Covid di Indonesia: IGD serta ICU sejumlah rumah lara penuh, pasien dirawat dalam tenda – ‘Kondisinya perlu mirip perang’

Diperbarui 5 jam yang lalu Sumber gambar, Getty Images Layanan instalasi panas darurat (IGD) dan bagian perawatan intensif (ICU) sejumlah rumah sakit di Bandung, Solo, dan Pamekasan lengkap dengan pasien Covid-19, dalam Sabtu (03/07).

covid-di-indonesia-igd-dan-icu-sejumlah-rumah-sakit-penuh-pasien-dirawat-di-tenda-kondisinya-darurat-mirip-perang-30

wisma atlet

Sumber gambar, Getty Images

Layanan instalasi gawat penting (IGD) dan unit pembelaan intensif (ICU) sejumlah rumah sakit di Bandung, Solo, dan Pamekasan penuh secara pasien Covid-19, pada Sabtu (03/07).

Pada Kota dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebanyak dua rumah sakit umum daerah bahkan menutup layanan instalasi gawat darurat (IGD) untuk pasien Covid 19 kausa minimnya pasokan oksigen.

Sedangkan rumah sakit umum wilayah di Kota Solo, Jawa Tengah, mendirikan tenda-tenda pada luar gedung RS buat menampung pasien.

Departemen Kesehatan (Kemenkes) mengakui zaman ini sistem pelayanan kesehatan tubuh Indonesia ada di golongan ‘terbatas’ atau kurang memadai dan meminta rumah rendah swasta turut melayani pasien Covid-19.

‘Kondisinya darurat mirip perang’

Pikiran Suryanti kalut ketika ibunya ditolak masuk tempat isolasi sebuah rumah lara di kawasan Solo Pertama.

Padahal, kondisi saturasi oksigen sang ibu telah di bawah 90 dan kadar gula darahnya pas tinggi.

“Ibu ditolak karena ruang isolasinya penuh. Lalu rencana mau dibawa ke rumah sakit lainnya, tapi driver taksi online dengan disewanya itu bilang kalau stok oksigen di kira-kira rumah sakit di Solo habis. Terus disuruh ke Moewardi karena oksigennya banyak, ” kata Suryanti.

Baca juga:

Minus berpikir panjang, ia memutuskan untuk membawa ibunya ke RSUD dr Moewardi Tunggal pada Sabtu (26/06) semrawut.

Namun, karena bagian perawatan untuk pasien Covid-19 penuh, ibunya harus melaksanakan perawatan sementara di pada tenda darurat selama tiga hari, sembari menunggu putaran untuk mendapatkan kamar pembelaan di dalam rumah sakit.

“Ketika masuk, kondisinya lebih penuh dibandingkan hari ini (Sabtu, 3 Juli 2021) bahkan sampai ke teras-teras & area parkir. Ada juga pasien yang tidurnya hanya dengan tandu.

“Yang dalam tenda itu kalau hujan bawahnya becek membangun kondisinya darurat sekali mirip perang, ” papar Suryanti kepada Fajar Sodiq, wartawan di Solo yang mengadukan untuk BBC News Indonesia.

moewardi

Sumber gambar, Fajar Sodiq buat BBC News Indonesia

Selama menjalani perawatan dalam tenda, menurut Suryanti, kondisi psikis ibunya tahu anjlok.

Meski demikian, ibunya tetap bisa bertahan dan kini mendapatkan penanganan di ruang ICU rumah melempem karena kondisinya sempat serius.

“Pasien yang di depannya meninggal, terus di sampingnya meninggal. Itu membuat iklim ibu drop dan barangkali jadi memperparah kondisinya sebab melihat situasi di sekitarnya seperti itu jadi menegangkan sekali.

“Tapi jika untuk tenaga medisnya, pelayanannya sangat baik dan santun. Kasihan mereka petugasnya terpatok dan harus merawat penuh pasien, ” ujarnya.

Sedang dua hari berikutnya putaran bapaknya dilarikan ke rumah sakit yang sama sebab juga terpapar Covid-19.

“Bapak itu masuk Senin dan di tenda gawat hanya semalam. Hari Selasa sudah dipindah di barak, ” ujarnya.

covid

Sumber gambar, Getty Images

Dua kamp berukuran besar dan utama tenda berukuran sedang terpatok di depan halaman Sendi Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi Solo, Sabtu (03/07).

Di dalam tenda-tenda itu terdapat puluhan ranjang untuk pasien.

Tak hanya pasien Covid-19, kamp itu juga diperuntukkan bagi pasien non Covid-19 serupa menungu antrean untuk hadir ke dalam rumah sakit.

Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) lengkap dengan menggunakan APD tampak mendorong troli menyimpan tumpukan kardus makanan.

Selanjutnya mereka membagikan nasi kotak itu kepada para pasien yang dirawat dalam bawah tenda darurat tersebut.

Selain itu selalu ada nakes yang berperan mendorong tabung oksigen berukuran besar untuk diganti.

Jadi rumah sakit paling besar di wilayah Solo Sundal, RSUD dr Moewardi menjelma salah satu rumah sakit punca bagi penanganan pasien Covid-19.

COVID

Sumber gambar, Getty Images

Para pasien Covid-19 dengan masuk ke RSUD dr Moewardi tidak hanya bersandarkan hasil rujukan dari rumah sakit setempat, tapi mereka juga memang datang tunggal agar bisa dirawat di rumah sakit tersebut.

Meskipun tanpa rujukan, Cahyono mengaku tetap akan menerima pasien tersebut agar segera mendapatkan perawatan.

“Bukan hanya Solo dan sekitarnya, tapi dari daerah Jawa Timur masuk Moewardi. Bahkan, sejak Pati, Semarang, Batang mengakar ke kita. Saya sah tidak akan melakukan penolakan (pasien), ” kata Direktur Utama RSUD dr Moewardi Solo, Cahyono Hadi, Sabtu (3/7).

Untuk mengatasi pengembangan jumlah pasien yang menyelundup, dijelaskan Cahyono, pihaknya mengasaskan tiga tenda yang difungsikan sebagai tempat untuk mengikhtiarkan pasien yang akan mendalam.

Nantinya setelah pada dalam tersedia kamar buat perawatan, pasien yang mengantre di luar itu hendak langsung dibawa masuk.

RS

Sumber gambar, Getty Images

Adanya lonjakan jumlah pasien Covid-19 yang masuk ke RSUD dr Moewardi menyebabkan adanya penambahan jumlah tempat rebah untuk pasien Covid-19.

“Sudah saya tingkatkan tapi tingkat BOR sudah menyentuh 90-95%. Sedangkan untuk ICU itu jumlahnya 68 bed tapi juga penuh semua. Jadi jumlah 400 bed itu termasuk dengan ICU, ” sebutnya.

BOR Isolasi dan ICU di Solo hampir 100%

Sementara tersebut Kepada Dinas Kesehatan Tunggal, Siti Wahyuningsih menyebutkan jumlah BOR ICU maupun isolasi di rumah sakit Solo sudah mencapai di tempat 90%.

Dengan situasi seperti itu, ia berharap sejumlah rumah sakit pada luar Solo untuk melaksanakan penguatan di daerahnya per.

oksigen

Sumber gambar, ANTARA MEMOTRET

Pasalnya, pasien Covid-19 yang dirawat di panti sakit Solo sebagain tumbuh berasal dari luar Tunggal.

“Kalau kita lihat penderita (Covid-19) di Solo tersebut 60% adalah pasien sungguh kota. Teman-teman rumah lara ini sudah menambahi bed hampir setiap hari & sekarang sudah tembus nilai 1. 050-an…

“Ini ialah angka lebih besar dari pada puncak Januari semrawut, ” ujarnya.

Berdasarkan keterangan BOR rumah sakit pada Solo yang diperoleh BBC News Indonesia, BOR Isolasi telah mencapai 97% serta BOR ICU mencapai 98%.

“Hampir semua panti sakit untuk IGD serta isolasi hampir penuh, ” ujarnya.

Baca juga:

Dengan kondisi seperti itu, ia pun telah melangsungkan koordinasi dengan sejumlah rumah sakit untuk menambah daya tempat tidur.

Hanya saja, penambahan jumlah tidak perkara yang mudah sebab terkait dengan keberadaan SDM.

IGD RS di Bandung tutup karena pasokan oksigen kurang

Sementara itu, pada Bandung, Rumah Sakit Ijmal Daerah (RSUD) Kota Bandung menutup layanan IGD penderita Covid per 2 Juli 2021.

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pasokan oksigen.

“Empat hari yang lalu sudah merasakan kurangnya pasokan oksigen dari distributor dan vendor. Makanya empat hari yang lalu tersebut, sudah coba mengefisiensikan penerapan oksigen ini, ” kata Direktur RSUD Kota Bandung, Mulyadi, saat dihubungi, Sabtu (03/07).

Menurut dia, ada dua hal yang menerbitkan kekurangan oksigen.

oksigen

Sumber gambar, Getty Images

Perdana, lonjakan pasien Covid 19 yang membutuhkan oksigen meningkat hingga dua kali lipat, dari biasanya tiga hingga empat menjadi delapan maka sepuluh tabung FCL.

Kedua, terbatasnya pasokan dibanding distributor.

“Ya memang distributor kayaknya kesulitan karena panti sakit-rumah sakit lain sepadan (membutuhkan), jadi dari hulunya ini. Jadi tidak setara antara produksi dengan kebutuhan yang melonjak, ” tutur Mulyadi.

Baca serupa:

Selama empat hari terakhir, RSUD kelas B Majalaya Kabupaten Bandung juga menutup layanan IGD buat pasien Covid 19 serta juga umum gara-gara simpanan oksigen yang berkurang.

“Kita evaluasi mudah-mudahan secepatnya, begitu pasokan oksigen memadai, kita akan normalkan lagi untuk pelayanan IGD, ” kata Humas RSUD Majalaya, Agus Heri Zukari, pada wartawan Yuli Saputra dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Agus menjelaskan, jumlah pasien Covid 19 melonjak hingga hampir 270 anjangsana per 28 Juni 2021, atau sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan kamar Mei.

RS

Sumber gambar, KURUN FOTO

Sebagian tumbuh pasien Covid 19, logat Agus, sudah membutuhkan sandaran oksigen.

“Hampir seluruh yang datang ke vila sakit itu, rata-rata telah status kuning dan merah. Jadi hampir semua dengan masuk itu menggunakan oksigen dalam jumlah besar, ” ungkapnya.

COVID

Sumber gambar, ANTARA MEMOTRET

Di tempat lain, Rumah Sakit Khusus Pokok dan Anak (RSKIA) Tanah air Bandung memutuskan menutup layanan klinik atau rawat bulevar, meski stok oksigen masih mencukupi.

Keputusan itu diambil lantaran banyak gaya kesehatan yang terpapar.

Direktur Utama RSKIA, Setia Tagore, mengungkapkan, dari 90 orang tenaga medis terpapar virus SAR CoV2, 10 orang di antara itu harus menjalani perawatan di rumah sakit dan sisanya isolasi mandiri.

Saat itu, Taat tidak bisa menguatkan, sampai kapan stok oksigen bisa mencukupi.

“Kita juga punya alat penghasil oksigen, tapi skalanya tidak dirancang untuk situasi saat tersebut. Kalau hanya mengandalkan alat penghasil oksigen dari RSKIA, nggak akan mampu, ” ujar Taat.

Warga pengganggu mencari oksigen sendiri

Empat hari ke pungkur, Nang Sudrajat, warga Kota Bandung, mulai kesulitan mengisi ulang tabung oksigen untuk anaknya yang sedang mengidap Covid 19.

Adam 57 tahun itu kudu berkeliling ke sejumlah wadah isi ulang oksigen dengan sebagian besar menyatakan bersih.

Kalaupun ada, Serampangan harus indent atau memesan terlebih dahulu dan mengantre untuk hari berikutnya.

Sembarangan seperti berlomba dengan masa karena persediaan oksigen harus terpenuhi sebelum stok berakhir.

Dua tabung oksigen yang dia miliki hanya mampu bertahan untuk 6-8 jam.

Sementara, anaknya mengalami sesak dengan saturasi oksigen dalam darah sedikit, namun tidak bisa dirawat di rumah sakit sebab penuh.

“Susahnya tiga-empat keadaan ke belakang sulit sebab mungkin peningkatan orang dengan terpapar dan makin banyak orang yang melakukan isolasi mandiri. Artinya persediaan oksigen harus menyediakan sendiri.

“Rumah sakit gak mungkin melayani, puskesmas juga tak punya sarananya, ” membuka Nang, saat dihubungi Sabtu (03/07).

oksigen

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Selain sulit, taat Nang, harganya pun naik dua kali lipat.

Untuk isi ulang, yang biasanya Rp25. 000 tenggat Rp30. 000 per meter kubik, menjadi Rp50. 000 per meter kubik.

Belum lagi jika mengambil satu set tabung oksigen yang harganya melonjak tajam hingga Rp1, 8 juta.

Nang meminta pihak berkuasa segera mengatasi persoalan itu.

“Apakah pemerintah menyediakan atau membantu distribusi, itu perlu. Minimal informasi bahwa di sini ada (isi ulang oksigen) 24 jam. Saya pikir itu belum ada, padahal itu sangat strategis dan kalau tak tertangani kebutuhan oksigennya mampu fatal, ” ujarnya.

Pemerintah Kota Bandung jamin sediaan oksigen aman

Terkait perkara itu, pemerintah Kota Bandung memastikan pasokan oksigen terpenuhi bagi rumah sakit.

“Intinya kita alokasi oksigen ini tadinya 75% buat industri dan 25% buat medis, sebelum pandemi. Sekarang pada saat Juni bertukar total 95% untuk medis. Jadi industri hanya diisikan 5%, ” kata Besar Dinas Perdagangan dan Industri Kota Bandung, Eli Wasliah.

Namun, Eli tidak meniadakan pasokan oksigen sempat terhenti beberapa hari ke belakang dikarenakan masalah distribusi.

Sementara, pasokan oksigen untuk pasien yang isolasi mandiri, Eli mengakui hal itu belum menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung, lantaran pasien yang isolasi mandiri adalah penderita OTG dan bergejala kecil sehingga dianggap tidak membutuhkan oksigen.

Tetapi melihat kondisi banyaknya pasien isolasi mandiri yang mengalami penuh napas dan tidak bisa dirawat karena terbatasnya kapasitas rumah sakit, Eli mengucapkan, pemerintah akan mengkaji beberapa opsi.

“Ini sesuatu yang luar biasa akhir-akhir tersebut. Kemarin memang kami komitmennya memprioritaskan rumah sakit serta puskesmas. Persepsi kita yang di rumah itu yang OTG dan gejala rendah, kemungkinan sedikit yang kemaluan oksigen karena yang sedangkan dan berat dibawa ke rumah sakit, ” sekapur Eli.

OKSIGEN

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Ia meminta masyarakat untuk langsung pergi ke agen ketika membutuhkan oksigen.

“Sejauh ini sediaan aman. Jadi kalau sungguh sangat terpaksa, bisa langsung ke agen atau ke filling station (stasiun pengisian oksigen), kalau memang datang di pengecer sulit.

“Ini yang memang belum diatur Disdagin (Dinas Perdagangan dan Industri) dengan filling station (mengenai distribusi) datang ke pasien isolasi mandiri di rumah-rumah, ” ujarnya.

RSUD pada Pamekasan tak lagi mampu tampung penderita baru

Lonjakan kejadian Covid-19 juga terjadi dalam Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

“Kami sudah over kapasitas. Sampai sekarang ini kami sudah membuka 88 bed, penuh. Awalnya 14, kami tambah lagi, tambahan 8, tambah 20 datang terakhir punya kapasitas bed 88, ” ungkap Kepala Tim Penanganan Pasien Covid-19 RSUD Smart Pamekasan, Syaiful Hidayat, kepada Mustopa, kuli di Madura yang mengadukan untuk BBC News Nusantara.

Sebenarnya, kata Syaiful, tenda darurat awalnya didirikan buat menggantikan fungsi Instalasi Rawan Darurat (IGD) karena ruang IGD sudah dimodifikasi jadi ruang isolasi untuk penderita Covid-19.

Namun, dalam perkembangannya, tenda darurat digunakan untuk menampung pasien Covid-19 dengan menunggu giliran masuk ke ruang isolasi.

“Tiap hari yang datang banyak, 10 sampai 15 pasien Covid-19, antrean banyak, ” tambahan dokter spesialis paru tersebut.

Bahkan, menurut Syaiful, pihak RSUD terpaksa menolak kira-kira pasien yang hendak dirujuk karena sudah tidak bisa menampung.

covid

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Oleh karena tersebut, dia mendorong agar Satgas Covid-19 atau Dinas Kesehatan setempat untuk mendirikan vila sakit lapangan.

“Seperti pada Jakarta ada Wisma Atlet, di Surabaya ada rumah sakit Indrapura, karena nggak mungkin kalau mengandalkan RSUD, jebol ini, 88 bed itu sudah penuh, ” tegas Syaiful.

Ketersediaan oksigen di RSUD Smart Pamekasan masih cukup karena punya mesin sendiri. Namun, seiring penambahan kasus, stoknya diperkirakan semakin menipis.

Lebih jauh, Syaiful mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Kabupaten Pamekasan lebih berat dari aliran pertama.

Sebab, kebanyakan pasien yang dirawat dalam RSUD Smart Pamekasan terpapar virus varian baru yaitu Varian Delta, seperti dengan terjadi di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

“Kalau patuh saya virus ini benar ganas sekarang, lebih mengandung dari yang dulu, varian baru, varian delta, pas dengan Bangkalan karena saya satu pulau, ” sendat Syaiful.

Pasien yang dirawat usianya juga beragam berangkat dari 35 sampai 80 tahun.

Rata-rata sejak mereka masih punya hubungan keluarga, seperti pasangan suami istri, pengampu dan anak, bahkan adik-kakak.

pamekasan

Sumber gambar, KURUN FOTO

Direktur Istimewa RSUD Smart Pamekasan, Farid Anwar, menekankan agar pengerjaan kasus Covid-19 tidak hanya dibebankan kepada rumah lara.

“Berapa pun awak sediakan tabung oksigen, berapa tempat tidur yang saya sediakan, kalau hulunya dibiarkan, mulai dari pencegahannya, penegakan disiplin protokol kesehatan, jika dibiarkan, ambyar hilirnya, ” tandas Farid.

Sementara itu, Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Pamekasan belum punya muslihat khusus untuk menekan lonjakan kasus di wilayah tersebut.

Satgas hanya menyelenggarakan instruksi Presiden Republik Nusantara terkait Pemberlakuan Pembatasan Kesibukan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Tentunya harus bekerjasama, bersinergi secara semua pihak, termasuk kelompok karena salah satu kunci keberhasilan penanganan Covid-19 merupakan kebersamaan, ” jelas Humas Satgas Covid-19 Kabupaten Pamekasan, Sigit Priyono.

Pemerintah minta dukungan swasta

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui saat itu sistem pelayanan kesehatan Nusantara ada di level ‘terbatas’.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Departemen Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan kondisi ini ditunjukkan dengan penuhnya tingkat keterisian rumah sakit hingga sulitnya warga mendapatkan ruang pembelaan Covid-19.

“Jadi kalau kita lihat kapasitas responsnya itu terbatas karena transmisinya luar biasa dan kapasitas respons ini harus dioptimalkan ataupun kurang memadai ya, karena kita lihat banyak vila sakit penuh dan masyarakat susah untuk mendapat perawatan, ” terang Nadia pada wartawan Nurika Manan dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (04/07).

Nadia pun membeberkan, saat tersebut rata-rata tingkat keterisian vila sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) pasien Covid-19 secara nasional ada dalam atas 75 persen.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang pemisah aman BOR di angka 60 persen.

Rs darurat

Sumber gambar, KURUN FOTO

Itu perdana perkara keterisian tempat tidur untuk ruang isolasi serta ruang perawatan insentif (ICU).

Nadia menuturkan, kedudukan tak kalah genting terjadi di penanganan kegawatdaruratan.

“Itu yang antre banyak sekali. Karena pasien yang datang itu bersamaan dan dalam jumlah yang banyak, jadi dasar sudah over capacity buat penanganan, ” ujarnya.

Nadia mengaku pemerintah tak lagi sanggup mengupayakan ketersediaan tempat tidur ini seorang diri.

“Kami minta pertolongan RS Swasta harus mau untuk membantu kita buat bersama-sama, jadi jangan sampai ada masyarakat yang tertolak dalam situasi seperti ini, ” tutur dia.

Ia mengatakan, situasi lonjakan itu masih akan dihadapi Indonesia setidaknya dalam dua pekan ke depan.

Bila biasanya rumah sakit menampung 20-30 pasien, kini dengan datang jumlahnya bisa ratusan.

“Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas hak pemerintah. Kami tahu sudah banyak rumah sakit swasta yang membantu, kami mengimbau rumah sakit swasta yang saat ini belum (membantu), mari kami minta untuk mengulurkan tangan, terutama untuk mencoba menangani pasien yang membutuhkan perawatan, ” imbuh dia lagi.

Apa penyelesaian kelangkaan oksigen?

Nadia sebab Kementerian Kesehatan masih menyambut komitmen produsen gas yang pada pekan lalu menyanggupi bakal mengalihkan kapasitas produksi gas industri menjadi oksigen medis.

“Belum konkret serupa yang kami harapkan, kira-kira sudah ada konversi (kapasitas produksi gas industri dialihkan ke produksi oksigen medis) tapi terlalu kecil. Kita mengharapkan kurang lebih 40-50 persen dari kapasitas pabrik gas nasional diberikan buat sektor kesehatan, ” kata Nadia.

gas

Sumber gambar, Antara foto

Pasalnya dia mengungkapkan dengan kasus Covid-19 dengan berlipat ini Indonesia setidaknya membutuhkan tiga hingga 4 kali lipat dari hajat normal.

“Rata-rata kebutuhan oksigen kita itu hanya perut sampai empat ton bagi hari, tapi saat tersebut sudah hampir kebutuhannya mampu sampai 10 ton bola lampu hari untuk seluruh Nusantara.

“Sementara kapasitas produksi kita masih berbagi untuk pemenuhan oksigen kesehatan & gas industri, ” cakap Nadia mengilustrasikan kebutuhan oksigen saat ini.

Selain menagih janji produsen gas, Nadia juga mengimbau warga untuk tidak panik sehingga menimbun tabung oksigen dan oksigen.

Ia menganjurkan terapi penderita Covid-19 harus di bawah pengawasan dokter.

“Kami minta masyarakat juga jangan panic buying karena oksigen yang terbatas ini kalau bisa kita fokuskan dulu untuk pembelaan di rumah sakit.

“Kalau masyarakat menyimpan stok tabung dan oksigen, oleh sebab itu kita akan mengalami kelangkaan, ” kata Nadia.

Wartawan di Bandung, Yuli Saputra; wartawan di Solo, Fajar Sodiq; dan wartawan di Madura, Mustopa, berkontribusi dalam artikel ini.