendarat. Kalau juru kunci ini membentuk kayak kita percaya dan nggak percaya, ” kata Katarina Widhi Arneta Sari, mahasiswi kampus preman di Yogyakarta.

Bagaimana tanggapan Asih? Disamakan dengan paranormal atau sinse, Asih hanya tersenyum. Tugas Pakar Kunci Merapi, bagi Asih sejatinya adalah sebagai pelestari kearifan lokal warga lereng Merapi serta pembela budaya tradisional dan kesenian.

“Mungkin ada spiritualnya, seperti Labuhan. Akan tetapi Juru Kunci bukan paranormal, tidak dukun, dan juga bukan buya, ” ujar Asih yang juga bekerja sebagai karyawan administrasi pada Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia (UII).

Pembela p intu Merapi

Menurut Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Heddy Shri Ahimsa Putra, Juru Kunci Merapi berharta dalam dua konteks: empirik serta non empirik.

Terlebih bagi umum Yogyakarta yang tidak bisa menjatuhkan kepercayaan adanya sumbu imajiner dari Merapi, Tugu, Keraton, dan terus ke selatan sampai Laut Selatan.

“Jadi Juru Kunci itu penjaga pintu masuk, ” katanya. Melihat posisi Keraton Yogyakarta yang beruang di tengah-tengah Gunung Merapi serta Laut Selatan, kata Heddy, maka perlu adanya penghubung yang dikenal juru kunci.

Sebagai penjaga kesempatan, lanjut Heddy, ketika terjadi objek maka juru kunci bisa meluluskan tahu. Misalnya kalau gunung bakal meletus, juru kunci bisa memberi informasi dan orang di sekitarnya bisa mengungsi.

“Jadi bukan cuma kegaiban, tapi ada fungsi jelas, memberikan informasi kepada masyarakat, ” kata Heddy.

Fungsi Juru Pokok sebagai pemberi informasi mungkin mampu tergantikan dengan adanya lembaga formal pemerintahan yang menyajikan informasi mengenai aktivitas Merapi, seperti BPPTKG atau lembaga lain.

Namun menurut Guru Besar yang juga menjabat Kepala Senat Fakultas Ilmu Budaya UGM ini, teknologi modern hanya mewakili yang empirik, dan belum bisa menjangkau sesuatu yang gaib. Serta di sinilah fungsi Juru Kunci Merapi tidak tergantikan. Dia sedang diperlukan untuk memimpin ritual Labuhan.

“Selama masih ada Keraton, Labuhan tetap ada dan selama tersebut pula Juru Kunci Merapi langgeng ada, ” kata Heddy.

“Siapa yang akan membimbing naik gunung, siapa yang akan menyelenggarakan Labuhan, tidak BPPTKG, tapi Juru Kunci Merapi, ” katanya.

Sinergi j uru k unci serta t eknologi

Bagi Hanik Humaida, peran juru kunci Merapi dalam saat situasi aktivitas Gunung Merapi yang terus meningkat sangat istimewa karena terkait dengan kearifan lokal warga sekitar Merapi. Kolaborasi di antara keduanya, sebut dia, bisa menyulut hasil lebih baik.

“Kolaborasi antara kearifan lokal dengan tekonolgi ini pasti memberikan hasil yang cantik. Dan saat ini saya kira local wisdom itu sudah berkoordinasi indah dengan kami, ” kata Hanik.

Menurut Heddy, kolaborasi ini juga bisa memberikan hasil yang maksimal dan meminimalisir korban bencana.

“Sinergi untuk mitigasi bencana itu menawan, tapi soal Labuhan itu (Juru Kunci Merapi) tidak bisa tergantikan, ” kata Heddy.