Peledak Makassar: ‘Milenial’ terlibat peledak bunuh diri dan iming-iming ‘jalan pintas ke surga’, bagaimana antisipasinya?

4 jam dengan lalu Sumber gambar, KURUN FOTO Peneliti terorisme mengatakan banyak anak muda dengan dijaring dalam kelompok teroris melalui media internet serta diiming-imingi jalan pintas ke surga jika melakukan bom bunuh diri.

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Nusantara

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Peneliti terorisme mengatakan banyak anak muda dengan dijaring dalam kelompok teroris melalui media internet serta diiming-imingi jalan pintas ke surga jika melakukan peledak bunuh diri.

Hal itu dikatakan menyusul peristiwa pengeboman di sebuah gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pelakunya merupakan seorang pemuda kelahiran tahun 1995.

Pemerintah diminta lebih gencar meneliti perekrutan teroris melalui internet dan membenahi program deradikalisasi mantan teroris, yang mematok kini disebut masih sering melakukan perekrutan anggota segar, salah satunya melalui jalan sosial.

Sementara tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan telah menarik berbagai pihak untuk terus mengatasi konten-konten radikal pada media sosial.

‘Target khas kelompok teroris’

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa pelaku pengeboman bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, yang berinisal L adalah seorang muda kelahiran 1995.

Ia dan istrinya berusaha mendatangi gereja sebelum meledakkan muncul, mengakibatkan 20 orang di wilayah gereja itu luka-luka.

Boy Rafli membicarakan anak-anak muda adalah bahan khas dari kelompok teroris.

“Jadi inisial L ini dengan istrinya merupakan termasuk kalangan milenial dengan sudah menjadi ciri istimewa korban dari propaganda jaringan terorisme, ” kata Boy sebagaimana dilaporkan wartawan Darul Amri di Makassar buat BBC News Indonesia.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.

Kedua pelaku tersebut disebut polisi bergabung Jamaah Ansharut Daulah atau JAD.

Kelompok itu berafiliasi dengan kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam atau ISIS.

Menanggapi itu, peneliti terorisme dari  Universitas Malikussaleh Aceh,   Al Chaidar, mengatakan sejak empat tahun belakangan, gerombolan terorisme JAD kerap mengincar anak-anak muda.

Yang diincar, katanya, bukan sejak pesantren, tapi pengguna internet.

“Yang direkrut biasa anak muda, milenial terakhir, yang dianggap masih suci tanpa ada pengaruh NU atau Muhamadiyah. Mereka-mereka yang cenderung kosong secara keyakinan, kering secara spiritual.

“Kebanyakan mereka [perekrut] menggunakan media baik, mereka membahas tentang jihad dan makna mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven , jalan pintas ke surga, ” kata Al Chaidar.

Bom Makassar

Sumber gambar, Antara

Menurutnya, pemerintah perlu memasukkan sumber daya untuk melakukan pengawasan di internet buat mencegah perekrutan teroris melalui media sosial maupun penerapan berbagi pesan.

“Saat ini [pengawasan] belum efektif. Masih overload pekerjaan pemerintah. Perlu bertambah banyak orang lagi untuk melakukan pengawasan, ” ujarnya.

Terkait itu, Besar BNPT Kombes Boy Rafli, mengatakan pihaknya akan terus berupaya untuk mengatasi konten-konten radikal di media baik.

“Ini sinergitasnya secara semua pemangku kepentingan, bekerjasama dengan TNI, Polisi, BIN, Badan Siber dan Isyarat Negara (BSSN), semua lembaga negara termasuk Kominfo, sudah menjadi agenda utama dalam mengantisipasi sebaran paham radikal, intoleran di dunia imajiner.

“Itu yang kudu dilaksanakan dengan juga pelibatan unsur masyarakat karena bangsa menggunakan sarana cyber space yang tentunya harus waspada dengan kondisi di negeri maya” kata Boy Rafli.

Boy menambahkan literasi dan edukasi digital untuk generasi milenial sangat diperlukan agar mereka tidak terlibat dalam gerakan radikal.

Siapa yang lakukan perekrutan?

Al Chaidar mengatakan yang melakukan perekrutan di antaranya adalah mantan teroris, laksana mereka yang kembali atau dideportasi dari Suriah, pula ulama-ulama muda yang disebutnya penganut wahabi takfiri ataupun anti terhadap mereka dengan non-Muslim.

Selain tersebut, Al Chaidar mengatakan, petunjuk narapidana yang tidak megalami proses deradikalisasi aktif melaksanakan perekrutan sekeluarnya dari tangsi.

“Hampir 90 komisi dari mereka (yang dipenjara) tak mau terderadikasliasi. Itu melakukan rekrutmen yang benar aktif melalui media sosial, ” katanya.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA

Menurut keterangan, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), dalam kurun waktu 2002 mematok 2020, sebanyak 11, 4% dari 825 bekas narapidana teroris, atau lebih dari 90 orang, kembali terkebat gerakan terorisme selepas sebab penjara.

Dari angka 90-an itu, sebanyak 38 delapan orang memiliki tingkat “militansi yang tinggi”.

Alif Satria, peneliti yang fokus pada kajian terorisme dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan harus ada keberlanjutan dari program deradikalisasi pemerintah agar para bekas napi tak lagi terlibat tindakan terorisme.

“Harus tersedia peningkatan evaluasi, koordinasi, dan keberlanjutan dari program-program deradikalisasi agar angka 11, 4% ini menjadi 0, ” ujarnya.

bom makassar

Sumber tulisan, JARANG

Alif mengatakan zaman ini, selain tidak wajib bagi para napiter, program deradikalisasi belum memiliki barometer terkait program deradikalisasi yang berhasil atau yang disebutnya success matrix.

“Belum tersedia yang membuat penilaian rencana sebenarnya bagaimana bentuk deradikalisasi yang berhasil? Namun, yang perlu dicatat ini adalah permasalahan semua negara, ” kata Alif.

Taat Alif pembuatan ukuran kejayaan program deradikalisasi mesti dikerjakan dengan melibatkan sejumlah organisasi yang telah melakukan pendampingan para napi teroris.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.

Menurutnya, program deradikalisasi juga harus dilakukan sesuai dengan tingkat ektremisme seseorang.

“Ada program yang diarahkan ke mereka yang secara sukarela ingin mengikuti program (ekstremisme rendah) serta ada program yang diarahkan ke mereka yang tidak mau mengikuti (ekstremisme tinggi).

“Menurut saya lebih molek diwajibkan agar semua napiter paling tidak mendapatkan jalan deradikalisasi, ” tambahnya.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Sebelumnya, anak bujang lain yang terlibat pada aksi pengeboman bunuh muncul adalah Dani Dwi Permana, pelaku bom Marriott di tahun 2009.

Saat melakukan aksinya, ia baru berusia umurnya 18 tarikh.