‘Surat wasiat’ pelaku teror beredar di masyarakat, bagaimana menyikapinya agar tak muncul karakter baru?

4 jam yang lalu Sumber gambar, ANTARA FOTO / Nyoman Hendra Wibowo Kepolisian menyebut pelaku teror pada Mabes Polri dan karakter bom bunuh diri pada Makassar meninggalkan pesan tertulis kepada keluarga mereka.

surat-wasiat-pelaku-teror-beredar-di-masyarakat-bagaimana-menyikapinya-agar-tak-muncul-pelaku-baru-12

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO / Nyoman Hendra Wibowo

Kepolisian menyebut pelaku teror di Mabes Polri serta pelaku bom bunuh diri di Makassar meninggalkan pesan tertulis kepada keluarga itu.

Walau pihak anak pelaku belum mengonfirmasi fakta pesan atau yang kini banyak disebut sebagai surat wasiat itu, isinya sudah viral di media baik.

Pola meninggalkan pesan pra melakukan aksi teror tidak baru kali ini menonjol, kata mantan anggota Perhimpunan Islamiyah.

Para pelaku Bom Bali yang tergabung dalam organisasi teror itu dulu meninggalkan pesan melalui rekaman video.

Bukannya menyebar atau merundung pelaku teror, masyarakat, pertama muda-mudi, didorong berempati dan menyelamatkan orang yang berpotensi terjerumus terorisme.

Adapun Awak Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendesak Kementerian Komunikasi serta Informasi membatasi peredaran suruhan pelaku teror.

Ali Fauzi, mantan pembuat bom yang pernah bergabung dengan pola teror Jemaah Islamiyah, menyuarakan sejumlah pelaku Bom Bali meninggalkan pesan untuk keluarga sebelum melakukan aksi.

Pesan dalam bentuk video tersebut, kata Ali, hampir persis dengan pesan Zakiah Aini, pelaku teror di Jakarta dan Lukman Alfariz, yang meledakkan bom di ajaran Gereja Katedral Makassar.

TEROR

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

“Mereka membuat pesan audio visual untuk orang primitif, istri, anak, dan saudara-saudaranya. Banyak narasi dalam perintah itu adalah harapan kenikmatan surga, ” ujar Ali, Kamis (01/04).

“Jadi itu lebih dulu dilakukan para pelaku bom yang digalang Jemaah Islamiyah, ” ucapnya.

Menurut Ali, lewat perintah terakhir itu para karakter teror berharap ada orang-orang lain yang meniru perangai mereka.

“Kalau dibaca sebab orang-orang yang berpikiran rendah, pesan itu bisa sangat berbahaya. Jadi sangat istimewa membuat generasi muda dengan kebal terhadap paham ekstrem, ” kata Ali.

Ali Fauzi

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Tren dan tujuan di pulih pesan pelaku teror tersebut juga diamati Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, kalau surat wasiat itu dibuat untuk menggaet pelaku gres serta menyebarkan wacana soal surga yang mereka yakini.

Menurut Irfan, menyebarluaskan suruhan itu ke publik justru akan membantu para pelaku teror mencapai tujuan itu, terutama ke sesama karakter muda.

Pelaku aksi teror di Makassar dan Jakarta rata-rata berumur pertengahan dua puluhan tahun.

“Jangan datang yang sudah bercita-cita mengabulkan teror terpicu dengan beredarnya pesan seperti itu, ” logat Irfan.

“Generasi muda satu paket dengan militansi. Militansi itu seperti minyak bumi, bisa setiap saat menyala jika ada yang menerbitkan.

“Yang tidak punya persiapan apa-apa saja bisa mengikuti perbuatan itu, apalagi karakter yang sudah menekuni pendirian ekstrem, ” ujarnya.

Irfan menduga, Zakia sudah terpapar radikalisme sejak memutuskan meninggalkan kuliah. Ia yakin Zakia terdorong menyerang markas luhur Polri setelah membaca surat Lukman Alfariz.

Pesan Lukman beredar di media baik setelah dia tewas memasang diri di Gereja Katedral Makassar. Kini giliran suruhan Zakia yang viral.

TEROR

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF

Irfan berpendapat, Kominfo merupakan otoritas terdepan yang menetapkan mencegah peredaran dan glorifikasi pesan pelaku teror.

Selama ini kementerian tersebut secara rutin menutup situs yang mereka anggap menyimpan konten ekstremisme.

BBC Indonesia sudah berusaha menghubungi Besar Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, untuk mendapat keterangan soal peredaran pesan pelaku teror itu.

Namun had berita ini diterbitkan, Ferdinandus belum menanggapi permintaan ramah.

Sementara saat dikonfirmasi tentang peradaran pesan itu, juru bicara Mabes Polri Irjen Argo Yuwono berkata, “Kami lakukan soft power dengan edukasi kepada masyarakat. ”

TEROR

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Bagaimanapun, di tingkat kausa rumput, publik semestinya menunjukkan empati saat membaca pesan pelaku teror. Ini dianggap Mohammad Aan Anshori, Ketua Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD).

Berempati, menurut Aan, bukan berarti mendukung paham & terorisme.

“Pelaku seperti Zakia ini harus dilihat sebagai korban. Setelah tahu pesannya, kita merundung serta mengecam, ” kata Aan.

“Jika dia masih hidup, apakah pemikirannya hendak sembuh atau dia malah semakin yakin bahwa pemikirannya benar?

“Jadi kita harus menghentikan aneka hujatan dan berempati pada karakter dan calon pelaku yang sebenarnya korban ekstremisme, ” ujar Aan.

teror, serangan Mabes Polri

Sumber tulisan, JARANG FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Bertambah dari itu, Aan memerosokkan agar generasi muda membiasakan diri berbaur dengan pengikut agama dan keyakinan lain.

Merujuk sejumlah inspeksi dan penelitian, Aan menyuarakan masyarakat Indonesia lebih memutuskan hidup dalam kelompok homogen.

Padahal hidup pada komunitas homogen disebut Aan justru menyuburkan pandangan penyimpangan, stereotip negatif, dan prasangka.

“Generasi muda non-Islam, terutama yang Kristiani, jangan kecil dengan aksi teror ini dan justru semakin membaur dengan generasi muda Agama islam, ” kata Aan.

“Kalau orang muda Islam dibiarkan hidup dalam komunitas mereka sendiri, maka mereka letak tunggu waktu untuk mampu terprovokasi.

“Kita perlu silang integrasi, lebih saling merasuk. Mulailah menambah teman dengan berbeda agama.

“Jika kita takut berbaur, kita hendak semakin hidup secara homogen dan friksi di antarkelompok malah akan semakin cendekia, ” ujar Aan.

Taat survei BNPT yang dipublikasi Desember 2020, 85% generasi milenial Indonesia disebut sensitif terpapar radikalisme.

Sementara setahun sebelumnya, kajian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian mengungkap bahwa 52% pelajar menolong radikalisme berbasis agama.