WNI di Afghanistan dievakuasi menuju Indonesia – Taliban berpengaruh, ‘seluruh penduduk panik’

Diperbarui 20 Agustus 2021 Sumber gambar, Reuters Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memastikan bahwa Warga Negara Indonesia (WNI) telah dievakuasi dari Kabul, Afghanistan. Mereka akan muncul di Indonesia dalam penerbangan dari Afghanistan melalui Pakistan.

wni-di-afghanistan-dievakuasi-menuju-indonesia-taliban-berkuasa-seluruh-penduduk-panik-24

Sumber gambar, Reuters

Menteri Luar Kampung Retno Marsudi memastikan bahwa Warga Negara Indonesia (WNI) telah dievakuasi dari Kabul, Afghanistan. Mereka akan tiba di Indonesia dalam penerbangan dari Afghanistan melalui Pakistan.

“Alhamdullilah, Pemerintah Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan dengan pesawat TNI AU. Pesawat saat ini sudah beruang di Islamabad untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia. ” ungkap Menlu Retno Marsudi dalam akunnya di Twitter Jumat siang (20/08).

Menlu melanjutkan bahwa tim evakuasi membawa 26 WNI, tercatat staff KBRI, 5 WN Filipina, dan 2 WN Afghanistan (suami dari WNI dan staff lokal KBRI).

Sebelumnya seorang WNI yang berada di Kabul berkisah tentang apa yang ia saksikan saat Taliban menguasai ibu kota Afghanistan, iklim yang ia sebut “terjadi kepanikan dan ketakutan”.

Terkait pemerintahan Afghanistan setelah dikuasai Taliban, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan ‘prosesnya masih sangat cair’ dan masih akan menunggu perkembangan selanjutnya.

Pengkaji Politik Timur Tengah dibanding LIPI, Nostalgiawan Wahyudhi menghargai langkah itu sudah benar dengan tak gegabah mengesahkan maupun sebaliknya, menolak pemerintahan baru bentukan Taliban.

Kesaksian seorang WNI yang tak ingin namanya disebut demi alasan ketenangan menggambarkan suasana di Ibukota Afghanistan, Kabul pada Minggu (15/08) sebagai sebuah status ‘belingsatan’. Manusia berhamburan dalam jalanan, pengendara mobil sudah tak lagi mengikuti patokan.

Ia ingat betul, informasi siaga 1 yang dikeluarkan pihak keamanan terbit sebelum jam makan siang, sekitar pukul 10 pagi. Di beberapa menit, Kota Kabul penuh kendaraan hingga tak bisa bergerak.

“Kami mau langsung balik [pulang] itu, di jalan-jalan sudah belingsatan semuanya, mobil sudah ngebut sekencang-kencangnya nggak ngikutinarus jalan, ” rencana dia kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan, melalui sambungan telepon.

“Orang dalam jalan dengan berbagai ragam buntelan yang mereka angkat, ” sambung dia.

Sumber gambar, Getty Images

Sebelum hari penguasaan oleh Taliban tersebut tiba, ia menyuarakan kekacauan terendus beberapa keadaan sebelumnya. Antrean warga mengular di sejumlah mesin ATM, juga di bank-bank. Awak beramai-ramai menarik uang lantaran rekening masing-masing.

“Beberapa wadah penjualan bahan pokok atau sembako banyak yang menutup, harga juga naik, ” kata dia menceritakan suasana di Kabul.

“Saya 15 [Agustus] cepat masih berangkat bekerja serta melihat situasi di hidup yang luar biasa dari apa-apa yang saya sudah lihat di tahun-tahun sebelumnya, atau selama Juli, ” ungkap dia lagi.

‘Semua turun ke jalan buat kabur menyelamatkan diri, akan tetapi mau menyelamatkan diri ke mana? ‘

Ia dan rekan-rekannya, mengaku sempat kacau, setelah kekuasaan kembali anjlok ke tangan Taliban, kebengisan puluhan tahun silam mau berulang.

Apalagi menurutnya, sebagian warga Afghanistan kian gagah menunjukkan dukungan terhadap Taliban.

“Begitu tahu pasukan Taliban ada di batas susur Kota Kabul, bukan saja kami aja yang panik, semua, seluruh penduduk nanar, ” paparnya.

“Bayangin, Kelulusan itu jalan-jalannya tidak tertib, jalan-jalan kecil, jalan gede juga semrawut, jalannya pula tidak bagus. Semua mendarat ke jalan untuk kabur menyelamatkan diri. Tapi memang mau menyelamatkan diri ke mana? Sekeliling Kota Kelulusan itu sudah dikuasai sama Taliban, ” ucap dia lagi.

Usai merebut ibukota dan menduduki Istana Kepresidenan, pasukan Taliban melakukan perondaan ke rumah-rumah penduduk.

“Ya memang sih kami dicek tiap rumah, diketok pintunya, ‘bagaimana kondisinya kalian? Baik, sehat? Pihak laki-lakinya pada sini apa pekerjaannya? ‘, ” ungkap dia sambil menirukan.

“Mungkin mereka [Taliban] akan mengaduk-aduk tahu apakah penghuni dengan mereka patroli itu adalah bagian dari personel pemerintah, kayak gitu, ” berlanjut dia.

Sumber gambar, Wakil Kohsar/AFP

Tak hanya tersebut, milisi Taliban juga meluluskan senjata polisi di kantor-kantor kedutaan, perwakilan asing &, kantor badan internasional lain.

Penjagaan yang awal dilakukan personel bersenjata daripada Diplomatic Protective Services (DPS)–yang bernaung di bawah kementerian dalam negeri dan polisi–kini semuanya digantikan oleh milisi Taliban. Para petugas diminta kabur dan dibebastugaskan.

“Yang menjaga di luar pagar itu sudah bukan lagi DPS, sudah personel Taliban. Terlihat sih bedanya, tampang-tampangnya telah pejuang Taliban semua, ” paparnya.

“Dan memang mereka sudah pasti menyandang senjata laras panjang semua. Akan tetapi mereka sangat santun, tidak agresif, bahkan mereka menyembunyikan proses evakuasi dan relokasi staf organisasi internasional, ” tuturnya.

“Jadi mereka menyembunyikan akses jalan, sementara awak bersenjata NATO menjaga di gerbang di bandara, ” sambung dia lagi.

Sumber gambar, Javed Tanveer/AFP

Gelagat kisruh merapatnya warga ke Bandara Kabul sudah ia saksikan sejak 10 Agustus 2021.

Dia menuturkan, awalnya penduduk berbondong ke kantor pelayanan publik di Afghanistan untuk mendapatkan visa semenjak Juli 2021. Tapi per kedutaan memiliki keterbatasan buat memproses seluruh permohonan.

“Itulah mengapa mereka yang tamat asa akhirnya merapat ke bandara. Gimana caranya kalau perlu nyangkut ke institusi pesawat juga dikerjain, ” kata WNI ini mendongengkan kondisi di bandar suasana Kabul.

Baca pula:

Sumber gambar, WAKIL KOHSAR/AFP

Baca pula:

Langkah pemerintah Indonesia selamatkan WNI di Afghanistan

Rencana penyelamatan para WNI di Afghanistan diungkapkan Ahli Bicara Kementerian Luar Daerah Teuku Faizasyah, pada 18 Agustus lalu.

Menurutnya masa itu, sudah ada awak khusus dari unit perlindungan WNI Kemenlu yang menggodok pematangan rencana evakuasi, serupa menunggu masukan dari KBRI Afghanistan ihwal waktu yang tepat.

“Karena perkembangan pada lapangan itu harus kita yakini cukup kondusif buat bisa evakuasi, ” benar Faizasyah ketika dihubungi kuli Nurika Manan melalui sambungan telepon.

Sumber gambar, AFP

Misalnya, lanjut dia, menetapkan kondisi dan tingkat kegiatan di Bandara Kabul melalaikan komunikasi dengan pihak Amerika Serikat dan NATO sebagai pengelola bandara. Selain tersebut KBRI Afghanistan juga sedang berkomunikasi dengan berbagai bagian guna memastikan jaminan kesejahteraan bagi WNI.

“Dan faktanya memang pemerintahan sebelumnya sudah tidak berfungsi di kian, sehingga itulah yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian dan upaya khusus dari teman-teman di KBRI, ” terang Faizasyah.

Tetapi dia memastikan WNI dalam Afghanistan dalam kondisi baik. Pemerintah Indonesia juga masih harus memastikan pilihan per WNI, apakah siap buat dievakuasi ataukah punya petunjuk lain.

Ketika Teuku Faizaysyah diwawancarai 18 Agustus cerai-berai, data sementara Kemenlu menyimpan ada 15 WNI dalam Afghanistan.

Namun, dalam 20 Agustus, Menlu Retno Marsudi menyatakan bahwa tim evakuasi membawa 26 WNI, termasuk staff KBRI.

Sumber gambar, Getty Images

Dengan jalan apa posisi pemerintahan Indonesia kepada pemerintah baru yang dibentuk Taliban?

Adapun setelah Taliban menguasai ibukota Afghanistan serta Istana Kepresidenan, Indonesia belum menentukan sikap apakah akan mengakui atau menolak tadbir baru yang akan dibentuk.

Teuku Faizasyah mengatakan “proses ini masih sangat tenang ( fluid )” sehingga Indonesia menetapkan terlebih dulu melihat kemajuan ke depan.

Kendati begitu dia tak menjawab masa BBC News Indonesia menanyakan apakah pemerintah sudah berencana mengontak pemerintahan baru Taliban atau bakal memilih bagian lain.

Peneliti Timur Pusat dari LIPI, Nostalgiawan Wahyudhi menilai “menunggu” adalah opsi yang tepat. Indonesia, taat dia, perlu berhati-hati dan tak gegabah menentukan aksi untuk mengakui atau menentang pemerintahan baru bentukan Taliban.

Baca juga:

“Memang kita harus wait and see ya, perpindahan kekuasaan di sebuah negeri kan kita tidak cakap seperti apa, ” terang Nostalgiawan.

“Namun untuk ancang-ancang, yang diambil Indonesia untuk tidak over -reaktif itu sungguh cukup baik. Dalam terjemahan, siapapun yang berkuasa itu kita akan wait and see , apakah dilihat kondisi negeri itu chaos atau tak, ” sambungnya.

Selain sebab tak ada ketergantungan secara ekonomi maupun politik secara Afghanistan, Nostalgiawan mengungkapkan, Nusantara tidak pernah memiliki sejarah konflik sehingga mengharuskan negeri bergegas menentukan sikap. Jadi tak ada urgensi buat cepat-cepat menentukan sikap.

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Ia menyarankan pemerintah Indonesia untuk menunggu dan menyaksikan apakah Taliban sungguh-sungguh mewujudkan janji mereka seperti dalam bertemu pers pertama ataukah sebaliknya.

Nostalgiawan mengatakan jangan sampai kebijakan politik yang keliru dan reaksi berlebihan terhadap apa yang terjadi di Afghanistan justru hendak merugikan Indonesia kelak.

“Jadi kita tidak pada letak yang terlalu ekstrem serupa Amerika yang pernah di Afghanistan, ” kata Nostalgiawan.

Menakar janji Taliban meng u bah kecendekiaan

Taliban merebut ibukota Afghanistan, Kabul pada Minggu (15/08), 20 tahun sesudah mereka digulingkan Amerika serikat dan sekutunya dari kekuasaan.

Dua hari setelahnya, Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan akan membuat pemerintahan “Islamis yang kuat” dan memberikan amnesti pada mereka yang pernah hidup dengan pihak asing.

Nostalgiawan mengklaim pemerintahan baru peluang akan berbeda dari era kepemimpinan 1996-2001, yang terkenal dengan hukuman di depan umum, termasuk rajam & pembatasan ketat terhadap rani.

Mujahid juga menjanjikan perempuan akan menikmati hak sesuai syariah, sementara media swasta bisa bertugas secara khali dan independen.

Sumber tulisan, Reuters

Mengamati itu, Nostalgiawan mengaku tak terlalu optimistis akan perubahan Taliban. Walaupun upaya-upaya mereka untuk menelungkupkan diri dan berdialog menurutnya patut diapresiasi.

Konferensi pers Taliban itu tutur Nostalgiawan, boleh jadi menjadi jalan mereka untuk mendapatkan afeksi politik. “Tapi bisa oleh karena itu juga sebagai upaya metode pembelajaran yang mereka lakukan, bagaimana kegagalan mereka menghaki Afghanistan yang sebelumnya sungguh. ”

Ia menerangkan, puluhan tahun silam Taliban sudah tersudut di titik terendah di mana langkah kebijakan mereka malah berujung di dalam konflik berdarah, kehilangan akses kekuasaan, terusir dari induk pemerintahan dan, tak memperoleh dukungan dari warganya tunggal.

“Jadi dengan mengambil kondisi yang tidak terlalu kontra mungkin banyak yang mampu kita kerjasamakan, tidak tersedia masalah, ” tutur Nostalgiawan.

“Kalau pengelolaan negaranya cocok dengan Taliban yang sebelumnya, kita juga tidak dalam posisi yang telanjur nyemplung mengatakan mendukung kan. Kita bisa menghindar untuk tidak ikut campur kan, ” imbuh dia.

Baca juga:

Alih-alih memastikan sikap ekstrem dengan mengesahkan pemerintahan baru Taliban ataupun menolaknya, Nostalgiawan justru melihat peluang Indonesia bisa menjemput pendekatan dialog dan merujukkan, bertolok pada sejarah perdamaian yang pernah dikerjakan negara ini.

Ia pun menggoleng soal mantan Wakil Pemimpin Jusuf Kalla yang sempat mengundang perwakilan Taliban. Taat dia, saat itu Taliban menunjukkan respons positif.

“Upaya-upaya ketika Taliban ke Indonesia dan melakukan dialog dan bertukar pikiran itu termasuk salah satu tanda di human relationship , baik itu dengan politik ataupun sosial itu berarti kan mereka masih bisa berdialog, ” rata Nostalgiawan.

“Alangkah baiknya jika posisi Indonesia masih sama…. Di posisi mendamaikan. Tersebut kalau dalam pendekatan sungguh negeri dan diplomasi jauh lebih baik dibandingkan kita langsung secara gegabah menghunjam ke salah satu pihak yang sebetulnya kita tidak perlu, ” kata tempat meyakinkan.

Sumber gambar, Getty Images

Jika sudah begitu, Indonesia sebagai negara secara mayoritas muslim terbesar di dunia menurut Nostalgiawan, bisa menjadi contoh karena menempuh pendekatan yang berbeda.

“Kalau dibilang mau kontra, kita juga pernah mengundang Taliban untuk dialog. Itu juga mengatakan, Indonesia bertambah nyaman karena lebih menghargai, itu kan tandanya mereka bisa menilai kan bagaimana Indonesia bisa memberikan tiruan, ” jelasnya.

“Kalau bakal jadi pendukung juga, apa keuntungannya buat kita? ” kata Nostalgiawan.