Sejarah belasan polisi ‘Robin Hood’ dengan mencuri makanan dari Nazi

29 November 2020, 18: 28 WIB Getty Images Selama penjajahan Jerman di tanah mereka, sekelompok polisi Guernsey dikirim ke kamp kerja paksa oleh Nazi setelah diputus bersalah oleh pengadilan Inggris. Apa kesalahan para polisi ini? Mencuri makanan gerombolan Nazi untuk dibagikan ke awak Guernsey yang kelaparan.

  • Patrick Clahane
  • BBC News

Policeman talking to German soldier in Guernsey

Selama penjajahan Jerman di pulau mereka, sekelompok polisi Guernsey dikirim ke kamp kerja paksa oleh Nazi setelah diputus bersalah oleh pengadilan Inggris.

Apa kesalahan para polisi ini? Mencuri makanan pasukan Nazi untuk dibagikan ke warga Guernsey yang kelaparan.

Hanya sebagian polisi dari Pulau Guernsey, di Kepulauan Channel, kawasan Selat Inggris itu, yang akhirnya selamat dan bebas.

Mereka mampu pulang ke kampung halaman di akhir Perang Dunia II, tapi menderita penyakit atau mengalami luka-luka yang mengubah sisa kehidupan mereka.

Begitu kembali dari kamp Nazi, mereka juga diperlakukan sebagai penjahat dan tidak mendapatkan uang pensiun.

Puluhan tahun setelah apa yang dipercaya keluarga mereka sebagai “ketidakadilan mengerikan”, anak-cucu para polisi ini mencari jalan membersihkan nama ayah dan aki mereka.

A German band marches through Guernsey's St Peter Port High Street

Akademisi dari Universitas Cambridge, Inggris, Gilly Carr, menghabiskan bertahun-tahun meneliti masa pendudukan Nazi di Kepulauan Channel.

Carr berkata, penghinaan pemerintahan Nazi terhadap martabat para polisi Guernsey, dalam beberapa hal, bahkan lebih buruk ketimbang yang dialami warga biasa.

“Polisi Guernsey diharuskan memberi hormat pada aparatur Jerman yang lewat. Patuh mereka kewajiban itu sulit dikerjakan karena bertentangan dengan apa dengan mereka anggap benar, ” katanya.

Dua polisi pertama yang melakukan kelakuan perlawanan terhadap pasukan Nazi ialah Kingston Bailey dan Frank Tuck. Mereka memasukkan pasir ke bak bensin kendaraan Nazi.

Bailey dan Tuck juga menuliskan “V for victory” di berbagai lokasi pada Pulau Guernsey.

Policeman talking to German officer in Jersey

Dua polisi itu terinspirasi siaran BBC yang secara diam-diam mereka dengarkan. Pada era konflik itu, kalimat tersebut dianggap satu diantara cara melemahkan penjajah.

“Bagi para muda yang tidak mendapat kesempatan buat bertempur di kemiliteran, siaran radio semacam itu sangat menarik, ” kata Carr.

“Dan status dua muda itu sebagai polisi memberi itu peluang untuk melakukan hal-hal dengan dilarang, ” tuturnya.

Pada musim santai tahun 1941 hingga 1942, warga sipil di Kepulauan Channel cacat makanan. Sebaliknya, pasukan Jerman mempunyai banyak persediaan pangan.

German soldiers eating in a canteen

Bailey dan Tuck suatu suangi masuk ke tempat penyimpanan makanan Jerman. Mereka mengambil makanan kaleng untuk dibagikan ke warga pulau yang kelaparan.

Bailey berkata, dalam memoarnya, bahwa pada Februari 1942 proses rahasia itu “lepas kendali…seluruh bagian kepolisian ikut ambil bagian”.

Pada alhasil Bailey dan Tuck tertangkap enak oleh tentara Jerman yang menunggui mereka. Sebanyak 17 polisi diseret ke pengadilan Kerajaan Guernsey. Beberapa dari mereka didakwa mencuri botol anggur dan minuman keras sebab toko-toko milik penduduk pulau.

Pasukan Jerman diduga menyiksa beberapa polisi semasa proses interogasi.

Seorang polisi bernama Archibald Tardif bercerita tentang saat-saat sesudah mereka ditangkap. Dia berkata, tentara Jerman memperlihatkan pernyataan yang diteken sejumlah koleganya.

Jika tidak menandatangani pernyataan itu, kata Tardiff, dia akan ditembak.

“Akhirnya saya menandatanganinya. Semua pernyataan itu diketik di bahasa Jerman, ” ucapnya.

Frank Tuck and Kingston Bailey

Belasan polisi tersebut diadili oleh pengadilan militer Jerman dan pengadilan Kerajaan Guernsey, dengan secara admistratif, berada di kolong badan yudikatif Inggris.

Mereka dijatuhi hukuman kerja paksa selama empat setengah tahun.

Sejarawan Paul Sanders menyebut proses peradilan yang seimbang era itu tidak terwujud bagi para-para polisi tersebut. Selama ini Sanders berupaya membersihkan nama baik polisi-polisi itu yang seluruhnya kini sudah wafat.

“Pengadilan sipil Inggris pada tahun 1942 bertindak seperti ‘pengadilan kanguru’ dalam era kediktatoran terburuk, ” ujar Sanders.

Pengadilan kanguru adalah kata yang merujuk pada persidangan dengan alat bukti minim dan dakwaan lemah.

Sanders berkata, para polisi itu diberitahu otoritas Guernsey untuk mengiakan bersalah. Tujuannya agar Jerman mencuaikan mereka diadili di pengadilan lokal.

Bila diadili di Guernsey, menurut fakta yang mereka terima, hukuman dari pengadilan tidak akan dihitung sesudah perang.

Sebanyak 16 polisi kemudian dikirim ke penjara dan kamp kegiatan paksa di sejumlah negara Eropa. Banyak dari mereka mengalami status yang mengerikan.

Cattle trucks in Germany

Tuck menulis tentang kekejaman yang tempat alami dari para penjaga: “Saya ditendang dan dipukuli hingga lepas menggunakan pentungan, dan dhantam dengan popor senapan. ”

Herbert Smith ialah satu-satunya polisi yang tewas di luar Inggris.

Tuck bercerita bahwa Smith tidak diberi makanan dan pakaian ketika cuaca sangat dingin. Perutnya dipukuli dengan sekop dan pentung, lalu dibiarkan mati di penjara polisi rahasia Nazi, Gestapo.

Herbert Smith (L) and Charles (R) Friend

Sementara ketika polisi bernama Charles Friend dibebaskan sebab pasukan Amerika Serikat, berat badannya hanya 45 kilogram. Dia serupa tidak dapat menggunakan kakinya.

Friend menderita selama sisa hidupnya sebagai akibat dari “hari-hari yang mengerikan itu”. Dia meninggal tahun 1986 karena serangan jantung.

Saat menghembuskan nafas terakhirnya, Friend tengah dalam perjalanan menuju pameran yang menampilkan kisahnya & para polisi Guernsey tersebut.

Putranya, Keith, berkata, “Dia terluka oleh pengalamannya, baik secara mental maupun fisik, dan tidak pernah pulih sebab itu. ”

Karena hukuman pidana, para-para polisi ini tidak dapat balik ke pekerjaan mereka. Selain itu, mereka juga tak berhak memperoleh uang pensiun.

Keith berkata, ayahnya mencicik otoritas Guernsey. Ayahnya pernah berceloteh, dia dan kawan-kawannya akan balik dari penjara untuk “menyelesaikan seluruh urusan”.

“Dia marah dan merasa telah ditipu oleh otoritas lokal dengan tidak memenuhi janji, ” prawacana Keith.

“Saya menilai apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang mirip dengan aksi Robin Hood. Ini bukan kejahatan untuk keuntungan karakter. Aksi itu untuk memberi sajian orang-orang yang kelaparan, dan sebagai polisi mereka berada dalam status untuk memberikan solusi. ”

Frank Tuck in 1989 next to a German railway line

Setelah konflik, sebagian besar polisi itu mengajukan kompensasi ke pemerintah Jerman Barat atas penderitaan yang mereka wajar.

Pada tahun 1955, delapan di kurun polisi-polisi itu mengajukan banding berasaskan hukuman pidana yang dijatuhkan kepada mereka. Namun upaya itu kandas. Artinya mereka semua berstatus jadi mantan narapidana ketika mereka wafat.

Kasus ini disidangkan oleh pengadilan banding tertinggi untuk wilayah Inggris, tercatat sejumlah negara yang berasosiasi dengan kerajaan itu, seperti Guernsey.

“Pada tahun 1950-an, ada ilusi yang membuktikan bahwa pemerintahan dan pengadilan Inggris di Guernsey terus berlanjut minus terpengaruh pendudukan Nazi. Narasi ini terus berlanjut hingga sekarang, ” kata Sanders.

List of convictions

Pada tahun 2018, sebuah penghampiran dilakukan kepada Komite Yudisial Jawatan Penasihat (JCPC) agar pengadilan banding tertinggi Inggris itu berkenan membuktikan kembali permohonan tiga polisi Guernsey yang diajukan pada tahun 1955.

Pengacara Patrick O’Connor QC, yang mengatasi kasus itu secara pro bono, berkata, “Ini adalah ketidakadilan dengan sudah berlangsung lama dan menjadi tanggung jawab pengadilan, dan sebab karena itu pengadilan harus menyampaikan pengampunan. ”

Namun, upaya banding 3 polisi itu ditolak pada Maret lalu.

Dalam keputusannya, JCPC menyatakan, “Ada sejumlah hambatan dalam banding tersebut, salah satunya fakta bahwa dakwaan atas penganiayaan selama interogasi bisa diajukan kepada kami sebelum tarikh 1955, tapi itu tidak pernah terjadi. ”

Terhadap pernyataan itu, O’Connor berkata, “Tidak ada prosedur asing untuk membatalkan hukuman ini. ”

“Sayangnya, putusan itu akan menjadi belang dalam sistem peradilan Guernsey untuk selamanya, ” kata O’Connor.

Dan untuk Keith Friend, putusan pengadilan tersebut adalah pukulan yang sulit diterima. “Saya sangat kecewa, ” katanya.

“Ini sangat tidak adil serta masih ada noda dalam tanggungan saya yang seharusnya tidak ada. Walau mereka semua sudah meninggal sekarang, noda itu masih mau tetap ada. ”