Afghanistan: Kehidupan di Ibu Kota Kabul setelah dikuasai Taliban, lengang, perempuan masih beraktifitas di luar, sebagian warga menyapa milisi

17 Agustus 2021, 17: 49 WIB Taliban merebut dan menguasai ibukota Afghanistan, Kabul, pada 15 Agustus lalu atau 20 tahun setelah mereka digulingkan Amerika Serikat dan sekutunya dari kekuasaan. Seperti barang apa kehidupan di kota itu setelah dikendalikan Taliban?

afghanistan-kehidupan-di-ibu-kota-kabul-setelah-dikuasai-taliban-lengang-perempuan-masih-beraktifitas-di-luar-sebagian-warga-menyapa-milisi-18
  • Malik Mudassir
  • BBC News, Kabul

Taliban merebut dan menguasai ibukota Afghanistan, Kabul, pada 15 Agustus lalu atau 20 tahun setelah mereka digulingkan Amerika Serikat dan sekutunya dari kekuasaan. Seperti apa kehidupan di kota itu setelah dikendalikan Taliban?

Pasukan Taliban ada di berbagai titik di Kabul, termasuk di pos-pos penelitian yang dulunya merupakan perintang polisi atau tentara Afganistan.

Kepanikan tidak begitu terlihat di Kabul, Senin (16/08). Ini berbeda dengan kepala hari sebelumnya,

Pada Selasa (17/08), jalan-jalan masih ringan, sangat sedikit kendaraan di jalan raya.

Warga takut dan ngerasa kondisi dapat berubah menjelma buruk kapan saja, maka mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Kondisi di tengah kota Kelulusan ini sangat berbeda secara bandar udara, tempat banyak orang berbondong-bondong dan mencoba mengalpakan Afghanistan.

Di sejumlah lokasi, pasukan Taliban mengatur cerai-berai lintas. Mereka menggeledah mobil, terutama kendaraan yang dulunya milik polisi dan tentara.

Mereka telah mengambil semua kendaraan itu serta menggunakannya.

Kalaupun ada karakter yang mengaku Taliban mengendarai kendaraan itu, dia langgeng dihentikan di pos penelitian. Pasukan Taliban berkata kepada kami bahwa mereka mau memastikan para pengendara itu bukan penjarah atau pencuri yang menyamar sebagai bagian Taliban.

Sementara itu yang terjadi di bandara merupakan sebuah ‘bencana’. Ada banyak keluarga, terdiri dari anak-anak, orang tua, orang bujang, semuanya berjalan di sabuk pesawat sepanjang dua kilometer.

Mereka berjuang melarikan muncul dari Afganistan. Sebagian tumbuh dari mereka hanya menunggu, di sekitar bandara. Jumlah mereka lebih dari 10. 000 orang.

Dalam dekat gerbang masuk pati bandara, pasukan Taliban dengan senjata berat terlihat mencoba membubarkan kerumunan dengan menujukan ke udara.

Orang-orang yang ingin masuk lalu memanjat tembok, gerbang, bahkan kawat berduri. Setiap orang mendorong untuk masuk.

Sumber tulisan, Reuters

Kami berbicara dengan seorang saksi mata dengan terjebak di bandara pada hari Minggu lalu. Dia memiliki jadwal penerbangan ke Uzbekistan, tapi pesawat tersebut batal terbang.

Para pimpinan dan karyawan bandara telah kabur dari wadah kerja mereka.

Orang-orang sampai ke bandara tanpa tiket atau paspor. Mereka berpikir bisa naik pesawat apa saja dan bisa amblas ke tempat lain dalam dunia, kata seorang bukti mata.

Ribuan orang terperangkap di dalam bandara, minus makanan atau air. Tersedia banyak perempuan, anak-anak, serta difabel.

Pusat kota tenang

Namun jika Anda pergi ke was-was Kabul, kehidupan tampak wajar. Lalu lintas terlihat lengang. Sebagian besar toko menutup.

Sumber gambar, Getty Images

Meski begitu, masyarakat tampak jauh lebih hening daripada hari-hari sebelumnya, saat banyak orang terlihat sangat marah. Ketika itu berlaku kemacetan yang parah.

Sumber gambar, Getty Images

Beta hanya melihat beberapa rani di jalan, beberapa lantaran mereka berjalan tanpa pendamping. Beberapa perempuan mengenakan burka biru, tapi saya pula melihat beberapa mengenakan kedok wajah dan jilbab. Dan pasukan Taliban terlihat tidak mengusik mereka.

Pada jalanan sama sekali tidak terdengar alunan musik. Lazimnya hotel memainkan musik, tapi itu tak terjadi lagi. Staf hotel terlihat curiga.

Sumber gambar, Getty Images

Namun, kota ini sedang terus berjalan. Nuansanya mati. Saya belum berbicara secara banyak penduduk, tapi sopir taksi lokal yang mengantar saya berkata dia tak ambil pusing soal Taliban yang kini menguasai negeri.

Sumber gambar, Getty Images

Anehnya, saya melihat orang-orang menyapa milisi Taliban. Mereka antara lain mengatakan, “Halo, lebih banyak kekuatan untuk Anda, semoga berhasil”.

Pasukan Taliban juga tampak senang. Saya berbicara dengan kurang dari mereka, termasuk yang sedang berpatroli.

Ana mencoba masuk ke istana kepresidenan tapi mereka tidak mengizinkan kami. Mereka sejumlah kami butuh izin dari komando yang lebih mulia. Namun para milisi yang saya lihat itu ramah kepada kami.

Saya sesungguhnya agak takut kemarin, bingung akan terjadi kekerasan & hal-hal lainnya. Tapi untungnya tidak terjadi apa-apa.

Kota ini begitu sunyi dan tenang. Saya tak percaya bahwa kekuasaan atas ibu kota Afganistan tersebut telah berpindah tangan setelah 20 tahun. Semuanya sejenis sunyi.