Covid-19: Mengapa Secapa AD masih gelar pembelajaran tatap muka?

6 jam yang lalu Sumber gambar, Yuli Saputra Penularan Covid-19 di institusi pendidikan militer Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat (Secapa AD) dan Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD menjadi pancaran. Lebih dari 1. 300 karakter dikonfirmasi positif Covid-19 dan berisiko menularkannya pada masyarakat di kira-kira sekolah.

Covid-19: Mengapa Secapa AD masih gelar pembelajaran tatap muka?

Penularan Covid-19 di institusi pendidikan tentara Sekolah Calon Perwira TNI Legiun Darat (Secapa AD) dan Sentral Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD menjadi sorotan. Bertambah dari 1. 300 orang dikonfirmasi positif Covid-19 dan berisiko menularkannya pada masyarakat di sekitar sekolah.

Pengamat militer Universitas Padjajaran, Muradi mencurigai penularan yang terjadi institusi pendidikan militer seolah-olah Secapa AD sebagai indikasi adanya ‘pelanggaran’.

“Di Secapa saya terjaga karena yang kena hampir semua pasis (perwira siswa), artinya ada penularan yang sistematis, ada pengangkut virus yang sistematis, ” sekapur dosen tamu di sejumlah madrasah militer dan polisi ini.

Sementara Besar Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa menyatakan telah menerapkan protokol kesehatan di seluruh lembaga pendidikan militer di Indonesia, semenjak Maret lalu. Namun, menurutnya, banyak faktor penyebab yang bisa mencetuskan kasus positif corona di adat pendidikan militer.

“Saya tidak akan rangah tahu untuk menentukan sumbernya tersebut dari mana karena begitu banyak kemungkinan dan variabel. ”

Yang pasti, menyusul terungkapnya klaster Secapa AD di Bandung, Jawa Barat, 500 warga kota Bandung, Jawa Barat diminta menjalani uji usap ( swab test ) untuk memastikan tak ada penularan Covid-19 di luar kompleks lembaga pendidikan militer itu. Demikian laporan Yuli Saputra, wartawan di Bandung, Jawa Barat untuk BBC Nusantara.

Tes ini digelar pemerintah Praja Bandung bekerja sama dengan bank pemerintah pada Sabtu (11/07).

Dibanding 500 warga yang dites, 28 orang di antaranya adalah warga kawasan Hegarmanah, kawasan sekitar pelik Secapa AD.

Sebelumnya, 21 masyarakat Hegarmanah juga sudah diminta mengabulkan tes cepat. Rencananya, Dinas Kesehatan tubuh Kota Bandung akan kembali menggelar rapid tes di sekitar Secapa AD.

Klaster Covid 19 Secapa AD menjadi viral di media baik. Bahkan muncul pesan berantai dalam aplikasi pesan singkat berisi larangan mengunjungi sebuah supermarket di wilayah sekitar Secapa AD.

“Sementara ini jangan ke toko tersebut dulu, karena di Secapa tersedia 400-an siswa yang positif corona, ” isi pesan tersebut.

Nana Jeany Suprayogi, warga Hegarmanah, merasakan tepat dampak dari munculnya kasus positif Covid-19 di Secapa AD, yang jaraknya sekitar 1, 5 kilometer dari rumahnya. Ia dan keluarga waswas tertular virus corona. Tapi di sisi lain, keluarganya “dijauhi” kerabat karena kuatir menularkan virus itu.

“Keluar rumah jadi takut. Tapi, keluar rumah juga malah kita yang ditakuti, seolah kita maka pembawa virus. Udah mah kitanya enggak jelas, enggak ada maklumat (dari aparat setempat) kita kudu gimana. Kita juga merasa kewaswasan orang terhadap kondisi kita, dan mereka juga sepertinya menghindari ketemu kita. Itu jadi bikin prihatin juga, ” ungkap perempuan 46 tahun ini.

Nana menyebutkan, ada sejumlah warga Hegarmanah yang mengungsi, terutama yang tinggal di dalam komplek Secapa AD. Masjid dalam lokasi tersebut juga kembali ditutup.

“Kayak teman aku yang punya budak di kompleks Secapa, keluarganya udah dipindahin, ” kata Nana.

Tapi, hingga Sabtu (11/07), Nana belum melihat ada penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro, PSBM di wilayah Hegarmanah seperti yang disebutkan Wali Praja Bandung, Oded M. Danial kurang waktu lalu.

Seluruh akses masuk ke Hegarmanah masih dibuka, melainkan akses menuju Secapa AD yang sedang melaksanakan karantina wilayah.

Tidak seperti Nana, Lili Koswara justru berpose biasa saja menanggapi kasus tentu Covid 10 Secapa AD.

“Biasa-biasa saja. Kekhawatiran pasti ada, tapi enggak terlalu serius. Semua orang pasti kekhawatiran (tertular) ada, ” tanggungan Lili enteng.

Apalagi, kata Lili, status di Secapa AD juga terlihat aman-aman saja. Bahkan saat kunjungan KSAD TNI, Jenderal Andika Berani, warga diperbolehkan masuk ke pelik Secapa untuk berjualan. Padahal, kompleks Secapa AD termasuk zona merah yang sedang melaksanakan karantina wilayah.

“Lihat di Secapa-nya sendiri aman-aman selalu. Seperti tadi, ada acara ramai-ramaian, bahkan yang jualan diperbolehkan ke sana. Makanya, kalau khawatir, sepotong mananya. Tapi jaga-jaga harus. Warga yang masuk tetap pakai kedok, protokolnya tetap dipakai, ” ujar Lili.

Lili, Ketua RW 08 Kelurahan Hegarmanah, mengimbau warga untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Ia juga sudah meminta sejumlah warga mengikuti tes cepat dan uji usap yang difasilitasi pemerintah kota Bandung.

“Ada 18 orang yang ikut ulangan. Sepuluh orang rapid tes t , delapan swab . Senin besok juga diminta 20 orang ikut tes di NHI (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung), akan tetapi baru dapat lima orang. Awak ada yang mau (ikut tes), ada yang enggak. Alasannya sebab kerja, ” ujar Lili Koswara.

Sejauh ini, Lili belum menerima informasi ada warganya yang positif Covid-19.

Penyelidikan epidemiologis terkait kasus nyata Covid 19 di Secapa AD telah dilakukan pada tanggal 29 Juni dan 7 Juli 2020 berupa uji usap massal serta pelacakan kontak. Namun, sumber penularan masih belum diketahui.

“(Pelacakan kontak) kami sudah lakukan sehingga begitu dilaporkan ada dua positif Covid-19, tepat kami rapid test semua. Ini salah satu usaha. Kita tak mau ambil risiko. Kita memeriksa semuanya yang bergaul dengan (yang positif) ini, ” kata KSAD Jenderal Andika Perkasa.

Tersedia indikasi pelanggaran

Selain Secapa AD, urusan positif Covid 19 juga ditemukan di Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) Kodiklat TNI AD di Kota Cimahi dengan jumlah 101 orang prajurit positif Covid-19, terdiri dari 25 orang staf serta anggota Pusdikpom dan 76 orang siswa.

Pada bulan April sempat juga terjadi penularan Covid-19 di Madrasah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri dalam Sukabumi. Saat itu 300 orang siswa dinyatakan positif corona sesudah menjalani tes cepat

Munculnya klaster Covid 19 di sekolah-sekolah kedinasan pada Jawa Barat menimbulkan pertanyaan melanggar penerapan protokol kesehatan dalam menyekat penularan virus corona di madrasah kedinasan itu.

KSAD Jenderal Andika Perkasa mengaku telah menerapkan adat kesehatan di seluruh lembaga pendidikan militer di Indonesia, sejak Maret lalu. Namun, menurutnya, banyak ciri penyebab yang bisa mencetuskan kejadian positif corona di institusi pendidikan militer.

Dia berkata, misalnya, di Secapa AD, para siswa sulit menerapkan protokol kesehatan secara saksama lantaran tinggal dalam satu tangsi. Ada 29 barak untuk menampung 1198 perwira siswa.

“Ini adalah pelajaran bagi kami. Kita telah lakukan beberapa evaluasi, termasuk semakin sering lakukan penyemprotan disinfektan, tidak hanya di luar, tapi juga ke dalam ruangan. Itulah lengah satu cara, walaupun dengan cara itu pun kita tidak bisa menjamin bahwa kita tidak bakal pernah kena kasus Covid, ” ungkapnya.

Tapi, pengamat militer, Muradi menghargai ada indikasi pelanggaran terkait munculnya kasus positif di lembaga pelajaran militer.

“Ada sesuatu yang dilanggar, ” kata Muradi melalui sambungan telepon, Sabtu (11/07).

Sesuatu yang dilanggar tersebut, kata Muradi, adalah arahan kepala untuk melaksanakan bekerja di panti dan belajar di rumah yang diterapkan selama pandemi Covid 19.

“Kan dari awal sudah ditegaskan kalau semua itu dalam posisi work from home dan studying from home . Saya mengajar di Sesko AD, Sesko TNI memang pakai Zoom. Jadi aku agak terkejkut di Secapa masih terjadi begitu (belajar tatap muka). ”

“Makanya, kalau tiba-tiba semakin besar (kasus positif corona), tersedia yang salah dalam tata kelola pengajaran dan pembinaan dalam konteks pendidikan. ”

“Di Secapa saya termenung karena yang kena hampir seluruh pasis (perwira siswa), artinya ada penularan yang sistematis, ada carier yang sistematis, ” kata dosen tamu di sejumlah sekolah tentara dan polisi ini.

“Kalau buat kami sebenarnya ada yang salah, apakah kemudian itu modelnya inisiatif, pada luar yang sudah diarahkan oleh presiden, Panglima, atau Kapolri. ”

Muradi menduga, ada dua hal dengan memicu pelanggaran tersebut, yakni keterbatasan sumber daya manusia atau infrastruktur yang tidak memadai untuk menjadikan pembelajaran daring di Secapa AD dan Pusdikpom TNI AD.

“Saya memperhitungkan ada dua, pertama soal keahlian sumber daya manusia untuk mengoperasikan belajar dari rumah, yang ke-2 kesiapan infrastruktur. Makanya, mereka mendesak pascalebaran bertemu. ”

“Kalau hitung pandeminya 14 hari tambah 14 hari, sudah satu bulan mereka bergabung, artinya pertengahan Juni sudah menghunjam, kumpul lagi dan sebagainya, ” kata Muradi.

Kemampuan sumber daya bani adam yang dimaksud Muradi adalah keterbatasan para siswa Secapa AD menyerap materi pendidikan secara daring.

Di lain pihak, mereka tidak mempunyai daya tawar untuk menolak penelaahan tatap muka. Menurut Muradi, pertandingan untuk menjadi seorang perwira berlangsung sangat ketat, baik di kebiasaan TNI ataupun Polri.

“Secapa ini bintara yang mau jadi perwira. Itu betul-betul ditempa, upayanya begitu luar biasa. Kalau tiba-tiba sudah puluhan tahun jadi bintara, kemudan ada kesempatan sekolah, saya akan perjuangkan betul. Apalagi di TNI tersedia bottle neck , yang lolos sedikit. ”

“Saya memahami psikologis mereka. Kalau ditakut-takuti, yang tidak datang akan dicoret, penukar yang baru, mau apa? ”

“Kan antre. Mereka harus menghabisi sekian ribu calon untuk lulus menjadi sekitar 900 orang bahan perwira. Ini pertaruhan luar berpunya. Ketimbang dicoret ganti yang terakhir, mulai dari nol lagi, ” tutur dosen ilmu politik program pascasarjana Universitas Padjajaran ini.

Muradi meyatakan KSAD yang bertanggung pikiran atas izin pembelajaran tatap muka.

“KSAD, dia yang menandatangani, memberikan rekomendasi dan izin untuk (pembelajaran tatap muka). Langkah Andika nisbi baik dengan mendatangi, mengunjungi Secapa dan Pusdikpom TNI AD. Tersebut suatu bentuk pengakuan dia bersalah, ” kata Muradi.

Sementara KSAD Jenderal Andika Perkasa menyebutkan, aktivitas dalam sekolah kedinasan seperti Secapa AD juga dipengaruhi oleh kebijakan negeri daerah di masa pandemi Covid 19.

“Aktivitas di semua lembaga pendidikan itu bergantung pada situasi dengan diterapkan oleh pemerintah daerah. Ada daerah yang masih PSBB, tersedia yang sudah tidak, ada dengan sekarang pembatasan sosial berskala mikro dan seterusnya, ” ujar Andika.

Sedangkan mengenai sumber penularan KSAD menyatakan banyak sekali kemungkinan dan variabel sehingga sumber penularan sulit ditemukan.

Dunia Secapa AD, menurut Andika, tidak hanya dihuni oleh siswa dan staf saja, tapi juga susunan keluarga staf yang punya pekerjaan di luar kompleks Secapa AD.

Di samping itu, siswa hero memiliki hak pesiar satu keadaan dalam seminggu yang memungkinkannya berinteraksi dengan masyarakat di luar Secapa AD.

“Saya tidak akan rangah tahu untuk menentukan sumbernya tersebut dari mana karena begitu banyak kemungkinan dan variabel, ” sekapur KSAD.

Berawal dari bisul

Terungkapnya peristiwa positif di Secapa AD tersebut disebut KSAD sebagai kasus yang “diawali ketidaksengajaan. ”

Dua minggu lulus tepatnya tanggal 27 Juni 2020, dua orang perwira siswa Secapa AD di Kota Bandung berobat ke Rumah Sakit Dustira dalam Kota Cimahi. Satu orang siswa mengalami demam karena bisul dalam tubuhnya, sedangkan seorang lagi menjalani gangguan di tulang belakangnya.

Sebati protokol saat pandemi Covid-19, kedua siswa itu harus menjalani uji usap. Dua prajurit TNI AD itu lantas dinyatakan positif Covid-19.

Andika mengklaim, sejak mendapat laporan urusan positif pertama itu, dia tepat memerintahkan tes cepat massal bagi siswa, staf dan pelatih. Tempat berkata saat itu mengirimkan 1400 alat tes. Hasilnya uji massal itu, 187 orang dinyatakan reaktif.

Buat hasil yang lebih akurat, mereka menggelar uji usap. Dari penjagaan itu ditemukan 1. 280 urusan positif Covid-19.

“Dari jumlah itu 991 adalah perwira siswa, sedangkan sisanya, adalah staf anggota dari Secapa AD beserta keluarganya. Ada enam orang anggota keluarga diantara 289 itu, ” kata Andika zaman jumpa pers di Makodam III Siliwangi, Jalan Aceh Kota Bandung, Sabtu (11/07).

Awalnya, ada 30 orang yang dirawat di RS Dustira. Yang menjalani rawat inap kini tinggal 17 orang dan mulia di antaranya telah dinyatakan minus.

Sementara seribu lebih orang lainnya diminta menjalani isolasi di lingkungan Secapa AD. Kawasan pendidikan itu ditutup untuk karantina sejak dinyatakan sebagai klaster Covid-19.

“Semua masuk kategori ringan, bahkan tidak ada bagian sedang, apalagi berat, ” ungkap Andika, mantan Pangkostrad.