Palestina Hamas: Kelompok yang memiliki Jalur Gaza

6 jam yang lalu Sumber gambar, Anadolu Agency Hamas ialah kelompok terbesar di kurun kelompok Muslim Palestina lainnya. Nama Hamas sendiri merupakan akronim bahasa Arab yang jika diterjemahkan bermakna Gerakan Perlawanan Islam. Kelompok itu berdiri pada 1987 di permulaan intifada Palestina mula-mula melawan pendudukan Israel pada Tepi Barat dan Belang Gaza.

palestina-hamas-kelompok-yang-menguasai-jalur-gaza-16

Sumber gambar, Anadolu Agency

Hamas adalah golongan terbesar di antara grup Muslim Palestina lainnya.

Nama Hamas tunggal merupakan akronim bahasa Arab yang jika diterjemahkan berpengaruh Gerakan Perlawanan Islam. Klan itu berdiri pada 1987 pada permulaan intifada Palestina pertama melawan pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Karena tersebut, dalam piagam pendiriannya, Hamas berkomitmen untuk menghancurkan Israel. Komitmen itu diwujudkan mencuaikan divisi militernya—Brigade Izzedine al-Qassam.

Akan tetapi, tujuan Hamas bukan semata-semata itu.

Menyuarakan juga:

Sumber gambar, AFP

Kelompok tersebut selalu melaksanakan program kesejahteraan sosial bagi rakyat Palestina. Makin, sejak 2005, ketika Israel menarik pasukan dan pemukimnya dari Gaza, Hamas terlibat dalam proses politik Palestina.

Hamas memenangi pemilihan umum legislatif pada 2006, lalu menguatkan kendalinya di Gaza serta mendepak rivalnya, Tindakan Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas.

Sejak saat tersebut, kelompok di Gaza telah melakoni tiga pertempuran melawan Israel. Mesir belakangan bercampur dengan menerapkan blokade untuk mengisolasi Hamas dan menekannya agar menghentikan serangan.

Hamas, sebagai sebuah organisasi, atau dalam beberapa kasus, bagian bersenjatanya, dicap sebagai golongan teroris oleh Israel, Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, dan beberapa negara asing.

Bom bunuh diri

Sesudah intifada pertama di Palestina, Hamas mengemuka sebagai kawanan utama penentang kesepakatan tenteram yang ditandatangani pada awal 1990-an antara Israel & Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), organisasi yang mewakili sebagian besar rakyat Palestina.

Walau digempur berkali-kali oleh Israel dan dirazia oleh Otorita Palestina (badan pemerintahan sempurna rakyat Palestina) Hamas memiliki kekuatan veto atas metode perdamaian dengan melancarkan serangkaian serangan bunuh diri.

Sumber gambar, AFP

Pada Februari dan Maret 1996, Hamas melancarkan beberapa pengeboman bunuh diri di dalam bus sehingga menewaskan hampir 60 warga Israel. Rangkaian pukulan itu ditempuh sebagai ganjaran atas pembunuhan pembuat bom Hamas, Yahya Ayyash, dalam Desember 1995.

Deretan lagak pengeboman itu dituding sebagai hal yang membuat Israel menghentikan proses perdamaian & mengerek Benjamin Netanyahu—penentang kata sepakat damai Oslo—ke pucuk kewibawaan tahun itu.

Setelah suara damai Oslo gagal, Kepala AS Bill Clinton mencari jalan menghidupkan perdamaian melalui pertemuan di Camp David pada 2000. Upaya itu juga gagal dan intifada kedua menyusul.

Hamas meraih kekuasaan dan pengaruh masa Israel membungkam Otorita Palestina, yang dituduh mensponsori serangan-serangan mematikan.

Hamas lantas menamsilkan sejumlah klinik dan sekolah bagi warga Palestina yang merasa dikecewakan oleh korupnya Otoritas Palestina yang didominasi faksi Fatah.

Baca juga:

Sumber tulisan, Getty Images

Banyak masyarakat Palestina menyambut gelombang gempuran bunuh diri Hamas dalam awal intifada kedua. Itu memandang operasi “martir” jadi pembalasan atas pendudukan Israel di Tepi Barat—wilayah dengan diinginkan rakyat Palestina jadi bagian dari negara itu.

Namun, Israel tidak letak diam. Pada Maret & April 2004, pemimpin kejiwaan Hamas, Sheikh Ahmed Yassin dan penerusnya, Abdul Terhormat al-Rantissi, dibunuh melalui pukulan rudal di Gaza.

Pada dalam wilayah Palestina, perseteruan antara Hamas dan Fatah merebak setelah pemimpin Fatah, Yasser Arafat, meninggal negeri pada November tahun tersebut.

Sumber gambar, Getty Images

Mahmoud Abbas, dengan menjadi pemimpin Fatah, menghargai serangan roket Hamas kontraproduktif.

Ketika Hamas menang tepat dalam pemilihan umum legislatif pada 2006, perseteruan itu semakin nyata. Hamas menentang terlibat dalam kesepakatan nyaman Palestina-Israel sebelumnya, menolak mengiakan legitimasi Israel, dan menepis permintaan untuk mengakhiri lagak kekerasan.

Piagam 1988

Piagam Hamas menyatakan Palestina—termasuk negara Israel saat ini—sebagai wilayah Islam serta menegah kesepakatan damai dengan negara Yahudi.

Dokumen itu pula berulang kali menyerang orang-orang Yahudi sebagai sebuah kerabat, sehingga mendatangkan tuduhan kalau gerakan Hamas anti-Semitik.

Dalam 2017, Hamas merilis dokumen kebijakan terbaru yang menghaluskan sejumlah sikap terdahulu & menggunakan bahasa yang terukur.

Dalam dokumen itu, Hamas tetap tidak mengakui Israel, namun menerima secara sah pembentukan negara Palestina dengan interim di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur—yang dikenal sebagai garis pra 1967.

Dokumen itu pula menekankan bahwa perjuangan Hamas bukan terhadap Yahudi, akan tetapi terhadap “agresor Zionis dengan melakukan pendudukan”.

Israel berceloteh kelompok tersebut “berupaya mengelabui dunia”.

Rangkaian sanksi

Aksi pemerintahan pimpinan Hamas lantas diganjar dengan susunan sanksi ekonomi dan diplomatik oleh Israel dan sekutu-sekutunya di Barat.

Setelah Hamas mendepak pasukan loyalis Fatah dari Gaza pada 2007, Israel memperketat blokade dalam teritori tersebut. Serangan berpandu Palestina dan gempuran udara Israel berlanjut.

Sumber gambar, AFP

Israel menuding Hamas bertanggung jawab atas seluruh serangan yang dilesatkan daripada Jalur Gaza. Israel lantas melancarkan tiga operasi tentara besar di Gaza yang diikuti eskalasi pertempuran lin perbatasan.

Pada Desember 2008, militer Israel menggelar berdiam militer ‘Cast Lead’ secara dalih menghentikan serangan-serangan roket Palestina. Lebih dari 1. 300 orang Palestina dan 13 orang Israel mati dalam serangan 22 keadaan itu.

Israel memakai dalil yang sama saat menggelar operasi militer ‘Pilar Pertahanan’ pada November 2012, dengan terlebih dahulu melakukan serbuan udara yang menewaskan Ahmed Jabari, komandan Brigade Qassam.

Sebanyak 170 karakter Palestina—sebagian besar warga sipil—dan enam orang Israel mati dalam delapan hari serbuan.

Dalam konteks militer, kekuatan Hamas dilemahkan akibat besar operasi tersebut. Namun, sistem itu bertahan berkat pertolongan rakyat Palestina.

Sumber gambar, Getty Images

Serangan roket dari Gaza kembali menyusun pada pertengahan Juni 2014, ketika Israel menahan penuh anggota Hamas di sepanjang Tepi Barat selagi mengaduk-aduk tiga remaja Israel.

Pada awal Juli, Hamas mengklaim bertanggung jawas berasaskan penembakan sejumlah roket ke Israel untuk kali mula-mula dalam dua tahun. Hari berikutnya militer Israel menggelar operasi ‘Perlindungan Batas’ berjalan menghancurkan roket-roket dan berbagai terowongan lintas perbatasan yang dipakai warga Palestina.

Sediktinya 2. 251 orang Palestina—termasuk 1. 462 warga sipil—tewas dalam serangan 50 hari itu. Di pihak Israel, sebanyak 67 serdadu & enam warga sipil tewas.

Sumber gambar, EPA

Semenjak 2014, ada sejumlah letupan kekerasan yang berakhir dengan gencatan senjata. Mesir, Qatar, dan PBB tampil jadi penengah sehingga aksi kebengisan tersebut tidak bereskalasi menjadi perang berskala penuh.

Baik dilanda blokade, Hamas lestari berkuasa di Gaza serta terus menambah persenjataan roketnya. Beberapa upaya untuk mempersiapkan rekonsiliasi dengan Fatah selalu gagal.

Sementara itu, situasi kemanusiaan dua juta masyarakat Palestina di Gaza semakin buruk. Perekonomian di Galur Gaza telah kolaps, serta terjadi kekurangan air, listrik, dan obat-obatan.