Tempe, ‘hadiah Indonesia untuk dunia’, perjalanan panjang dan sulit bisnis ‘makanan luar biasa’ di mancanegara

9 Juni 2021, 07: 26 WIB Sumber gambar, Rustono Di menduduki bukit di luar Kota Kyoto, Jepang, pada sejenis sore, seorang pria menguncup pintu rolling besi kepala bangunan besar dan bergegas memperkenalkan diri dengan senyum lebarnya.

  • Endang Nurdin
  • BBC News Nusantara

Rustono di depan pabrik tempe di luar kota Kyoto, Jepang.

Sumber tulisan, Rustono

Di bersantai bukit di luar Tanah air Kyoto, Jepang, pada suatu sore, seorang pria menyumbat pintu rolling besi mulia bangunan besar dan bergegas memperkenalkan diri dengan mesam-mesem lebarnya.

“Saya Rustono, pengusaha tempe di Jepang, saya lahir di Grobogan [Jawa Tengah], saya punya dua pabrik salah satunya di belakang saya. ”

Rustono memperlihatkan suasana di seputar pabriknya yang terletak “di tengah pegunungan”, penuh pohon pinus dengan sungai kecil tak jauh sejak situ.

“Inilah mimpi ana… Banyak hadiah dari zona. Kayu bisa untuk menjilat boiler , air pegunungan untuk proses pembuatan tempe, ” katanya sambil menunjuk ke kejauhan sekitar satu kilometer, wadah pabrik tempenya yang pertama.

Rustono

Sumber gambar, Rustono

“Kami produksi 10. 000 bungkus [setiap lima hari] dan dikirim ke lebih 1. 000 titik di Jepang, meliputi restoran, katering, sekolah untuk sajian siang, hotel, toko-toko Asia, orang Indonesia di Jepang, maskapai penerbangan dan masih banyak lagi, ” katanya lagi.

Baca pula:

Sementara di Tanah air Meksiko, yang berjarak hampir 12. 000 kilometer dibanding Jepang, seorang perempuan muda bercerita alasannya memutuskan untuk mengolah dan memproduksi tempe.

Dengan penuh watak, ia mengantar tempe secara sepedanya ke para pelanggannya di tengah kebisingan & kemacetan kota terbesar serta terpadat di Amerika Utara itu.

Di kemasan tempe yang diproduksinya ada tulisan berbahasa Spanyol, “Hadiah Indonesia untuk dunia. ”

“Saya Luisa Vélez, saya membuat tempe… Saya jatuh mabuk dengan tempe ketika prima kali mencoba di Yogyakarta, ” katanya bangga. Luisa ke Indonesia saat tersebut dalam program Darmasiswa, dana siwa dari Kementerian Luar Kampung.

Luisa Velez

Sumber gambar, Luisa Velez

“Saya ingin orang-orang terang, bahwa tempe adalah warisan yang datang dari negeri indah yang kaya budaya. Saya merasa mendapat kehormatan dapat menyebar makanan Indonesia luar biasa dan bergizi ini. ”

Luisa, seorang sarjana nutrisi yang mengaku sudah membuat tempe lebih dari 15 tahun, mengucapkan ia belajar membuat tempe dari Rustono.

“Saya terinspirasi dari dia. Rustono menjelma mentor dan mitra usaha saya… Sejak bertemu dengannya, hidup saya berubah serta saya sangat berterima berseloroh kepadanya, ” kata Luisa lagi.

“Beberapa tahun berserakan saya ke Indonesia dengan Rustono. Ada kalimat yang muncul dari hati awak, kata-kata itu adalah tempe adalah hadiah Indonesia untuk dunia. Kata-kata itu terekam di kemasan tempe saya di Meksiko. ”

Luisa adalah salah seorang murid dan mitra bisnis Rustono. Banyak dari mereka yang datang langsung ke Jepang untuk belajar langsung.

Mau jadi pionir tempe akan tetapi ditolak bertahun-tahun

Rustono.

Sumber gambar, Rustono

Perjalanan Rustono datang memiliki dua pabrik secara produksi ribuan bungkus tempe, dimulai lebih dari 20 tahun lalu, dengan bermacam-macam kendala dan banyak penolakan.

Banyak yang tak cakap soal tempe, walaupun pada Jepang makanan berbasis kacang kedelai cukup banyak, termasuk apa yang disebut natto, cerita Rustono.

Ia mendatangi banyak restoran dan toko-toko sambil membawa “bungkusan putih”.

Proses membuat tempe selalu memiliki tantangan tersendiri. Dia belum pernah membuat tempe dan sebelumnya bekerja pada satu hotel di Yogyakarta.

“Saya telepon ibu buat menanyakan cara membuat tempe, dan saya coba buat dan kasih ke tetangga, gak berhasil, karena dalam sini ada empat musim sehingga mempengaruhi pembuatan tempe. Saya cari akal buat memberi penghangat… Kadang oleh sebab itu, kadang enggak, ” ceritanya terkekeh.

Namun tekadnya telah mantap untuk membuat tempe. “Saya berpikir bisa menjadi pionir di Jepang. ”

Produksi tempe pada tahun-tahun awal tak bisa dimanfaatkan untuk menghidupi keluarganya, kata pendahuluan Rustono yang menikah secara perempuan Jepang dan dikaruniai dua putri.

Ia menyambi di berbagai cafe, perusahaan sayuran, makanan dan juga kerja serabutan termasuk “potong rumput dan mengaspal ustaz. ”

Distribusi tempe Rustono.

Sumber gambar, Rustono

Memasuki tahun ke delapan membuat tempe, bisnisnya belum juga menghasilkan, namun Rustono malah berpikir untuk memperluas tempat pembuatan tempe secara memasang “atap dan balok”.

Pada Desember 2005, masa hujan salju, dengan “perasaan terbakar dan semangat meluap untuk meraih mimpi” mereka tetap bekerja. Semangat yang terlihat “aneh dan ganjil” tetap bekerja di luar saat salju turun, diperhatikan seorang wartawan, yang penasaran dan datang dua kali untuk mewawancarainya.

Pertanyaan soal tempe hanya bagian mungil dari artikel wartawan Jepang itu, sisanya berisi jalan Rustono untuk meraih berniat, termasuk dengan cara berani tetap bekerja saat salju turun. Namun inilah dengan menjadi titik balik.

“Dua hari kemudian, saya sanggup telepon dari orang-orang dengan menolak saya, meminta dibawakan tempe. Mulai banyak yang order juga, ” rencana Rustono menambahkan usahanya tiba menghasilkan pada sekitar 2008.

sushi tempe

Sumber gambar, Rustono

Dia mendatangi banyak restoran dan membicarakan berbagai kemungkinan menu dengan menggunakan tempe. Dan ada cukup banyak menu baru, kata Rustono, tercatat miso tempe.

Makan tempe, pagi siang malam, tetapi tak ada yang tahu tempe

Di Meksiko, Luisa mengalami pengalaman sulit sebentuk.

Luisa Velez dengan chef di Meksiko.

Sumber gambar, Luisa Velez

Setelah pertama kali mencicip tempe goreng – yang semula dia pikir kacang goreng – tempe menjelma menu utamanya, dari dasar sampai makan malam.

“Saya terkejut dengan rasa dengan luar biasa. Saya jatuh cinta dengan tempe, serta sejak itu setiap hari makan tempe untuk sarapan, makan siang, dan santap malam. Setelah kembali ke Meksiko tak ada dengan menjualnya dan saya membatalkan untuk membuat sendiri, ” cerita Luisa mengawali bisnis kecilnya.

“Saya mulai sebab nol, tak punya simpanan, tapi saya terdorong dan terinspirasi oleh Rustono, untuk memperkenalkan tempe ke orang-orang Meksiko.

Luisa Velez

Sumber gambar, Luisa Velez

Ia mengatakan karena tak ada yang mengenal tempe, membuatnya sulit buat menjalankan bisnis.

“Tak tersedia yang tahu tempe, melainkan komunitas orang Indonesia atau orang asing yang pernah ke Indonesia atau orang Eropa atau Amerika Serikat di mana tempa bertambah popular. Jadi susah untuk mengembangkan tempe. Karena itu saya perlu waktu sampai tempe dapat menghasilkan. ”

Tempe dengan bumbu salsa dan guacamole.

Sumber gambar, Luisa Velez

Keluarga menjadi andalan finansial untuk membantunya mengembangkan bisnis.

“Pembuatan tempe sangat sulit, perlu kerja keras, banyak malam tanpa tidur, kegagalan dan perlu perhatian ke detail. Proses pembuatan sasaran ini perlu memperhatikan suhu dan terkadang tak bisa terduga kalau kelembaban berganti, ”

Masakan ala Meksiko Tostadas.

Sumber gambar, Luisa Velez

“Setiap sen yang saya dapat, saya investasi lagi untuk buat cara, membeli kedelai, sampai akhirnya mulai berkembang dan pelanggan semakin banyak. Jadi sajian waktu. Pelan-pelan pendapatan mulai ada, ” cerita Luisa bersemangat.

Beberapa tahun terakhr ini, kata Luisa, ia sudah bisa hidup daripada usaha tempenya.

“Saat ini, saya dibantu tim saya dalam produksi dan bagian. Untuk Kota Meksiko, awak naik sepeda untuk mengirim tempe, dan ini membangun mengurangi polusi di praja besar ini. Sanga efisien dan tak terganggu terbengkalai. ”

Sebagian besar bagian tempenya di Kota Meksiko, namun pengiriman ke kota dan negara bagian lain semakin naik, katanya.

Oleh sebab itu apa favorit orang Meksiko dalam mengolah tempe?

Tempe dalam bentuk tacos, ala Meksiko.

Sumber gambar, Luisa Velex

“Ada yang dalam bentuk tempe burger, atau dicampur taco [makanan Meksiko] dan dicampur dengan bahan lokal, seperti guacamole. Banyak dengan mereka campur dengan resep sendiri karena tempe betul fleksibel bisa dicampur dengan bahan apapun, ” katanya lagi.

Mimpi bersama menyebarkan tempe

Rustono dan keluarga

Sumber gambar, Rustono

Bagi Rustono, si “Raja Tempe” di Jepang, ia masih terus mengejar mimpi-mimpinya lainnya.

Dia bertekad buat terus memberi pelatihan bagi mereka yang tertarik melaksanakan tempe di negara per.

Dari banyak muridnya, yang juga tersebar di Rusia, Polandia, Austria, Prancis serta di Asia termasuk China dan Korea Selatan, ia mengaku tak semuanya jadi.

“Tapi saya tak risau. Saya hanya mencari mulia orang di setiap negara yang mau bermimpi bergabung saya untuk mempopulerkan tempe di negara masing-masing, ” tutupnya.