Peristiwa Novel Baswedan: Jaksa penuntut bersitegang dua terdakwa ‘melakukan penganiayaan berat’ terhadap Novel Baswedan

Jaksa penuntut umum bersikukuh bahwa besar terdakwa penyiraman air keras kepada Novel Baswedan telah melakukan pemerasan berat sehingga menyebabkan luka mengandung pada kedua mata penyidik KPK tersebut.

Peristiwa Novel Baswedan: Jaksa penuntut bersitegang dua terdakwa 'melakukan penganiayaan berat' terhadap Novel Baswedan

Jaksa penuntut umum bersikukuh bahwa dua terdakwa penyiraman air keras terhadap Roman Baswedan telah melakukan penganiayaan berat sehingga menyebabkan luka berat pada kedua mata penyidik KPK itu.

Demikian replik ataupun tanggapan jaksa penuntut umum pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, yang disiarkan melalaikan YouTube, Senin (22/06).

Menurut jaksa, alasan dua tersangka hanya memberikan “pelajaran” kepada target, tetapi faktanya mengakibatkan “mata kiri korban tidak berfungsi” dan “mata kanan hanya berfungsi 50%”, sehingga menyebabkan “cacat permanen”, tidak bisa diterima.

Hal ini menanggapi pembelaan (pledoi) kuasa norma kedua terdakwa pelaku penyerangan Roman Baswedan, pada Senin (15/06) pekan lalu, yang meminta kliennya dibebaskan dari segala tuntutan.

Semacam diketahui, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, dituduh melakukan aksi penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, pada Selasa 11 April 2017, usai Novel menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya.

Jaksa penuntut, dalam repliknya, juga bersikukuh bahwa klaim besar terdakwa yang menyebut kerusakan ceroboh Novel Baswedan merupakan “kesalahanan penanganan” dan “bukan akibat penyiraman”, tidak beralasan.

Hal ini, begitu jaksa, didasarkan hasil visum yang dikeluarkan RS Mitra Keluarga pada 24 April 2017, yang menyimpulkan bahwa “ada luka bakar” pada kedua mata, dahi dan pupur.

“Ada luka mengobarkan 2% pada dahi, pipi kanan dan kiri, batang hidung, kelopak mata kanan dan kiri, serta luka bakar derajat tiga di selaput bening korban mata serta kiri, akibat berkontak dengan benih yang bersifat asam… ” membuka jaksa.

Walaupun belum diketahui derajat lukanya, menurut jaksa, akibat perbuatan terdakwa, mengakibatkan Roman Baswedan mengalami luka berat.

“Yaitu mengalami penyakit ataupun halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening kornea sembrono kanan dan kiri, yang menjadikan potensi kebutaan atau hilangnya longok indera pada penglihatan, ” rata jaksa.

Sidang mau dilanjutkan Senin, 29 Juni 2020, dengan mendengarkan tanggapan (duplik) awak pengacara terdakwa atas replik jaksa penuntut.

Apa kandungan pembelaan tim pengacara dalam wasit sebelumnya?

Dalam pembelaannya, tim pengacara kedua terdakwa daripada Divisi Hukum Polri mengatakan kerusakan pada mata Novel Baswedan merupakan “kesalahanan penanganan” dan “bukan kelanjutan penyiraman”.

Mereka berargumen hasil visum et repertum cetakan 03/VER/RSMKKG/IV/2017, yang dikeluarkan oleh Vila Sakit Mitra Keluarga, mengenai luka bakar di bagian wajah & kornea mata kanan dan kiri Novel, bertentangan dengan keterangan saksi-saksi.

“Kerusakan mata yang dialami saksi korban ini [Novel Baswedan] sesungguhnya bukan akibat langsung dari tindakan penyiraman yang dilakukan terdakwa, melainkan kesalahan penanganan yang dilakukan pihak-pihak tertentu, ” tutur tim pengacara kedua terdakwa.

Tim penasihat hukum kedua terdakwa dalam nota pembelaan ataupun pleidoi kemudian meminta kliennya biar dibebaskan dari segala tuntutan.

Mengapa dua terdakwa dituntut hukuman setahun pidana penjara?

Sebelumnya, dalam pembacaan surat tuntutan di Pengadilan Jati Jakarta Utara, Kamis (11/06), Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fedrik Adhar Syaripuddin, menyebutkan kedua terdakwa benar melakukan penganiayaan berat terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, secara menyiramkan air keras ke arah wajah.

Jaksa menghargai Rahmat terbukti menganiaya dengan terencana yang mengakibatkan luka berat sebab menggunakan cairan asam sulfat atau H2SO4 untuk menyiram Novel. Tengah Rony dinilai terlibat dalam pemerasan karena membantu Rahmat.

Kedua terdakwa dinilai melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP junto Kausa 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat berencana.

Meskipun begitu, Jaksa menilai tindakan Rony dan Ganjaran tak memenuhi unsur-unsur dakwaan primer terkait penganiayaan berat dari Pencetus 355 ayat (1) KUHO junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tangkisan Jaksa adalah terdapat unsur ketidaksengajaan saat Rahmat menyiram cairan asam sulfat yang mengenai dan makan mata Novel.

Menurut Jaksa, Rahmat sebenarnya berhajat menyiramkan cairan tersebut ke awak Novel.

JPU kemudian menuntut kedua terdakwa dengan hukuman penjara selama satu tahun.

Jaksa menyebut kedua terdakwa tidak ingin menyiramkan air berpenat-penat ke bagian wajah Novel. Menurut jaksa, kedua terdakwa hanya ingin menyiramkan cairan keras ke lembaga Novel untuk “memberikan pelajaran”.

“Bahwa dalam fakta persidangan, tersangka tidak pernah menginginkan melakukan pemerasan berat. Terdakwa hanya akan menyerahkan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman cairan keras ke Novel Baswedan ke badan.

“Namun mengenai kepala korban. Akibat perangai terdakwa, saksi Novel Baswedan menjadikan tidak berfungsi mata kiri sepotong hingga cacat permanen, ” perkataan jaksa saat membacakan tuntutan.

Jaksa menyebut dakwaan pokok yang didakwakan dalam kasus tersebut tidak terbukti. Oleh karena tersebut, jaksa hanya menuntut kedua terdakwa dengan dakwaan subsider.

“Oleh karena dakwaan primer tidak terbukti, terdakwa harus dibebaskan sebab dakwaan primer. Kemudian kami mau membuktikan dakwaan subsider. Dakwaan subsider melanggar Pasal 353 ayat dua KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP, ” tambah jaksa.

Apa tanggapan Roman Baswedan atas tuntutan?

Menanggapi tuntutan jaksa, awak advokasi Novel Baswedan, melalui pancaran pers pada Kamis, 11 Juni 2020, menganggap kasus tersebut sebagai “sandiwara hukum”.

“Sandiwara hukum yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat akhirnya terkonfirmasi. Penggugat pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta hanya menuntut dua terdakwa penyerbu Novel Baswedan satu tahun penjara, ” demikian siaran pers yang diedarkan di Twitter, Kamis 11 Juni 2020.

Novel Baswedan, melalui tim advokasinya memandang, tuntutan jaksa “tidak hanya benar rendah, akan tetapi juga memalukan” serta “tidak berpihak pada objek kejahatan”.

“Terlebih tersebut adalah serangan brutal kepada pemeriksa KPK yang telah terlibat penuh dalam upaya pemberantasan korupsi. Kiranya dapat mengungkapkan fakta sebenarnya, justru penuntutan tidak bisa lepas sebab kepentingan elit mafia korupsi serta kekerasan, ” papar tim pembelaan.

Novel Baswedan disiram air keras pada Selasa 11 April 2017, usai salat Subuh di masjid dekat rumahnya. Kejadian itu mengakibatkan mata kiri Novel tidak berfungsi hingga cacat tetap.

Namun, polisi anyar berhasil menangkap pelaku penyiraman tirta keras dua tahun lebih atau Desember 2019.