Sungguh angkasa: Astronom mendapat balasan kapan pertama kalinya bintang di alam semesta berangkat bersinar

59 menit yang lalu Sumber gambar, Ralf Kaehler/Tom Abel Para astronom akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan teks untuk pertama kalinya kartika mulai bersinar. Mereka mengucapkan fenomena yang juga dikenal sebagai “fajar kosmik” tersebut terjadi antara 250 maka 350 juta tahun setelah Ledakan Dahsyat atau Big Bang.

luar-angkasa-astronom-mendapat-jawaban-kapan-pertama-kalinya-bintang-di-alam-semesta-mulai-bersinar-6

Bintang pertama

Sumber gambar, Ralf Kaehler/Tom Abel

Para astronom akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan kapan untuk pertama kalinya bintang mulai bersinar.

Mereka mengatakan fenomena yang juga dikenal sebagai “fajar kosmik” tersebut berlaku antara 250 hingga 350 juta tahun setelah Ledakan Dahsyat atau Big Bang.

Analisis mengindikasikan bahwa galaksi-galaksi pertama yang ada di alam semesta memancarkan sinar yang cukup kuat, dengan bisa dilihat dengan teleskop ruang angkasa milik NASA, James Webb, yang rencananya diluncurkan tahun ini.

Kupasan tentang kapan tepatnya kartika mulai bersinar sudah lama menjadi fokus penelitian ahli dari University College London, Inggris, Richard Ellis, dengan dimuat di jurnal keilmuan T he Monthly Notices of the Royal Astronomical Society .

Kepada BBC News, Profesor Ellis membaca aspek penting dari analisis ini adalah menelusuri ke belakang, sejauh mungkin, untuk bisa melihat generasi perdana dari bintang dan galaksi.

“Dan sekarang, kita sudah mendapatkan bukti pertama yang meyakinkan, soal kapan negeri semesta kita ini mulai bercahaya, ” kata Ellis.

Tim pimpinan Ellis mengkaji enam galaksi paling jauh.

Baca juga :

Letak galaksi-galaksi ini sejenis jauh, yang membuat penampakan mereka saat dilihat dengan teleskop paling kuat di dunia tak lebih daripada beberapa piksel saja di layar komputer.

Mereka juga termasuk galaksi yang paling awal di alam seluruh.

Setelah menentukan umur mereka, tim kemudian menghitung awal dari fajar kosmik, yaitu ketika bintang-bintang perdana terbentuk.

‘Seperti mengintip masa lalu’

Teleskop James Webb

Dr Nicolas Laporte, dari Kavli Institute of Astronomy di Cambridge, Inggris, mendapat tugas memimpin analisis.

“Ini adalah salah satu pertanyaan paling penting dalam kosmologi modern. Untuk pertama kalinya kita mampu memperkirakan surat momen penting dalam sejarah alam semesta ini berlaku, ” kata Laporte.

Dia mengatakan mendapatkan jawaban pada pertanyaan tersebut seperti “mimpi menjadi kenyataan”.

“Luar berpunya rasanya mendapatkan data kalau partikel-partikel cahaya sudah berjalan di alam semesta kita ini selama lebih dibanding 13 miliar tahun & kemudian masuk ke teleskop [kita]. Salah satu kelebihan menjadi ilmuwan astrofisika adalah kemampuan melakukan ‘perjalanan lintas waktu’ dan menyaksikan masa lalu, ” jelas Laporte.

Alam semesta terbentuk 13, 8 miliar tarikh yang lalu melalui Ledakan Dahsyat atau Big Mas.

Setelah itu, alam seluruh kita mengalami kegelapan. Menurut kajian baru, 250 juta hingga 350 juta tahun setelah Big Bang, bintang-bintang pertama muncul, sekaligus memasukkan cahaya.

Yang dianggap istimewa dari kajian ini merupakan, analisis yang dilakukan para ahli mengindikasikan cahaya sejak galaksi-galaksi generasi awal itu cukup kuat untuk ditangkap oleh teleskop ruang udara James Webb.

Jika demikian halnya, para astronom kira-kira masih bisa menyaksikan ketika penting evolusi alam seluruh secara langsung.

Kemungkinan tersebut disambut gembira oleh astronom di Skotlandia, Profesor Catherine Heymans.

“Saya kira benar fantastis. Bayangkan, manusia — peradaban kecil yang menghuni Planet Bumi — bisa membuat teleskop ruang udara dan memanfaatkan teleskop itu untuk mengintip apa dengan terjadi beberapa ratus juta tahun setelah Big Jalan, ” ujar Heymans.

Para peneliti menganalisis cahaya bintang di galaksi dengan memakai teleskop ruang angkasa Hubble dan Spitzer.

Peran proporsi atom hidrogen

Teleskop raksasa di Chile

Sumber gambar, ESO

Mereka memperkirakan umur galaksi dengan menganalisis keseimbangan atom hidrogen di suasana bintang-bintang.

Semakin usang usia bintang, semakin banyak proporsi atom hidrogennya.

Tim ilmuwan kemudian menghitung seberapa jauh letak galaksi-galaksi ini.

Karena cahaya dari galaksi-galaksi ini memerlukan waktu pra mencapai kita, makin jauh letaknya, makin ke perempuan pula dari sisi waktu keberadaan benda-benda langit itu.

Enam galaksi yang diteliti adalah objek terjauh dengan bisa ditangkap oleh teleskop dan karenanya termasuk yang paling tua yang bisa dideteksi oleh alat sintetis manusia.

Jarak galaksi diukur dengan menggunakan teleskop yang ada di Bumi, yakni the Atacama Large Millimetre Array (Alma), the Very Large Telescope (VLT), serta the Gemini South Telescope, semuanya berlokasi di Chile.

Para ahli serupa memanfaatkan teleskop kembar Keck di Hawaii.

Dengan berpatokan pada analisis umur galaksi dan kapan mereka mulai terbentuk, tim kemudian menghitung kapan bintang pertama tumbuh di alam semesta.