Satu vaksin Covid-19 yang dikembangkan China diklaim ‘sukses’ pada fase tes klinis

6 jam yang lalu Getty Images Sebuah vaksin Covid-19 dengan dikembangkan di China, diklaim sebanyak pakar, menunjukkan sinyal kesuksesan di fase uji klinis. Saat tersebut terdapat sejumlah vaksin yang pusat dikaji di China, beberapa di antaranya telah mendapat persetujuan dibanding otoritas kesehatan.

Satu vaksin Covid-19 yang dikembangkan China diklaim 'sukses' pada fase tes klinis

Sebuah vaksin Covid-19 dengan dikembangkan di China, diklaim sebanyak pakar, menunjukkan sinyal kesuksesan pada fase uji klinis.

Saat tersebut terdapat sejumlah vaksin yang pusat dikaji di China, beberapa di antaranya telah mendapat persetujuan dari dominasi kesehatan.

Awal November lalu, vaksin dengan dikembangkan Sinovac Biotech, perusahaan farmasi asal China, secara cepat menimbulkan imun sekitar 700 relawan di dalam fase uji klinis.

Di seluruh negeri, sejauh ini terdapat tiga vaksin Covid-19 yang khasiat atau level efikasinya disebut mencapai lebih dibanding 90% dalam tahap uji klinis akhir.

Ketiganya dikembangkan di AS, Jerman, dan Rusia serta membabitkan lebih dari 10. 000 relawan.

Apa yang diketahui tentang vaksin sintetis China?

Empat vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh China sudah memasuki fase ketiga dan fase akhir uji klinis. Satu dari empat vaksin itu diciptakan Sinovac Biotech, kongsi yang juga menjalin kerja sepadan dengan pemerintah Indonesia.

Namun kajian yang diterbitkan di jurnal The Lancet baru menjabarkan hasil pengembangan salah satu vaksin pada fase pertama & kedua tahap uji klinis.

Walau diklaim bisa secara cepat menumbuhkan respons imun tubuh, kajian yang digelar selama April dan Mei cerai-berai itu tidak menyebut berapa bagian efikasi vaksin tersebut.

Zhu Fengcai, satu diantara peneliti yang menulis kajian itu, berkata bahwa vaksin buatan Sinovac itu cocok untuk keperluan kegawatdaruratan.

Fengcai merujuk uji klinis fase pertama yang melibatkan 144 relawan dan fase kedua yang diikuti 600 relawan.

Data hasil uji klinis fase ketiga sekarang belum diterbitkan.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Uji klinis tahap akhir empat vaksin China sedang dikerjakan di Pakistan, Arab Saudi, Rusia, Indonesia, dan Brasil.

Hampir 60. 000 orang telah menerima empat vaksin awal November lalu.

Uji klinis vaksin Sinovac Biotek di Brasil sempat dihentikan pekan lalu. Prosesnya kemudian dilanjutkan setelah kematian seorang relawan dinyatakan tidak terkait dengan vaksin itu.

Tiga dari empat vaksin China ditawarkan kepada para pekerja di garis terdepan pandemi, seperti pembela dan dokter, sebagai bagian sebab program kesehatan darurat.

Adapun angkatan bersenjata China sudah setuju akan memakai salah satu vaksin untuk personel mereka.

Dengan jalan apa perbandingan vaksin China dengan vaksin lainnya?

Vaksin yang dikembangkan dalam program kemitraan Jerman-AS, oleh Pfizer dan BioNtech, dilaporkan lebih dari 90% efektif bersandarkan uji klinis tahap akhir kepada lebih dari 43. 000 relawan.

Kongsi farmasi AS lainnya, Moderna, mengklaim vaksin mereka menunjukkan efikasi dekat 95%, juga setelah uji klinis tahap akhir.

Dua vaksin yang disebut tadi masih dalam tahap awal uji klinis. Penggunaannya belum mendapat lampu hijau dari otoritas kesehatan.

Sementara itu, vaksin Covid-19 kreasi Rusia dilaporkan efektif 92% di dalam uji klinis yang melibatkan 16. 000 sukarelawan. Setelah mendapatkan persetujuan, vaksin ini digunakan untuk keperluan darurat di Rusia, Agustus morat-marit.

Para peneliti di balik tiga vaksin sebetulnya sudah merilis data yang lebih maju daripada vaksin China.

Namun Sinovac Biotech juga melakukan uji klinis tahap akhir yang sama. Baik belum ada rilis terkait hasil tahap akhir itu, belum tetap capaian di AS, Jerman, serta Rusia lebih maju.

Penggunaan vaksin untuk tenaga medis itu menunjukkan dominasi China memiliki keyakinan besar kepada temuan mereka.

Bagaimanapun, hingga kini belum jelas, vaksin mana yang hendak pertama kali diluncurkan dalam rasio besar.

Persetujuan otoritas kesehatan serta proses produksi massal diyakini hendak menjadi rintangan. Para ahli pun meminta publik tidak mengharapkan program vaksinasi yang masif akhir tahun ini.