Pemerkosa di Bangladesh diancam hukuman stagnan setelah terjadi peningkatan serangan seksual terhadap perempuan dan gadis, tiga kasus per hari

3 jam dengan lalu Sumber gambar, Reuters Bangladesh menerapkan hukuman mati bagi pemerkosa setelah terjadi gelombang protes mendatangi serangan seksual terhadap perempuan mendatangi peningkatan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.

Pemerkosa di Bangladesh diancam hukuman stagnan setelah terjadi peningkatan serangan seksual terhadap perempuan dan gadis, tiga kasus per hari

Bangladesh menerapkan aniaya mati bagi pemerkosa setelah terjadi gelombang protes menentang serangan erotis terhadap perempuan menentang peningkatan kebengisan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan.

Keputusan ini diambil di rapat kabinet pada Senin (12/10) yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina.

Menteri Dasar Anisul Huq mengatakan berdasarkan keputusan itu maka hukuman maksimum bagi pemerkosa adalah hukuman mati, tidak lagi hukuman penjara seumur tumbuh sebagaimana yang berlaku sekarang.

Perubahan tersebut, lanjutnya, akan dituangkan dalam bentuk peraturan pemerintah, jalan paling lekas untuk mengubah hukuman kasus pemerkosaan di tengah unjuk rasa nasional menentang peningkatan serangan seksual serta pemerkosaan terhadap perempuan dan syarat agar pihak berwenang bertindak tegas, termasuk mengubah hukuman dari balasan penjara seumur hidup menjadi hukuman mati.

“Akta Pencegahan Penindasan Anak-anak dan Perempuan, yang didalamnya berisi hukuman penjara bagi pemerkosa diubah hari ini menjadi hukuman beku, ” kata Menteri Hukum Anisul Huq kepada BBC, Senin (12/10).

Sekarang hukum dalam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak sudah diperbarui dan hukuman mati dalam urusan pemerkosaan sudah dimasukkan, ” tambahnya.

Tiga kasus per hari serta k asus rani ditelanjangi

Hug mengakui keputusan pemerintah ini antara lain didorong oleh gelombang protes nasional itu.

Kemarahan terbaru timbul setelah terjadi serangan massal yang keji terhadap seorang hawa di Noakhali, Bangladesh selatan.

Kejadian ini baru diketahui publik pasar lalu ketika beredar rekaman serangan di media sosial.

Kelompok yang membantu korban pemerkosaan mengatakan kepolisian Bangladesh menerima sekitar 5. 400 laporan pemerkosaan tahun 2019, tetapi jumlah kejadian yang sampai pada tahap putusan bersalah sangat rendah.

Untuk tahun ini, kata mereka, rata-rata terjadi tiga kasus pemerkosaan per hari. Para aktivis mengatakan banyak urusan lain tidak sampai dilaporkan ke pihak berwenang.

“Bangladesh mengalami kenaikan kasus pemerkosaan selama bulan-bulan terakhir serta video viral yang menunjukkan seorang perempuan ditelanjangi dan kemudian disiksa secara brutal oleh sekelompok anak muda menyulut kemarahan pekan berserakan, ” lapor wartawan BBC pada Dhaka, Waliur Rahman.

Kepolisian telah menangkap sejumlah orang. Salah satu di antaranya adalah seorang laki-laki yang diduga memperkosa perempuan berusia 37 tahun itu dengan todongan senjata.

Pemerintah dituduh kubra mengatasi kekerasan seksual dan PBB telah meminta Bangladesh untuk meneliti ulang penanganan kasus-kasus pemerkosaan.

Menurut Gajah Hukum Anisul Huq, pemerintah mau mengeluarkan peraturan baru tentang transisi hukuman bagi pemerkosa pada Selasa besok (13/10.