Zoomer alias Generasi Z: Siapa itu dan mengapa mereka ‘membuat Donald Trump sakit kepala’

Tim sukses Donald Trump pekan lalu mengira bakal mencetak rekor jumlah pendukung terbanyak dengan hadir dalam sebuah kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Namun, dengan terjadi justru sebaliknya. Pada 20 Juni lalu, dari total 19 ribu bangku di arena kampanyenya di Tulsa, Oklahoma, hanya kepala pertiga saja yang terisi.

Tim sukses Donald Trump pekan lalu menyangka bakal mencetak rekor jumlah pendukung terbanyak yang hadir dalam sebuah kampanye pemilihan presiden Amerika Konsorsium.

Namun, yang berlaku justru sebaliknya. Pada 20 Juni lalu, dari total 19 seperseribu bangku di arena kampanyenya pada Tulsa, Oklahoma, hanya satu pertiga saja yang terisi.

Belakangan muncul kabar, kampanye Trump itu sepi karena pengaruh sekelompok muda-mudi pecinta K-Pop dan orang muda yang aktif di TikTok.

Melalui media sosial TikTok, muda-mudi itu meyakinkan kawan-kawan mereka untuk mendaftar ke manuver Trump–bukan untuk benar-benar hadir, akan tetapi mengelabui calon presiden dari Kelompok Republik tersebut.

Soal bangku-bangku kosong itu, tim sukses Trump menyalahkan media massa dan pedemo yang berunjuk rasa di sungguh arena kampanye.

Orang-orang di balik Trump mengklaim, pembantu muda mereka tidak terpengaruh status yang terjadi.

Tetapi perbincangan publik kini berfokus tentang bagaimana para muda-mudi penggila irama pop Korea terlibat dalam cara mengelabui Trump.

Kejadian di Tulsa itu juga dikenal sebagai cermin seberapa besar gaya zoomer alias generasi Z. Klan demografi baru ini diyakini bahan membuat Trump dan banyak politikus lainnya pening.

Siapakah zoomer?

Ini adalah panggilan untuk Generasi Z pedengan orang-orang yang lahir pada pertengahan dekade 1990-an hingga awal tarikh 2010-an. Rentang waktu lahir tingkatan ini masih menjadi perdebatan akademis.

Terminologi zoomer berselirat dengan boomer, panggilan untuk orang-orang yang lahir antara tahun 1944 dan 1964.

Mengapa zoomer penting?

Generasi Z menguasai dunia dalam konteks jumlah. Beberapa penelitian menyebut mereka adalah populasi terbesar saat ini, sekitar 32% dari total penduduk negeri.

Walau generasi milenial yang lahir antara 1981-1996 sedang menjadi kelompok orang dewasa terbesar di dunia. Menurut Bank Negeri, 41% angkatan kerja dunia saat ini diisi oleh zoomer.

Apakah zoomer benar-benar berbeda?

Menurut sejumlah sosiolog, Generasi Z unggul dalam beberapa hal.

Perihal yang paling penting adalah bahwa mereka merupakan generasi pertama yang ‘terlahir digital’. Artinya, mereka datang ke dunia yang secara cepat berubah karena permutasi teknologi seperti internet.

Faktanya, di seluruh dunia, zoomer adalah kelompok orang yang memutar intensif menggunakan media sosial. Mereka mengalahkan milenial soal jumlah tanda dalam sehari untuk mengakses bermacam-macam platform tersebut.

Suatu kajian menunjukkan, hampir 60% zoomer menggunakan media sosial sebagai sumber utama meraih berita.

Penelitian mengindikasikan bahwa zoomer bertambah berpeluang mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi ketimbang generasi sebelum itu.

Seperti milenial, zoomer juga tidak malu terlibat di aktivisme. Mereka bahkan terjun dalam usia yang lebih awal ke pergerakan sosial.

Dalam tahun 2018, jajak pendapat dalam Inggris menunjukkan bahwa zoomer perut kali lebih mengedepankan konsep konsumerisme etis daripada milenial.

Besar aktivis paling terkenal dari tingkatan ini adalah pemenang Nobel Perbaikan asal Pakistan, Malala Yousafzai (22 tahun) dan aktivis lingkungan sebab Swedia, Greta Thunberg (16), dengan memenangkan Tokoh Tahun 2019 ragam Majalah Time.

Apakah zoomer lebih beragam?

Ini merupakan fakta di sebesar negara. Sepanjang sejarah Amerika Serikat, zoomer adalah kelompok yang menyesatkan beragam dari segi etnis.

Tahun 2019, lembaga kajian Pew Research Centre memperkirakan 52% zoomer di AS berkulit suci. Sementara pada populasi AS dengan keseluruhan, persentase kelompok kulit suci mencapai 60%.

Zoomer juga semakin beragam di penuh negara yang kedatangan imigran sepanjang dua dekade terakhir.

Apakah zoomer lebih toleran daripada tingkatan sebelumnya?

Salah utama survei tentang zoomer yang paling dibicarakan dilakukan Varkey Foundation tarikh 2016. Badan amal pendidikan itu mewawancarai 20 ribu orang yang berusia 15-21 tahun di 20 negara di lima benua bertentangan.

Hasil jajak teori itu memperlihatkan berbagai sudut tatapan Generasi Z terkait sejumlah isu.

Mereka sangat menunjang kesetaraan gender (89%), hak untuk aborsi (63%), dan pernikahan sesama jenis (63%)–walau ada variasi bagian yang tajam di beberapa daerah.

Di sisi lain, hanya 31% zoomer di inspeksi itu yang yakin bahwa imigran harus mendapat peluang yang bertambah besar untuk bekerja dan tinggal secara legal di negara mereka.

Bagaimana tentang kebijakan?

Apakah Generasi Z yang sangat menggilai teknologi lebih terlibat dalam aktivitas politik?

Sebagian besar zoomer di GANDAR belum menentukan sikap mereka.

Kelompok pemilih berusia 18-29 tahun pada Pilpres AS merupakan yang paling sedikit menggunakan bahana mereka.

Di Pilpres AS tahun 2016 yang dimenangkan Trump, hanya 50% zoomer yang menggunakan hak pilih.

Sementara itu, zoomer dengan menggunakan suara meningkat dalam pemilu paruh waktu meningkat dari 20% pada 2014 menjadi 36% tarikh 2018.

Akademisi menilai perbedaan persentase itu dipengaruhi seberapa banyak zoomer yang telah mencapai batas usia pemilih.

Pemilih muda berada di pulih sejumlah perubahan politik, seperti terpilihnya Alexandria Ocasio-Cortez (30 tahun) menjelma anggota perempuan termuda yang sudah duduk di Kongres AS.

Tidak mengherankan bahwa Ocasio-Cortez memuji zoomer yang berperan melaksanakan Trump malu soal kampanye di Tulsa, akhir pekan lalu.

Pada Pilpres AS tahun 2016, hanya 37% pemilih muda yang memilih Trump. Tengah kandidat lainnya, Hillary Clinton, meraih 55% suara muda-mudi.

Namun banyak kalangan menilai anggapan bahwa zoomer cenderung berpikiran ‘kiri’ sebagai sesuatu yang keliru.

Dari total suara Jair Bolsonaro yang memenangkan Pilpres Negeri brazil tahun 2018 misalnya, 60% pada antaranya berasal dari pemilih berumur 18-24 tahun.

Sementara itu, walau politik dan penggemar K-Pop sepertinya bukan perpaduan yang wajar, keberadaan muda-mudi itu dalam internet menunjukkan kedekatan mereka secara isu sosial serta politik.

Begitu pula kontribusi mereka pada kerja sosial yang berlaku belakangan ini.

Di tengah protes menentang rasisme & brutalitas polisi, kelompok pecinta K-Pop muncul sebagai sekutu dekat tindakan Black Lives Movement. Mereka menahan dana dan menggerakan orang pada seluruh dunia melalui media baik.

Dengan basis penggemar yang terus membesar di berbagai negara, kehadiran penggemar K-Pop pada isu politik akan semakin diperhitungkan.

Dan mereka sepertinya akan membuat Trump beserta politikus lainnya pening.