Pengangkatan Yaqut Cholil Qoumas yang ‘tegas dan tidak kenal kompromi’ sebagai Menteri Agama untuk ‘meredam kaum Islam garis keras’

4 jam yang berarakan ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A Penetapan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas yang dikenal ‘tegas dan tidak kenal kompromi’ melawan tindakan intoleransi sebagai Menteri Agama bertujuan untuk salah satunya menghadapi kelompok-kelompok Islam garis bersusah-susah seperti Front Pembela Islam (FPI), kata pengamat politik Islam Nusantara.

Pengangkatan Yaqut Cholil Qoumas yang 'tegas dan tidak kenal kompromi' sebagai Menteri Agama untuk 'meredam kaum Islam garis keras'
  • Indra Eben Lumbanrau
  • Wartawan BBC News Indonesia

Penunjukan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas yang disebut ‘tegas dan tidak kenal kompromi’ melawan tindakan intoleransi sebagai Gajah Agama bertujuan untuk salah satunya menghadapi kelompok-kelompok Islam garis sungguh-sungguh seperti Front Pembela Islam (FPI), kata pengamat politik Islam Nusantara.

Sosok Yaqut juga menanamkan ‘harapan’ di kalangan kelompok minoritas dan aktivis hak asasi pribadi (HAM) dalam terciptanya kebebasan mematuhi dan berkeyakinan, seperti yang diungkapkan komunitas GKI Yasmin dan pengkaji Setara Institute, lembaga demokrasi & perdamaian.

Yaqut, menurut Wakil Ketua Setimpal Institute, Bonar Tigor Naipospos, khususnya berani merevisi Surat Keputusan Berhubungan (SKB) dua menteri soal pembentukan rumah ibadah yang membatasi kemandirian beragama dan berkeyakinan.

Namun penunjukan itu mendapatkan respon negatif dari Ormas Islam FPI yang menyebut Yaqut memiliki gaya preman serta kerap membuat pernyataan gaduh dan mengadu domba.

Pengurus Besar Nahdlatul Ustazah (PBNU) membantah pernyataan FPI tersebut.

Meredam kelompok garis keras

Dalam pidatonya seusai dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengatakan akan melakukan terobosan-terobosan yang berbeda dengan menteri sebelumnya.

“Sebenarnya banyak yang dikerjakan, tapi kalau mau dirangkum itu hanya menjadi satu kalimat pendek yaitu bagaimana membuat agama sebagai inspirasi, tidak aspirasi. ”

“Itu bisa dalam breakdown ke banyak kejadian, baik bagaimana cara berhubungan antar umat beragama, inter umat beragama… dan kita lihat nanti sah akan ada terobosan-terobosan dari Kemenag yang akan berbeda dari masa-masa sebelumnya, ” kata Yaqut.

Pengkritik politik Islam dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi menganalisis, salah kepala alasan Jokowi memilih Yaqut sebagai Menteri Agama di tengah penuh calon yang layak dari NU adalah untuk mengurangi pengaruh kaum Islam garis keras yang menyusun dalam beberapa tahun belakangan tersebut.

“Kalau melihat sejarah atau pengalaman sebelumnya Yaqut termasuk sosok dengan sangat tegas dan tidak kesepakatan terhadap ormas seperti FPI. ”

“Sepertinya ke depannya memang dipasang buat menghadapi kelompok garis keras ini, apalagi sosok Yaqut didukung sebab ormas keagamaan yang sangat tumbuh yang dominan di Indonesia, ” kata Yon yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Inisiatif Moderasi Indonesia (Inmind) Institute.

Namun, Yon meminta agar Yaqut menggunakan langkah perbincangan dan menunjung penegakan hukum berperan menghindari potensi munculnya konflik mem.

Pertentangan antara Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang berada di bawah GP Ansor dengan FPI kerap kala terjadi.

Kemudian, Yaqut juga beberapa kala melontarkan kritik kepada FPI & pemimpinnya Rizieq Sihab.

Ada tumpuan

Jemaat GKI Yasmin Bogor dengan tempat ibadahnya disegel selama delapan tahun, menyambut baik penunjukan Yaqut sebagai Menteri Agama.

“Ketum Ansor, rasanya cukup aman, punya keyakinan tegas untuk anti kepada pihak-pihak yang mempolitisi agama.

“Harapan saya sebagai jemaat GKI Yasmin sampai sekarang belum bisa beribadah di rumah ibadah yang sudah mempunyai IMB. Semoga Menag yang baru memberikan perhatian khusus. Kami membenarkan kalau dari Ansor itu so pasti bisa mendukung keberagaman dan toleransi beragama, ” kata perwakilan dibanding Jemaah Gereja GKI Yasmin, Bogor, Renata Anggraini.

Jemaat GKI Yasmin sudah melakukan ibadah di seberang Istana Presiden sebanyak 214 kali sejak Februari 2012 hingga 1 Maret 2020 karena gerejanya disegel.

“Permasalahan GKI Yasmin, pemerintah tunduk sebanding kelompok-kelompok intoleran, harusnya tidak. Saya minta ada pernyataan khusus selalu dari Menteri Agama terhadap permasalahan kami, ” ujarnya yang membicarakan GKI Yasmin sudah memiliki IMB, mendapatkan putusan sah dari PTUN Bandung, Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman RI.

Dorongan revisi peraturan pembentukan rumah ibadah

Senada dengan itu, Pengantara Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos menaruh harapan yang tumbuh kepada Yaqut yang ia tutur memiliki komitmen besar pada kemajemukan, perbedaan keyakinan, kebebasan beragama, pemaafan dan kontra radikalisme.

“Ia ialah anak muda yang menjadi penerus cita-cita Gus Dur. Apalagi dalam media sosial muncul harapan agar Yaqut berani merevisi bahkan mencabut peraturan dua menteri soal pendirian rumah ibadah, ” kata Bonar.

Menurut Bonar, peraturan tentang pembentukan rumah ibadah itu perlu direvisi karena membatasi ruang masyarakat untuk beribadah.

“Di peraturan itu jika ingin mempunyai tempat ibadah harus mendapatkan tanda tangan dari 60 orang sekitar, itu saja sudah bentuk pembatasan dan bertentangan dengan prinsip dasar HAM. Ini benar orang beribadah bersama-sama tapi kudu mendapatkan persetujuan dulu dari orang lain.

“Belum lagi perizinan dapat IMB, birokrasi sangat ketat mulai lantaran bawah tanda tangan 60 orang, awut-awutan persetujaan 90 orang akan menjadi pengguna, RT, RW, lurah, camat sampai FKUB dan kepala daerah, itu jenjang birokrasi sangat lama, ” ujarnya.

Selain itu, Bonar berharap, Yaqut juga berani memberikan masukan ke pemerintah agar aturan tentang penodaan agama dihapuskan.

“Serta melanjutkan rencana yang telah diletakkan Menag sebelumnya yaitu pengarusutamaan moderasi beragama pertama di kurikulum dan konten pendidikan agama, ” kata Bonar.

FPI: Yaqut menteri bergaya preman

Pengurus FPI yang juga menjabat Wasekjen PA 212, Novel Bamukmin menyebut Yaqut jadi sosok menteri yang bergaya biasa dan sering membuat pernyataan mengusik dan adu domba.

“Karena saya masih ingat bagaimana gaya premannyadi salah kepala TV. Sangat berbahaya saat ini sudah menjadi pejabat negara masih menonjolkan gaya premannya dan kudu berkaca diri, ” kata Novel.

Roman menjelaskan, pemilihan menteri agama era ini berasal dari kalangan politis bukan profesional sehingga berpotensi memunculkan penyelewengan atas nama agama untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Saat ditanya terkait analisis yang menyebut penetapan Yaqut untuk meredam FPI, Novel mengatakan: “Saya rasa kalau Menag mau meredam dengan cara yang ektrem atau frontal justru akan makin kuat perlawanan dari ormas-ormas yang berseberangan dengan ormasnya Yaqut, ” kata Novel.

Ia juga mengecap, “Ormasnya Yaqut malah yang sering melakukan persekusi saudaranya sendiri, & itu jelas intoleran. Kalau sedia meredam ormas garis keras, redamlah ormasnya sendiri yang sampai membakar bendera Tauhid, ” katanya

PBNU: Gus Yaqut penegak toleransi

Ketua Lembaga Uraian dan Pengembangan Sumber Daya PBNU Rumadi Ahmad membantah pernyataan dari FPI tersebut.

“Kalau FPI itu sungguh biasa saja apa yang dilakukan presiden di mata FPI itu tidak ada yang benar, maka biasalah sebagai kritik saya taksir tidak apa-apa, biasa saja, ” katanya.

Sebaliknya, ia menyebut Yaqut merupakan sosok yang tepat menjelma Menteri Agama.

“Sebenarnya sejak introduksi kita itu agak skeptis dgn penunjukan Menag yang lalu dan akhirnya terjawab dalam waktu utama tahun ini, Menag tidak menunjukan kinerja yang maksimal. Sosok Gus Yaqut paham betul soal pegangan, Kemenag, latar belakang pesantren.

“Di tambah lagi terkait persoalan toleransi melihat posisinya sebagai GP Ansor yang berhadapan head to head dengan kelompok garis keras. Ia akan memiliki teguh prinsipnya sebagai penegak toleransi dan pelindung minoritas, ” sebutan Rumadi.