Taliban merebut ibu kota Zaranj, PBB peringatkan ‘Afghanistan menuju malapetaka’

9 tanda yang lalu Sumber tulisan, FARSHAD USYAN/AFP Sebuah tanah air di wilayah barat daya Afghanistan menjadi ibu praja provinsi pertama yang jatuh ke tangan Taliban per kelompok militan ini melampiaskan serangan besar-besaran awal tarikh ini.

taliban-merebut-ibu-kota-zaranj-pbb-peringatkan-afghanistan-menuju-malapetaka-8

Sumber gambar, FARSHAD USYAN/AFP

Sebuah kota di provinsi barat daya Afghanistan menjadi ibu kota provinsi baru yang jatuh ke tangan Taliban semenjak kelompok keras ini melancarkan serangan besar-besaran awal tahun ini.

Para pejabat setempat mengutarakan Taliban telah merebut Zaranj, di provinsi Nimroz, yang merupakan pukulan telak bagi pasukan pemerintah.

Kelompok pemberontak terus membuat kemajuan pesat di seluruh negeri kala pasukan asing mundur.

Mereka menguasai kawasan pedesaan dan saat ini menargetkan kota-kota utama.

Baca juga:

Beberapa ibu kota provinsi lainnya, yang saat ini berada di bawah tekanan, di antaranya Herat di wilayah barat, dan kota-kota di daerah selatan, bagaikan Kandahar dan Lashkar Gah.

Utusan khusus PBB buat Afghanistan, Deborah Lyons, di hari Jumat mengatakan konflik di sana telah mengambil “fase baru, lebih menjemput, dan lebih merusak”, dengan lebih dari 1. 000 warga sipil tewas di sebulan terakhir.

Dia memperingatkan bahwa negara itu pusat menuju “malapetaka”, dan menodong Dewan Keamanan PBB biar mengeluarkan “pernyataan jelas bahwa serangan terhadap kota-kota harus dihentikan sekarang juga”.

Akhirnya, pada hari Jumat, pemerintah Inggris menyarankan semua warganya di Afghanistan untuk melupakan negeri itu karena situasi keamanan memburuk.

Kota ‘jatuh tanpa ada perlawanan’

Kelompok Taliban mengklaim kemajuan di Zaranj – tengah perdagangan utama di dekat perbatasan Iran – di sebuah unggahan yang dibagikan di Twitter.

“Ini ialah permulaan, dan lihat bagaimana provinsi-provinsi lainnya segera jeblok ke tangan kita, ” kata seorang komandan Taliban kepada Kantor berita Reuters.

Sumber gambar, HOSHANG HASHIMI/AFP

Foto-foto yang diunggah pada media sosial memperlihatkan warga sipil menjarah barang-barang dari gedung-gedung pemerintah.

Kaum anggota pemberontak Taliban difoto dalam bandar udara setempat dan berpose di buku jalan yang mengarah ke kota.

Mereka terus mencari jalan merebut kota itu sesudah merebut beberapa distrik dalam sekitarnya.

Namun demikian, Pengantara Gubernur Nimroz, Roh Gul Khairzad mengatakan kepada kuli bahwa Zaranj jatuh “tanpa perlawanan”.

Dia dan penguasa lokal lainnya mengeluhkan kurangnya bantuan dari pemerintah Afghanistan.

“Kota itu berada pada bawah ancaman, tetapi tidak ada seorang pun sebab pemerintah pusat yang mengindahkan kami, ” kata Khairzad.

Taliban terakhir kali merebut ibu kota provinsi itu pada 2016, ketika mereka menguasai sekejap kota Kunduz di wilayah utara.

Baca juga:

Para militan melancarkan persuasi militer besar-besaran pada Mei, bertepatan penarikan secara bertahap pasukan AS dan NATO setelah 20 tahun mereka menggelar operasi militer.

Dengan dikuasainya kota Zaranj akan menambah momentum bagi kelompok militan itu, sebutan para pengamat.

Sehari sebelumnya, pasukan AS dan Afghanistan melancarkan serangan udara ke posisi kelompok itu dalam Lashkar Gah, ibu tanah air provinsi Helmand.

Pasukan negeri berjanji tidak akan kematian kota penting yang strategis itu, dan pertempuran di sana berlangsung sengit.

Para pejabat telah mendesak warga sipil untuk mengungsi, dimana ribuan orang terperangkap atau melarikan diri menetapkan menyelamatkan diri.

Di Herat, warga juga telah meninggalkan rumahnya buat mengantisipasi serangan pemerintah terhadap posisi kelompok Taliban.

“Kami tidak punya apa-apa lagi dan kami tidak cakap harus pergi ke mana, ” kata seorang awak kepada kantor berita AFP.

‘Penghinaan terhadap hak dasar manusia’

Dawa Khan Menpal ditembak mati era meninggalkan masjid di mobilnya.

Taliban mengatakan dia “dihukum karena perbuatannya”.

Negara-negara mitra pemerintah Afghanistan mengutuk pembunuhan itu dan menganggapnya sebagai tindakan mengejutkan dan pengecut.

Kuasa usaha AS buat Afghanistan, Ross Wilson, mentweet bahwa dia “sedih serta muak” dengan pembunuhan tersebut, seraya menambahkan:

“Pembunuhan ini merupakan penghinaan kepada hak asasi manusia & kebebasan berbicara bagi warga Afghanistan. ”

Sumber tulisan, Getty Images

Beberapa hari sebelumnya, serangan terhadap tempat tinggal menteri pertahanan Afghanistan dalam Kabul menewaskan sedikitnya delapan orang.

Sang menteri, Bismillah Khan Mohammadi, tidak berada di rumah era serangan tersebut.

Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB di dalam Jumat, para perwakilan mengutarakan keprihatinan atas pertumpahan pembawaan yang terus berkembang di negeri itu.

Utusan Afghanistan, Ghulam Isaczai meminta Lembaga Keamanan agar mengambil tindakan guna menekan Taliban supaya menghentikan serangannya dan mengambil bagian dalam pembicaraan damai.

“Adalah tanggungan kita berhubungan untuk menghentikan mereka mengacaukan Afghanistan dan mengancam masyarakat dunia, ” katanya.

Tatkala itu, ketua Komisi Sah Asasi Manusia Independen Afghanistan mengatakan kepada BBC kalau negara-negara di kawasan khususnya perlu memberi tahu Taliban bahwa upaya merebut kewibawaan melalui kekerasan itu bermakna bahwa pemerintahan mereka tidak akan diakui.