Peristiwa pemerkosaan: Publik India berang setelah bocah Dalit, bagian paling rendah, diperkosa, dibunuh, dan dikremasi secara paksa

tujuh jam yang lalu Susunan demonstrasi massal telah berlaku selama empat hari berjalan memprotes kasus dugaan pemerkosaan, pembunuhan, dan kremasi paksa terhadap seorang bocah berusia sembilan tahun di ibu kota India, Delhi.

kasus-pemerkosaan-publik-india-berang-setelah-bocah-dalit-kasta-paling-rendah-diperkosa-dibunuh-dan-dikremasi-secara-paksa-4
  • Salman Ravi
  • BBC Hindi, Delhi

Rangkaian demonstrasi massal telah berlangsung selama empat hari guna memprotes kasus dugaan pemerkosaan, pembunuhan, dan kremasi paksa terhadap seorang bocah berumur sembilan tahun di pokok kota India, Delhi.

Orang tua sang bujang menuduh seorang pemuka agama Hindu dan tiga orang lainnya menyerang anak itu ketika dia sedang mengambil air minum dari dispenser di sebuah krematorium.

Pokok sang anak mengatakan gerbang krematorium ditutup dan dirinya diancam ketika menolak kremasi putrinya.

Peringatan: Tulisan ini mungkin mengganggu kesejukan Anda

Menteri Kepala ibu kota Delhi, Aryind Kejriwal mencanangkan akan melakukan penyelidikan akan anak perempuan itu. Kejriwal bertemu dengan keluarga budak itu Rabu (04/08).

Tengah pemimpin oposisi nasional India, Rahul Gandhi juga bertemu dengan sanak keluarga bujang tersebut dan berjanji mau memperjuangkan keadilan.

Kepolisian India menyatakan kasus ini sebagai kasus pemerkosaan massal beserta pembunuhan. Para pria yang diduga terlibat kemudian ditangkap.

Pengampu bocah yang wafat dunia tersebut adalah arah kaum Dalit—kasta paling hina, kelompok masyarakat yang semenjak lama diasingkan dan disudutkan di India.

Baca juga:

Mereka bekerja dengan mengemis di luar bangunan ibadah umat Muslim Sufi yang letaknya berseberangan dengan krematorium di kawasan Nangal, Kota Delhi. Bocah yang meninggal tersebut adalah anak tunggal pasutri tersebut.

Ibu sang bujang mengatakan kepada saya kalau dirinya menyuruh bocah tersebut mengambil air dari krematorium pada Minggu (01/08) suangi.

“Ketika dia tidak balik lebih dari satu tanda, saya mencarinya. Di krematorium, saya menemukan dia tidur di tanah. Bibirnya biru, ada darah di kolong hidungnya, tangan dan lengannya memar, serta bajunya lepek. ”

Ibu sang bani mengeklaim pemuka agama & tiga pria di sana menganjurkan agar tidak menghubungi polisi karena “mereka [polisi] akan berkeras melakukan autopsi dan menyikat organ tubuhnya dan menjualnya”.

Dia juga menuduh kalau keempat pria itu menguncup pintu gerbang krematorium biar dia tidak pergi sembari mengancam dan bahkan memeriksa menyogok.

Pada saat itu, ayah sang anak mengaku tiba di krematorium bersama-sama 150 penduduk. Sebagian tinggi tubuh putrinya sudah menyala.

Sejumlah penduduk mengaku menemui polisi serta berupaya mengatasi api kremasi dengan minuman, namun hanya mampu menyelamatkan kaki sang bocah. Artinya, pemeriksaan post mortem buat memastikan terjadinya pemerkosaan, tak bisa dilakukan.

Menurut seorang perwira kepolisian, berdasarkan informasi dari wali si anak, peristiwa ini telah didaftarkan sebagai kasus dugaan pemerkosaan, pembunuhan, dan kremasi paksa.

Sumber gambar, SOPA Images

Insiden ini hampir mirip dengan kasus pemerkosaan massal dan pembunuhan terhadap seorang remaja Dalit oleh empat pria berkasta lebih luhur di Kota Hathras, Negeri Bagian Uttar Pradesh, tarikh la

Kasus itu mendatangkan kemarahan khalayak setelah kepolisian mengkremasi jenazah si remaja walau keluarganya menentang.

Baca juga:

Sejenis dengan kasus tersebut, ratusan demonstran berkumpul di wadah kremasi di Delhi, menuntut agar para tersangka dihukum mati.

Para majikan dari komunitas Dalit pula berpartisipasi dalam rangkaian muncul rasa selama beberapa keadaan terakhir. Sejumlah aktivis dan khalayak turut menumpahkan amarah mereka di media baik.

Beberapa di antara mereka menjulukinya kejahatan kasta—mengingat pemuka petunjuk yang dituduh melakukan kebusukan berasal dari kasta Brahmana yang tergolong kasta mulia.

Para demonstran juga meminta para perwira polisi setempat diskorsing karena dituduh mengintimidasi keluarga korban.

Gubernur Delhi, Arvind Kejriwal, dan kepala senior Partai Kongres pimpinan Rahul Gandhi, mengunjungi vila keluarga sang anak. Keduanya menawarkan keluarga tersebut untuk mendapat keadilan.

Para demonstran dari Partai Kongres—yang merupakan kubu oposisi di India—membakar boneka Perdana Menteri Narendra Modi. Mereka menuduh Modi tidak mengecam kejahatan tersebut.

Sejak pemerkosaan beramai-ramai dan pembunuhan seorang perempuan muda di dalam bus dalam Delhi pada 2012, urusan pemerkosaan dan kejahatan seksi menjadi sorotan di India.

Kasus 2012 tersebut ditanggapi dengan demonstrasi selama berhari-hari dan memaksa parlemen mengganti undang-undang mengenai kejahatan pemerkosaan.

Meski demikian, belum ada tanda-tanda kejahatan kepada perempuan dewasa dan bujang perempuan menurun.

Berdasarkan keterangan tindak pidana belum lama, satu dari empat korban pemerkosaan di India adalah anak-anak. Pada mayoritas kasus, objek mengenal pelaku kejahatan.