Wisata Bali: Bali tunda kedatangan turis asing sampai ‘akhir 2020’, pelaku pariwisata ‘resah’ dan ‘prihatin’

24 menit yang lalu Sumber gambar, EPA Keputusan Gubernur Bali, I Wayan Koster, untuk menunda pembukaan pulau tersebut bagi kedatangan turis langka membuat ‘resah’ para pelaku usaha di sektor pariwisata, lantaran penerimaan yang didapat dari kedatangan turis domestik kemungkinan tidak akan bisa menutup kerugian sejak pandemi Covid-19 melanda.

Wisata Bali: Bali tunda kedatangan turis asing sampai 'akhir 2020', pelaku pariwisata 'resah' dan 'prihatin'
  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesian

Keputusan Gubernur Bali, I Wayan Koster, untuk menunda prakata pulau tersebut bagi kedatangan turis asing membuat ‘resah’ para pelaku usaha di sektor pariwisata, pasal pendapatan yang didapat dari kehadiran turis domestik kemungkinan tidak bakal bisa menutup kerugian sejak pandemi Covid-19 melanda.

“Kawan-kawan di Bali jadi resah semua. Sempat ada secercah harapan bahwa mulai 11 September, Bali akan dibuka lagi untuk wisman. Tapi begitu kemarin ada pengumuman ditunda, sempat galau dan kecewa lagi kawan-kawan, ” kata Budijanto Ardiansjah, Wakil Pemimpin Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).

Di sektor perjalanan wisata, Budijanto memperkirakan sekitar 80% dari 400-an biro perjalanan di Bali yang menjadi anggota organisasi tersebut “sudah tutup” karena jumlah wisatawan redup drastis.

“Saat ini sebenarnya banyak yang sudah gulung tikar. Jadi mereka hanya bertahan, masih memonitor dan mengecek, sampai nanti [Bali] buka lagi, segar mereka akan mulai lagi. Saat ini sebenarnya sudah banyak yang menutup. Saya rasa 80 persen sudah tutup. Di Bali yang tercatat di ASITA ada 400-an, ” ujarnya.

Di sektor penyokong wisata, yang mencakup hotel dan restoran, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Bali memperkirakan bahwa banyak anggotanya yang tidak bisa bertahan jika tidak beroperasi bertambah dari tiga bulan.

“Jujur kalau untuk industri pariwisata, PHRI tetap ingin [Bali dibuka] secepat mungkin, karena jika lebih daripada tiga bulan, ini sudah kamar kelima, sudah betul-betul kolaps, ” ujar I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, Ketua PHRI Bali.

Menurut Rai, setelah pandemi, ada 47 kekayaan yang tengah dijual oleh bagian PHRI, naik dari 20 kekayaan sebelum pandemi. Alasan penjualan properti bermacam-macam, termasuk tidak sanggup memenuhi kewajiban pembayaran kredit ke bank.

Para pelaku usaha yang dihubungi BBC Indonesia mengatakan bahwa, idealnya, Bali dibuka untuk turis aneh pada pertengahan Desember, atau pada musim puncak liburan jelang Natal dan Tahun Baru.

“Mau tidak mau kita harus berani sibak Desember, akhir tahun adalah paksa yang sangat bagus. Biasanya pertengahan Desember itu mulai naik [tingkat hunian] di akomodasi kita karena ada banyak liburan, Natal, Tahun Baru. Kita akan membuktikan bekerja keras untuk semuanya, agar dengan serius menangani pandemi Covid-19 ini, karena Bali ini sangat-sangat bergantung dari sektor pariwisata, ” jelas Rai.

Tutup sampai akhir 2020

Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengumumkan lewat sebuah pernyataan tertulis pada Sabtu (22/08) bahwa Pulau Dewata tidak akan dibuka bagi wisatawan asing sampai ‘akhir 2020’.

“Situasi pada Indonesia masih belum kondusif buat memungkinkan turis internasional untuk mengunjungi Indonesia, termasuk Bali, ” ucap I Wayan Koster.

“Negara-negara di dunia belum menerapkan kebijakan dengan memungkinkan warga negaranya bepergian ke luar negeri. Contohnya, Australia, penyumbang besar turis ke Bali, mutakhir berencana memperbolehkan warganya bepergian pada 2021. Hal serupa terjadi di China, Korea, Jepang, dan negeri2 Eropa. ”

Pertimbangan lainnya adalah belum dicabutnya Permenkumham No. 11 tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk ke Wilayah Indonesia.

Oleh karenanya, Bali masih akan ditutup sampai akhir 2020, dan belum diketahui kapan Bali akan dibuka kembali bagi wisatawan asing. I Wayan Koster mengucapkan pihaknya kini fokus meningkatkan anjangsana turis domestik yang dibolehkan pegari ke Bali sejak 31 Juli.

Ekonomi Bali sendiri telah mendatangi resesi setelah mencatatkan kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal pertama, ekonomi Bali mencatatkan pengurangan -1, 14%, sedangkan di kuartal dua turun drastis menjadi -10, 98%.

Ini lantaran kelesuan di sektor pariwisata, yang menyumbang sekitar 80% pendapatan Bali, dan lemahnya penjualan UMKM, produk pertanian serta kerajinan tangan karena pandemi Covid-19, kata I Wayan Koster.

Kunjungan turis domestik ‘masih sangat kecil sekali’

Datang 14 Agustus, jumlah kedatangan turis domestik di Bandara I Gusti Ngurah Rai mencapai sekitar 2. 300-2. 500 orang, kata Gubernur Bali, I Wayan Koster, pada pernyataannya.

Meski menunjukkan perbaikan, I Ketut Wardana, Ketua ASITA Bali, mengatakan angka tersebut masih benar kecil jika dibandingkan jumlah kedatangan turis domestik tahun 2019 yang mencapai 10 juta orang, tatkala turis asing yang datang ke Bali tahun lalu sebanyak enam, 3 juta orang.

“Itu membentuk masih sangat kecil sekali, kalau kita melihat catatan kedatangan turis domestik tahun lalu itu 10 juta [orang] ke Bali, untuk internasional 6, 3 juta [orang], angka [2.500 turis domestik] itu masih sangat-sangat kecil sekali.

“Kalau hanya sekian domestiknya ya memang masih kurang, dan domestik itu banyak yang datangnya menyeberang dari Gilimanuk, mereka pakai bus, kendaraan sendiri, siap tidak semuanya mereka yang sampai itu memerlukan services dari industri-industri yang ada di Bali, mereka banyak yang datang langsung, ” sahih Ketut.

Menurut Ketut, ada kurang sumber pendapatan biro perjalanan serta pelaku usaha di sektor turisme di Bali yang bergantung dalam wisatawan mancanegara.

Ia mengatakan, turis yang ideal adalah mereka yang datang dengan menggunakan pesawat serta telah memesan hotel di Bali, sehingga membutuhkan moda transportasi ketika telah tiba di Bali.

Itu juga membutuhkan pemandu wisata supaya bisa dengan maksimal menikmati Bali. Banyak turis domestik yang hadir ke Bali dengan menggunakan kendaraan pribadi atau memakai bus dibanding perusahaan di luar Bali, kata pendahuluan Ketut.

“Kalau industri pariwisata pada Bali itu, kalau memang kita ingin mendapatkan keuntungan biasanya sejak wisatawan yang datang pakai motor udara, itu bisa kita handle. Kalau mereka datang langsung [ke Bali] kan sudah di- handle oleh kongsi di luar Bali, untungnya membangun mereka yang dapatkan, yang datang dari luar itu, ” jelas Ketut.

Ia mengatakan bahwa di Bali terdapat sekitar 7. 000 pemandu wisata dan lebih dari 400 biro perjalanan, yang mayoritasnya fokus menangani klien wisatawan asing.

Ketut sendiri memiliki usaha biro perjalanan dan tur adventure di bagian timur Bali. Mertuanya memiliki penginapan di daerah Kintamani yang saat ini tutup lantaran penghuninya biasa didominasi oleh “turis Eropa atau Australia” yang normal menginap satu atau dua suangi sebelum naik ke Gunung Batur.

Ia juga memiliki restoran di Kintamani, yang bernasib lebih cantik dari penginapannya karena masih ada wisatawan lokal dan domestik yang mampir.

“Restoran masih lumayan, mampu bertahan, ” ujarnya.

‘Agak ketar-ketir’

Melvyn Liliana adalah salah satu pegawai perusahaan biro perjalanan khusus wisatawan mancanegara yang sudah dirumahkan sejak Maret. Perempuan berusia 40 tarikh ini mengaku memiliki perasaan campur aduk ketika membaca pengumuman bahwa Bali belum akan dibuka bagi wisatawan asing tahun ini.

“Itu mixed feeling sih, campur aduk sebenarnya. Setujunya [Bali dibuka kembali] karena beta cemas, mau berapa lama beta harus tidak kerja, tapi takutnya kalau sudah dibuka angka [jumlah kasus positif Covid-19] akan tambah, ” ujarnya.

Jumlah wisatawan asing pada Bali saat ini “sangat jauh” jika dibandingkan pada bulan yang sama tahun lalu, kata Melvyn, yang berdomisili di Denpasar.

“Ini kalau dilihat dari kosongnya lebih berasa dibanding waktu Gunung Gede [erupsi], lebih berasa sekadar, [pandemi] sangat berpengaruh [bagi pariwisata di Bali]. ”

Pada kamar Maret, Melvyn mengatakan masih berjalan di kantornya hanya untuk “membereskan pembatalan” pesanan klien. Kini, dia menjadi satu dari 73. 631 pekerja di sektor pariwisata dalam Bali yang dirumahkan tanpa memiliki gaji. Lebih dari 2. 600 pekerja di sektor ini pula telah di-PHK, menurut data daripada Pemprov Bali.

“Masuk bulan Maret itu kita banyak banget pembatalan rencana kedatangan, banyak banget, tamu kita biasa dari Eropa, Amerika Serikat, Kanada, India juga, dibanding Maret itu sehari-harinya cuma mengatur pembatalan saja.

Untuk bertahan hidup di Bali tanpa pemasukan, Melvyn memakai uang tabungannya dan berhemat. Ia membatasi diri untuk tak keluar rumah, belanja bahan keinginan sehari-hari dari komunitas di sekitarnya dan mengurangi belanja di supermarket. Kini ia juga lebih sering masak ketimbang makan di restoran.

“Thank goodness aku ada tabungan, akan tetapi ini tabungan seadanya dan telah lima bulan jadi ketar ketir, apalagi kalau pengeluaran melulu tak ada pemasukan, agak ketar ketir sih, ” kata Melvyn.

Made Subrana, seorang pemandu wisata lepas dari Kecamatan Mengwi, mengatakan bahwa pendapatannya betul berkurang setelah pandemi. Ia sempat berharap bahwa keuangannya akan membaik jika turis asing dibolehkan ke Bali.

“Sebagai pelaku pariwisata, kami merasa prihatin banget karena [pariwisata] merupakan lokomotif perekonomian [Bali], jujur selama itu karena pandemik kita merasakan pekerjaan, income berkurang, saya prihatin serupa.

“Kalau untuk sekarang seharusnya kan ‘musim Eropa’, dari Mei sampai pertengahan Oktober, itu biasanya tersedia long trip untuk turis-turis asing ke daerah seperti Karangasem, Singaraja, bahkan ada sampai ke Kawah Ijen di Jawa Timur, ” ujarnya.

Made mengatakan ia kini kurang terbantu dengan mulai berdatangannya turis domestik ke Bali, meskipun belum signifikan. Selain itu, ia pula mengambil pekerjaan dengan membawa warga-warga Bali ke tempat-tempat sembahyang.

“Mungkin semua insan pariwisata sangat berharap [Bali dibuka bagi wisatawan mancanegara], cuma demi ketenteraman ya kita ikuti saja petunjuk dari pemerintah. Kita mungkin berniat semoga lebih cepet kembali wajar.

“Kalau saya kadang-kadang kan ada pekerjaan tambahan untuk bawa [warga lokal Bali], rombongan, untuk sembahyang, buat mengisi kekosongan [pendapatan] setelah new normal. ”