Pemimpin Macron dan kontroversi kartun Nabi Muhammad: Arab Saudi kecam ‘karikatur yang menyinggung’

Diperbarui 3 jam yang lalu Sumber gambar, Reuters Arab Saudi mengecam keras kartun Nabi Muhamad, penerbitan yang dibela oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, menyusul pemenggalan seorang guru. Pernyataan dari pejabat kementerian luar negeri Saudi seperti yang dilaporkan kantor berita SPA di Selasa (27/10) menyebutkan neegara negeri itu “mengecam penggambaran yang menggoleng terkait Rasul umat Islam, …

Pemimpin Macron dan kontroversi kartun Nabi Muhammad: Arab Saudi kecam 'karikatur yang menyinggung'

Protes warga Irak di Baghdad terkait penyataan Macron soal penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Arab Saudi mengecam keras kartun Nabi Muhamad, penerbitan yang dibela sebab Presiden Prancis Emmanuel Macron, menyusul pemenggalan seorang guru.

Pernyataan lantaran pejabat kementerian luar negeri Saudi seperti yang dilaporkan kantor berita SPA pada Selasa (27/10) menyebutkan neegara kerajaan itu “mengecam visualisasi yang menyinggung terkait Rasul umat Islam, Muhammad… atau nabi-nabi yang asing. ”

Kerajaan juga “menolak upaya untyuk mengaitkan antara Islam dan terorisme, ” sebut pernyataan itu dengan tambahan negara itu juga “mengecam segala bentuk terorisme, siapapun pelakunya. ”

Saudi juga menyebut “kebebasan berputar dan kebebasan kultural adalah mulia hal yang harus dijunjung secara saling menghargai, toleransi dan tenang. ”

Namun Saudi tidak menyebut nama Prancis dalam pernyataan itu.

Kecaman juga dikeluarkan Qatar dan Maroko mengikuti Turki.

Kecaman itu muncul setelah Pemimpin Macron mengatakan negaranya tidak mau berhenti menerbitkan atau membicarakan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad, seminggu setelah pemenggalan guru Samuel Paty.

Kiai sejarah itu menunjukkan kartun kepada para muridnya dalam pelajaran kemandirian berekspresi.

Pernyataan Macron ini menimbulkan gelombang kritikan dan protes di sebanyak negara termasuk di Irak, Palestina, Libia dan Suriah.

Pernyataannya juga melahirkan seruan sejumlah negara untuk memboikot produk Prancis.

Recep Tayyip Erdogan

Seruan boikot juga dilontarkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena apa yang menyerukan kepada disebutnya sikap bermusuhan terhadap Muslim dengan ditunjukkan oleh pemimpin Prancis.

“Sekarang saya menyerukan kepada bangsa kita, sebagaimana yang telah terjadi di Prancis untuk tidak membeli merek-merek Turki, maka saya menyerukan kepada bangsa saya di sini serta mulai sekarang: jangan perhatikan barang-barang berlabel Prancis, jangan beli barang-barang itu, ” tegas Erdogan pada pidato di televisi pada Senin (26/10).

Presiden Erdogan juga menyerukan kepada Uni Eropa untuk membatasi peristiwa yang disebut sebagai agenda anti-Islam yang diusung Macron.

Boikot buatan Prancis sudah terjadi di beberapa negara Timur Tengah sebagai wujud protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron atas hak untuk membuktikan kartun Nabi Muhammad.

Pemerintah Prancis pun telah meminta aksi pemboikotan diakhiri.

Rak tempat produk Prancis dipajang tampak kosong di supermarket Kuwait

Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan seruan “tak berdasar” untuk boikot itu “didorong oleh kelompok minoritas radikal”.

Produk Prancis telah ditarik dari beberapa gardu di Kuwait, Yordania, dan Qatar.

Pandangan negatif tersebut berasal dari komentar Macron setelah pembunuhan seorang tutor Prancis yang mempertunjukkan kartun Rasul Muhammad di kelas.

Sang presiden berceloteh guru itu, Samuel Paty, “dibunuh karena para Islamis menginginkan zaman depan kami”, tetapi Prancis “tidak akan menyerahkan kartun kami”.

Seruan boikot produk Prancis di Yordania

Penggambaran Nabi Muhammad sanggup sangat menyinggung bagi umat Islam karena tradisi Islam secara terang melarang gambar Muhammad dan Tuhan.

Tetapi sekularisme negara – atau laïcité – adalah pusat identitas nasional Prancis. Membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, menurut negara, merusak persatuan.

Pada keadaan Minggu, Macron menegaskan kembali pembelaannya terhadap nilai-nilai Prancis dalam sebuah twit yang berbunyi: “Kami tidak akan menyerah, selamanya. ”

1px transparent line

Para pemimpin politik dalam Turki dan Pakistan telah makan kepada Macron, menuduhnya tidak meluhurkan “kebebasan berkeyakinan” dan memarjinalkan jutaan Muslim di Prancis.

Pada hari Minggu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, untuk kedua kalinya, kalau Macron harus melakukan “pemeriksaan kesehatan mental” terkait pandangannya tentang Agama islam.

Seberapa luas boikot terhadap produk Prancis?

Produk-produk Prancis diturunkan dari beberapa rak supermarket di Yordania, Qatar, dan Kuwait pada hari Minggu. Buatan kecantikan dan perawatan rambut keluaran Prancis, misalnya, tidak lagi dipajang.

Di Kuwait, serikat pengecer besar telah memerintahkan pemboikotan barang-barang Prancis.

Serikat Klub Koperasi Konsumen, yang merupakan serikat non-pemerintah, mengatakan telah mengeluarkan arahan sebagai tanggapan atas “penghinaan berulang” terhadap Nabi Muhammad.

Dalam sebuah maklumat, Kementerian Luar Negeri Prancis mengiakan langkah tersebut.

Ia menulis: “Seruan untuk boikot ini tidak berpedoman dan harus segera dihentikan, beserta semua serangan terhadap negara saya, yang didorong oleh kelompok minoritas radikal. ”

Rak tempat produk Prancis dipajang tampak kosong di supermarket Kuwait

Dalam dunia maya, seruan untuk boikot serupa di negara-negara Arab lainnya, seperti Arab Saudi, telah beredar.

Tagar yang menyerukan boikot jaringan supermarket Prancis, Carrefour, adalah topik paling tren kedua di Arab Saudi, ekonomi terbesar di dunia Arab.

Tatkala itu, unjuk rasa anti-Prancis berskala kecil digelar di Libia, Gaza, dan Suriah utara, tempat dengan dikuasai milisi yang didukung Turki.

Mengambil data statistik Turki, kantor informasi Reuters melaporkan Prancis tercatat jadi eksportir terbesar ke-10 ke Turki. Mobil Renault buatan perusahaan Prancis dilaporkan sebagai salah satu kendaraan dengan laris di Turki.

Mengapa Prancis berperan dalam perselisihan ini?

Pembelaan keras Macron terhadap sekularisme Prancis dan pertimbangan terhadap Islam radikal menyusul pembunuhan Paty telah membuat marah kurang sosok di dunia Muslim.

Presiden Erdogan bertanya dalam pidatonya: “Apa masalah individu bernama Macron dengan Islam dan Muslim? ”

Macron, Samuel Paty

Sementara pemimpin Pakistan, Imran Khan menuduh sang pemimpin Prancis “menyerang Islam, jelas tanpa memahami apapun tentangnya”.

“Presiden Macron telah menyerang dan melukai sentimen jutaan Muslim dalam Eropa dan di seluruh dunia, ” katanya dalam sebuah twit.

Mula bulan ini, sebelum pembunuhan si guru, Macron mengumumkan rencana peraturan yang lebih ketat untuk menyalahi hal yang ia sebut “separatisme Islam” di Prancis.

Ia mengatakan, grup minoritas Muslim di Prancis kepala terdiri dari kira-kira enam juta orang – berpotensi membentuk “masyarakat tandingan”. Ia menggambarkan Islam jadi agama “dalam krisis”.

Di tengah serangan dari sejumlah negara, Prancis memiliki dukungan dari Jerman.

“Serangan pribadi Kepala Erdogan kepada Presiden Macron taat saya adalah momen buruk dan tidak dapat diterima. Yang penting kami menunjukkan solidaritas kepada Prancis dalam memerangi ekstremis Islam, khususnya sesudah aksi terorisme mengerikan dengan terjadi minggu lalu, ” introduksi Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas pada Senin (26/10).

Kartun dengan menggambarkan Nabi Muhammad memiliki warisan politik yang gelap dan intens di Prancis.

Pada 2015, 12 orang tewas dalam serangan di kantor majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, yang menerbitkan kartun tersebut.

Beberapa publik Muslim terbesar di Eropa Barat menuduh Macron berusaha menekan keyakinan mereka dan mengatakan kampanyenya berisiko melegitimasi Islamofobia.

Bagaimana hubungan Prancis secara Turki?

Seruan Presiden Erdogan untuk memboikot produk Prancis dikeluarkan sesudah terjadi ketegangan selama berbulan-bulan antara Prancis dan Turki.

Walaupun kedua negara adalah anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mereka mendukung pihak-pihak yang berlawanan dalam konflik antara Armenia dan Azerbaijan, dan serupa dalam perang saudara di Libia.

Pemimpin Macron juga telah berselisih dengan Presiden Erdogan terkait dengan eksplorasi minyak dan gas oleh Turki di wilayah perairan yang diperebutkan di Laut Tengah. Prancis langsung menerjunkan pesawat tempur dan kapal fregat pada bulan Agustus pada tengah ketegangan.

Seruan boikot itu juga dikeluarkan sehari setelah Erdogan mengatakan bahwa Macron memerlukan “pemeriksaan kesehatan mental” terkait pandangannya yang keras terhadap Islam.

Komentar Erdogan itu mendorong Prancis memanggil wakil besarnya di Ankara untuk muka.