Pecahan musala Tangerang: Mengapa tempat ibadah umat Muslim jadi target pecahan dalam dua pekan terakhir?

59 menit yang lalu Sumber tulisan, DETIKCOM Perusakan dua musala dalam Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (29/09), diduga dilakukan pemuda berusia 18 tahun berinisial S yang saat ini telah ditetapkan menjadi tersangka.

Pecahan musala Tangerang: Mengapa tempat ibadah umat Muslim jadi target pecahan dalam dua pekan terakhir?

Perusakan besar musala di Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (29/09), diduga dilakukan pemuda berusia 18 tahun berinisial S yang kini telah ditetapkan menjadi tersangka.

Kasus di Tangerang tersebut berselang satu pekan dari pecahan dua masjid di Bandung, Jawa Barat. Namun kepolisian menganggap tidak ada keterkaitan di antara kejadian tersebut.

Pakar hukum pidana Universitas Agama islam Indonesia, Yogyakarta, Muzakir, mendorong kepolisian tidak cepat menyimpulkan motif karakter perusakan musala di Tangerang.

Menurutnya, penyelidikan komprehensif penting, bukan saja sebagai basis penyelesaian kasus akan tetapi juga jawaban atas ragam pertanyaan umat yang terdampak.

“Saya khawatir orang tidak percaya pada kepolisian berantakan akan menghakimi sendiri, bukan karena pelaku, tapi ketidakpercayaan pada penjaga, ” ujar Muzakir via telepon.

“Saya lihat polisi tidak sudah mencari apakah pelaku terkait sebuah jaringan atau tidak. Jika sepadan masalah diredam maka persoalannya dianggap sudah selesai. ”

“Padahal ideal kejahatan yang sama bisa pegari di tempat lain, mengulang kelakuan itu, ” tuturnya.

Juru Bicara Polda Banten, Kombes Edy Sumardi, menyebut pelaku berinisial S tidak berasal dari jaringan radikal tertentu. S diduga mencoret dinding dan lantai musala setelah terpengaruh berbagai tayangan di Youtube.

“Tidak ada keterkaitan kasus di Tangerang dengan kejadian di Bandung. Tempat murni melakukan tindak vandalisme sebab keyakinan pribadinya yang muncul setelah menonton Youtube, ” kata Edy.

“Pelaku melakukan tindak pidana murni, ” ucapnya.

Utama dari dua musala yang dirusak di Tangerang adalah Musala Darussalam di Kecamatan Pasar Kemis.

Sebelumnya, di dalam 23 dan 25 September perut masjid di Bandung juga dirusak, yaitu Masjid Nuril Jamil di Dago dan Masjid Al-Muslihun pada Ciumbuleuit.

Gila?

Dua pelaku perusakan langgar di Bandung ini ditangkap secara terpisah. Polisi menyebut keduanya serupa tidak saling berhubungan.

Meski begitu ada informasi serupa yang digali kepolisian bahwa dua pelaku di Bandung tadi berpotensi mengidap gangguan nyawa.

Adapun pada pekan kedua September berarakan, pendakwah Syekh Ali Jaber ditusuk seorang laki-laki berusia 24 tarikh di Lampung. Sempat diduga menderita gangguan jiwa, kepolisian belakangan menduga pelaku melakukan kejahatan secara ingat.

Isu gangguan jiwa itu, menurut Muzakir, mesti diungkap kepolisian secara mendalam.

“Penegak hukum tidak boleh lekas mengambil kesimpulan tentang kondisi nyawa pelaku. Kalau sudah diambil kesimpulan bahwa pelaku gila, orang bisa curiga karena yang disasar tempat ibadah, ” kata Muzakir.

Menurut pakar terorisme, media sosial selama tersebut memang dapat mendorong seseorang melaksanakan perbuatan pidana berlatar agama.

Kepala Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, Muhamad Syauqillah, mendorong kepolisian melibatkan pemimpin agama dan ormas Islam dalam penyelesaian berbagai kasus-kasus ini.

Sejumlah perkara itu, kata dia, berpotensi mendatangkan persoalan berbasis agama yang bertambah luas, jika tidak diredam dengan hati-hati.

“Pemerintah perlu berkomunikasi dengan ormas Islam untuk meredam provokasi dengan ada. Saya khawatir ini hasutan jadi perlu diantisipasi dan dimitigasi, ” ujar Syauqillah melalui sambungan telepon.

“Kita perlu waspada melihat apakah ini kriminal atau hasutan. Masyarakat perlu berhati-hati melihat rumor ini, ” tuturnya.

Namun Polda Banten mengklaim pemuka agama dan ormas Islam di Tangerang sejak asal telah terlibat untuk menangani perusakan dua musala di Kecamatan Rekan Kemis itu. Mereka pun disebut akan terus dilibatkan untuk mencegah dan mengantisipasi kasus pidana bernuansa agama lainnya.

“Ulama dan tokoh klub juga yang membantu percepatan kasus itu. Begitu kejadian, musala ditutup sementara. Mereka menghubungi Dewan Ketenteraman Masjid, pihak pemerintah, Polsek & Polres, ” kata Edy Sumardi, Kabid Humas Polda Banten.

“Langkah itu menunjukkan adanya komunikasi dengan baik antara mereka dan kepolisian selama ini sehingga kasus itu bisa segera ditangani, ” tuturnya.

Pelaku perusakan langgar di Tangerang kini dijerat kausa 156 KUHP tentang penistaan keyakinan. Perbuatannya dituding dapat memicu kesumat antarkelompok masyarakat.

Pasal berbeda sebelumnya dimanfaatkan terhadap pelaku perusakan masjid di Dago, Bandung. Jika terbukti tidak mengalami gangguan jiwa, polisi hendak menjeratnya dengan pasal 406 KUHP tentang perusakan terhadap suatu bahan.