Tercepat di dunia, India salurkan 100 juta dosis vaksin Covid-19 dalam 85 keadaan

14 menit yang lalu Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di pesawat pencari lain India sudah menyalurkan lebih dari 100 juta dosis vaksin Covid-19 di tengah kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi pada negara tersebut.

tercepat-di-dunia-india-salurkan-100-juta-dosis-vaksin-covid-19-dalam-85-hari-12

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript atau coba di instrumen pencari lain

India telah menyalurkan bertambah dari 100 juta dosis vaksin Covid-19 di sedang kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi di negara tersebut.

India mengklaim diri sebagai negara tercepat yang mampu membagikan 100 juta dosis vaksin Covid-19. Itu melakukannya dalam 85 hari.

Sebagai perbandingan, pencapaian tersebut didapat Amerika Serikat di 89 hari, sementara China dalam 102 hari.

Tetapi, salah satu program vaksinasi terbesar di dunia ini juga menghadapi sejumlah kasus.

Belasan negara bagian di India pekan ini melaporkan cela dosis vaksin di era pemerintah federal bersikeras stoknya yang tersedia cukup.

Negeri pusat India menyebut “tuduhan” kelangkaan vaksin “sama sekadar tidak berdasar”. Mereka membuktikan memiliki stok lebih lantaran 40 juta dosis.

India menargetkan 250 juta awak mereka telah menerima vaksin Covid-19 Juli mendatang. Sejumlah pakar kesehatan menilai India perlu mempercepat pemberian vaksin agar target itu terpenuhi.

Vaksinasi di India menargetkan orang-orang berusia di atas 60 tahun dan pekerja garis depan seperti petugas medis.

Fase ketiga vaksinasi di India dimulai pada 1 April awut-awutan. Sejak saat itu, pada setiap hari muncul rata-rata 90 ribu kasus positif anyar di India.

Dalam 4 April, India menjelma negara kedua setelah GANDAR yang melaporkan 100 seperseribu kasus positif baru di dalam satu hari. Lebih sejak setengah kasus itu berlaku di negara bagian Maharashtra, yang mencakup kota terbesar di India, Mumbai.

Jumlah kasus positif di India sebenarnya menurun tajam masa mereka menggelar vaksinasi pangkal tahun ini. Saat itu setiap hari rata-rata hidup 15 ribu kasus perdana.

Namun jumlah kasus harian mulai melonjak sedang pada bulan Maret. Pemicu terbesarnya diyakini adalah pencarian kasus yang buruk serta penerapan protokol kesehatan yang lemah.

Para ahli kesehatan menilai gelombang kedua dalam India dipicu juga oleh keteledoran masyarakat serta perintah kesehatan yang berbeda-beda lantaran pejabat pemerintahan.

Sejak pandemi terjadi, India mengkonfirmasi lebih dari 12 juta kejadian positif dan lebih sebab 167 ribu kematian.

Ini adalah jumlah infeksi Covid-19 tertinggi ketiga pada dunia setelah AS dan Brasil.

Sumber gambar, Reuters

Bagaimana pelaksanaan vaksinasi?

India memulai program vaksinasi pada 16 Januari lalu. Tetapi saat itu vaksinasi terbatas untuk petugas kesehatan serta pekerja garis depan.

Praktisi di bidang sanitasi selalu menjadi kelompok warga India pertama yang menerima vaksin.

Mulai 1 Maret morat-marit, kriteria penerima vaksin diperluas untuk orang-orang yang berumur di atas 60 tahun dan mereka yang berumur antara 45-59 tahun akan tetapi memiliki penyakit lain.

Tahap ketiga vaksinasi kemudian diperluas untuk semua orang yang berusia di atas 45 tahun dan memenuhi sarana menerima vaksin. Tahap ketiga ini dimulai 1 April lalu.

Regulator dan penilik obat di India sebelumnya memberikan lampu hijau buat dua vaksin. Yang perdana adalah yang dikembangkan AstraZeneca dengan Universitas Oxford, yaitu Covishield.

Satu vaksin lainnya adalah Covaxin, dengan diproduksi perusahaan India Bharat Biotech.

Beberapa pengikut vaksin lainnya saat itu berada pada tahap uji klinis.

Sumber gambar, EPA

India juga terus berupaya membendung lonjakan kasus mutakhir. Belum lama ini itu menghentikan sementara semua ekspor vaksin virus corona Oxford-AstraZeneca, yang dibuat produsen vaksin terbesar di India, Serum Institute of India (SII).

Pekan ini SII menyebut kapasitas produksi mereka “sangat tertekan” dan “belum berharta memasok vaksin ke di setiap warga India”.

SII berceloteh telah menyediakan 65-70 juta dosis setiap bulan ke India dan mengekspor mutlak dosis yang hampir setara sejak memulai produksi mula pada tahun 2021.

Perusahaan itu berencana meningkatkan buatan vaksin hingga 100 juta dosis dalam sebulan. Tetapi mereka mengatakan target tersebut belum akan tercapai pra akhir Juni.

Mereka beralasan masih harus membenarkan kerusakan fasilitas produksi dalam Kota Pune yang melalak Januari silam.

Para pakar percaya India harus meningkatkan vaksinasi di daerah dengan penularan tinggi dan pada lima negara bagian yang menggelar pemilu demi menghalangi penyebaran virus corona.

Keinginan Banaji, seorang pakar matematika di Middlesex University London, yang meneliti dan memeriksa pandemi, berharap vaksinasi dapat mengendalikan gelombang kedua di India.

“Tapi pada kecepatan saat ini vaksinasi akan berdampak kecil untuk melambatkan penyebaran dalam satu ataupun dua bulan, ” ujarnya.

“Jika menargetkan kelompok dengan paling rentan, vaksinasi mungkin akan mengurangi jumlah rawat inap dan kasus kematian lebih cepat. ”

Bhramar Mukherjee, seorang ahli biostatistik di Universitas Michigan, menilai India perlu memberikan 10 juta suntikan vaksin setiap hari, alih-alih berpuas muncul dengan 3 juta jumlah sehari.

“Saya frustasi bahwa India tidak meluncurkan rencana vaksinasi secara lebih bergairah saat kurva masih di dalam keadaan sulit, ” introduksi Mukherjee.

“Jauh lebih mudah untuk melakukan vaksinasi masa infeksinya tidak terlalu tinggi. Sekarang kapasitas perawatan kesehatan terbagi antara menyalurkan vaksin dan menjalankan perawatan penderita Covid. ”

Sumber gambar, Getty Images

Berapa penuh warga yang telah divaksinasi sejauh ini?

Selama beberapa dekade, India menjalankan lengah satu program imunisasi terbesar di dunia. Vaksinasi buat beberapa penyakit lain sebelumnya menargetkan puluhan juta karakter, termasuk bayi yang segar lahir dan perempuan berisi.

Jadi sejumlah ahli yakin India sudah siap bertemu tantangan vaksinasi Covid-19. Walaupun begitu, pelaksanaannya ternyata merandek, salah satunya oleh skeptisisme sebagian kalangan dan kurangnya kesadaran masyarakat ekonomi lembah atau yang tingal pada pedesaan.

Banyak orang bangsat memiliki sedikit informasi mengenai cara mendaftarkan diri dan mengakses vaksin gratis. Karakter yang memenuhi syarat saat ini dapat memesan suntikan mereka secara online atau mendalam dan mendaftar di induk vaksinasi.

“Isu vaksin benar jarang dikomunikasikan kepada kelompok miskin dan kelas pelaku, ” kata Radha Khan, konsultan independen yang bergerak di bidang gender, peraturan kelola dan inklusi sosial.

Hingga Juli mendatang, India menargetkan penyaluran hingga 500 juta dosis untuk 250 juta penduduk yang diprioritaskan.

Menariknya, di beberapa negara bagian, lebih banyak perempuan daripada pria yang sudah divaksinasi. Alasannya tidak jelas.

Sumber gambar, Reuters

Sapa yang membayar vaksin?

Vaksinasi di India bersifat manasuka. Klinik dan rumah lara yang dikelola pemerintah menunjukkan vaksin gratis tapi masyarakat lokal juga dapat menutup 250 rupee (Rp48 ribu) untuk mendapatkan vaksin dalam rumah sakit swasta.

Tiba 11 April, warga India bisa mendapatkan vaksin berbayar di tempat kerja preman dan yang dikelola negeri.

Pemerintah India menghabiskan kira-kira US$5 miliar (sekitar Rp73 triliun) untuk menyediakan vaksin gratis.

India juga membeli jutaan dosis vaksin dan memberikan dana kepada negeri bagian untuk program vaksinasi mereka.

Apakah ada ‘efek samping’ setelah vaksinasi?

Vaksinasi memiliki efek samping untuk sebagian orang.

India mempunyai program pengawasan “efek samping” vaksinasi yang sudah berlangsung selama 34 tahun belakang.

Banyak ahli kesehatan menyebut kegagalan untuk secara transparan melaporkan efek bibir vaksin dapat dengan mudah memicu ketakutan seputar vaksin.

Hingga awal Februari morat-marit, India melaporkan 8. 483 kasus “efek samping” sesudah vaksinasi Covid-19. Sebagian mulia efek samping itu berkelakuan “ringan”, berupa kecemasan, vertigo, pusing, demam, dan nyeri.

Semua orang dengan mengalami efek samping itu telah pulih, menurut penjelasan resmi pemerintah India.

Agenda pengawasan telah memeriksa 617 kasus “efek samping yang parah”, termasuk 180 kematian setelah vaksinasi hingga 29 Maret, menurut sejumlah petunjuk.

Hasil pemantauan menyebut “kematian terjadi dalam kasus dalam mana penerima vaksin memiliki penyakit bawaan, seperti urusan jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes”.

Penggambaran tabel data oleh Shadab Nazmi

Untuk memutar video tersebut, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain