Pekerja migran Bangladesh ditahan dan dideportasi Malaysia karena mengkritik pemerintah, ‘Saya hanya berbicara tentang diskriminasi kepada migran’

26 Juli 2020, 16: 02 WIB Sumber gambar, Getty Images Otoritas Malaysia menyebut mereka telah menangkap pria Bangladesh yang menjawab perlakuan pemerintah Malaysia terhadap migran ilegal selama pandemi virus corona.

Pekerja migran Bangladesh ditahan dan dideportasi Malaysia karena mengkritik pemerintah, 'Saya hanya berbicara tentang diskriminasi kepada migran'

Otoritas Malaysia menyebut mereka telah menangkap adam Bangladesh yang mengkritik perlakuan negeri Malaysia terhadap migran ilegal selama pandemi virus corona.

Di sebuah program dokumenter yang dibuat oleh media penyiaran Qatar, Al J azeera, Rayhan Kabir mengatakan pemerintah Malaysia melakukan tindakan diskriminatif kepada pekerja migran ilegal dengan menangkap dan memenjarakan mereka.

Pria berusia 25 tahun itu kini dideportasi.

Para pengkritik menyebut penahanan ratusan migran tak manusiawi. Namun otoritas Malaysia menyebut langkah itu diperlukan untuk menekan penyebaran virus corona.

Mereka yang ditangkap termasuk anak-anak dan pengungsi Rohingya, ujar para-para aktivis. Penahanan ini dilakukan kala Malaysia memberlakukan karantina wilayah semasa pandemi Covid-19.

Polisi melakukan penelitian terkait dokumenter bertajuk Locked Up in Malaysia’s Lockdown , yang disiarkan pada 3 Juli 2020, menyusul komplain lantaran para pejabat dan media setempat bahwa laporan itu “tidak cermat, menyesatkan dan tak seimbang, ” ujar Al Jazeera .

Polisi kemudian merilis surat perintah penangkapan terhadap Kabir berantakan yang izin kerjanya dicabut sesudah program ini disiarkan dan ditangkap pada Jumat lalu.

“Warga negeri Bangladesh itu akan dideportasi dan masuk daftar hitam Malaysia selamanya, ” ujar Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia Khairul Dzaimee Daud di sebuah pernyataan, tanpa menjelaskan kok Kabir ditangkap atau apakah dia tersangka dalam kasus kriminal.

Harian Bangladesh Daily Star mengutip penjelasan tertulis Kabir sebelum penangkapannya: “Saya tidak melakukan kejahatan apa pula. Saya tidak berbohong. Saya cuma berbicara tentang diskriminasi terhadap migran. Saya ingin martabat migran serta negara saya terjamin. Saya percaya semua migran dan Bangladesh bakal mendukung saya. ”

Kelompok yang terdiri dari 21 organisasi masyarakat sipil Bangladesh menuntut pembebasan Kabir, secara mengatakan: “Wawancara dengan media bukan kejahatan dan Rayhan Kabir tak melakukan kejahatan apa pun. ”

Al Jazeera menyebut petugas Malaysia mengumumkan investigasi terhadap stafnya terkait kemungkinan hasutan, pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia negara itu. Dikatakan mereka sedang mengalami “pelecehan online berkelanjutan”, termasuk pesan kasar & ancaman pembunuhan.

Media itu mengatakan “sangat membantah” tuduhan terhadap program serta bahwa mereka “membela profesionalisme, nilai dan ketidakberpihakan jurnalisme”.

Dalam perkembangan terbelah, seorang hakim Malaysia pada Rabu membatalkan keputusan mencambuk 27 pengungsi Rohingya karena masuk secara gelap, kata pengacara mereka. Kasus ini memicu protes dari para penggerak.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di pesawat pencari lain

Malaysia tidak mengakui pengungsi dan ada tingkat ketidakpercayaan dengan tinggi terhadap mereka yang muncul dari luar negeri, seringkali berjalan sebagai buruh bayaran rendah.

Beberapa kelompok menuduh pekerja migran menyebarkan virus corona dan menjadi pikulan pemerintah.