Vaksin Covid: Bisakah puluhan juta dosis yang menumpuk apalagi rusak di daerah diatasi tanpa cabut hak awak?

15 September 2021, 20: 14 WIB Sumber gambar, JARANG FOTO/RAHMAD Sebanyak 41 juta dosis vaksin yang sudah didistribusikan ke provinsi, kabupaten dan kota saat ini belum disuntikkan ke bangsa. Stok vaksin di sejumlah daerah baru akan habis dalam ratusan hari ke depan. Di Aceh, 1. 812 dosis Sinovac bahkan tidak bisa lagi dipergunakan karena tidak kunjung disuntikkan…

vaksin-covid-bisakah-puluhan-juta-dosis-yang-menumpuk-bahkan-rusak-di-daerah-diatasi-tanpa-cabut-hak-warga-10

Sumber gambar, ANTARA FOTO/RAHMAD

Sebanyak 41 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan ke provinsi, kabupaten dan kota saat ini belum disuntikkan ke umum.

Stok vaksin di sejumlah daerah baru akan habis dalam ratusan keadaan ke depan. Di Aceh, 1. 812 dosis Sinovac bahkan tidak bisa sedang dipakai karena tidak cepat disuntikkan ke masyarakat.

Negeri pusat mendorong pemda mengirim stok vaksin tak terpakai ke daerah prioritas. Taat survei berskala nasional terbaru, 22% responden belum menyambut vaksin, antara lain akibat stok yang terbatas.

Tetapi strategi memindahkan alokasi stok vaksin dari satu daerah ke daerah lain dikritik dan disebut organisasi pemantau penanganan pandemi, LaporCovid19, mencopot hak kesehatan warga. Pola ini meminta pemerintah memajukan kampanye di daerah yang rendah tingkat vaksinasinya.

Sumbar dan Aceh – daerah dengan tingkat vaksinasi rendah

Salah satu daerah angka vaksinasi paling rendah di Indonesia merupakan Sumatera Barat (Sumbar). Merujuk data terbaru Kementerian Kesehatan, stok vaksin di provinsi itu baru akan habis dalam 56 hari ke depan.

Situasi ini terjadi karena minat warga dengan minim terhadap vaksin, kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Arry Yuswandi.

“Antusiasme umum sebenarnya tinggi, tapi turun karena stok vaksin terbatas, ” ujarnya via telepon, Rabu (15/09).

“Banyak yang sudah datang ke puskesmas tapi ternyata vaksin habis. Kekosongan vaksin tahu terjadi tiga minggu. Tersebut berpengaruh pada animo asosiasi, ” kata Arry.

Sesudah sempat kehabisan stok dalam Juli lalu, jumlah vaksin yang tersedia di Sesumbar sekarang mencapai 565 seperseribu dosis. Stok itu tersebar di 19 kabupaten serta kota.

Namun karena rata-rata penerima vaksin di Sumbar yang rendah, stok tersebut baru akan habis di dalam puluhan hari ke aliran.

Di empat wilayah Sumbar, yaitu Pasaman, Solok, Sawahlunto, dan Padang Panjang, stok vaksin bahkan baru hendak habis dalam ratusan keadaan ke depan.

Estimasi terlama ada di Medan Panjang, yakni 178 hari. Padahal menurut Kemenkes, simpanan vaksin sebaiknya habis kurang dari tujuh hari.

Pemprov Sumbar berusaha menyiasati itu dengan menggelar vaksinasi dengan menyasar pelajar. “Sederhananya, praja dan kabupaten harus merobohkan vaksin yang ada dalam mereka, ” ucapnya.

“Salah satunya dengan rencana gebyar vaksin pelajar SMA dan SMK. Kalau tersedia acara seperti itu orang akan semangat divaksin, ” kata Arry.

Sumber tulisan, JARANG FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

‘Vaksin terbuang sia-sia’

Pangkal pekan ini, sebanyak satu. 812 dosis vaksin dalam Aceh Tenggara dilaporkan tidak bisa lagi digunakan. Penyebabnya, banyak warga kabupaten itu batal datang ke sentra vaksinasi.

Sama seperti Sesumbar, Aceh adalah salah mulia provinsi dengan tingkat vaksinasi terendah. Stok vaksin dalam wilayah itu rata-rata mutakhir akan habis dalam perut bulan ke depan.

Namun Arry Yuswandi mengklaim keburukan vaksin di Aceh tak akan terjadi di Sesumbar.

“Kami kan gunakan wadah penyimpanan yang sudah terstandar. Ada ruang dingin pada provinsi dan kulkas istimewa untuk vaksin di kabupaten-kota, ” ucapnya.

Bagaimanapun, munculnya vaksin yang terbuang terbengkalai tidak dapat dihindari, patuh Juru Bicara Kemkes untuk Program Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi.

“Kondisi tersebut kami sebut wastage rate atau dosis vaksin dengan mau tidak mau kita buang, ” kata Nadia.

“Walaupun jumlah peserta vaksinasi sudah didata, tapi kemudian yang datang tidak sebati, sehingga pada hari itu tersisa tiga dosis, besoknya tersisa empat dosis.

“Lama-lama kalau dosis yang tertinggal dihitung sejak Januari maka angkanya akan banyak, ” ujarnya.

Sumber gambar, Antara Foto/Iggoy el Fitra

Nadia berkata, tingkat dosis vaksin yang terbuang di Aceh Tenggara mencapai 3, 8%. Persentase itu disebutnya masih di bawah perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai vaksin yang akan tercampak sia-sia, yakni 5-10%.

Walau begitu, Nadia menyebut pemerintah pusat mendorong pemda cekatan untuk mendistribusikan vaksin dengan tak tersalurkan ke wilayah yang kekurangan stok.

“Kemkes punya situs pemantauan simpanan vaksin. Bisa dilihat kabupaten/kota yang stoknya masih penuh, ada yang baru amblas 60 bahkan 180 keadaan.

“Di situlah kewenangan negeri provinsi untuk memindahkan simpanan vaksin itu ke daerah lainnya, ” kata Nadia.

Sumber gambar, Antara Foto/IRWANSYAH PUTRA

‘Hak atas vaksin tak boleh dicabut’

Tetapi strategi memindahkan stok vaksin seperti ini dikritik Amanda Tan, relawan di sistem sipil pemantau penanganan pandemi, LaporCovid-19.

Stok vaksin yang menumpuk akibat minat masyarakat yang rendah, kata Amanda, seharusnya disiasati dengan usaha pentingnya vaksin.

“Vaksin adalah hak semua warga. Jika di Aceh stoknya sedang banyak, tugas pemerintah merupakan sosialiasi lebih masif serta memastikan warga mau divaksin, ” ujar Amanda.

“Sekarang banyak orang mau divaksin karena terdesak urusan administrasi, seperti tidak boleh jaga KTP. Jadi warga dipaksa karena ada kebutuhan administrasi. Hal seperti ini dengan perlu didorong.

“Kalau simpanan vaksin yang tidak terpakai tadi dipindahkan untuk warga Jawa dan Bali, misalnya, itu mengambil hak masyarakat Aceh.

“Pelayanan kesehatan ialah hak warga negara, jika ada yang tidak menginginkannya, bukan berarti vaksinnya ditarik, tapi warga harus diedukasi, ” kata Amanda.

Sumber gambar, Antara Foto/RAISAN AL FARISI

Antusiasme umum terhadap vaksin berbeda pada setiap daerah. Di zaman vaksin menumpuk di kurang wilayah, sekelompok warga di daerah lain justru tak kebagian kuota.

Tren ini muncul dalam hasil inspeksi terbaru yang dilakukan Change. org, KawalCovid-19, dan Katadata Insight Center.

Dari mutlak 1831 responden yang belum menerima vaksin, 15, 6% di antaranya mengaku kehabisan kuota di berbagai sentra vaksinasi.

Siti Nadia Tarmizi menyebut hal ini terjadi karena vaksin yang tersedia untuk masyarakat Indonesia masa ini baru mencapai 40%.

“Jadi memang belum bakal dapat semua, ” ucapnya.

Sebagian besar stok vaksin, kata Nadia, saat itu akan difokuskan ke wilayah yang paling rawan terdampak penularan kasus Covid-19.