Olimpiade Tokyo: Upaya Indonesia celik tradisi emas badminton Olimpiade, dari latihan khusus dalam Kumamoto hingga menjaga sebal pemain

24 Juli 2021, 11: 25 WIB Sumber gambar, PBSI Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Indonesia, sudah merancang semuanya. Ia merancang kalender dengan tujuan utama anak-anak asuhnya memiliki performa puncak saat berlaga di Olimpiade Tokyo.

olimpiade-tokyo-upaya-indonesia-jaga-tradisi-emas-badminton-olimpiade-dari-latihan-khusus-di-kumamoto-hingga-menjaga-hati-pemain-18
  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

Sumber gambar, PBSI

Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Nusantara, sudah menyiapkan semuanya. Dia merancang program dengan haluan utama anak-anak asuhnya memiliki performa puncak saat beradu di Olimpiade Tokyo.

Program ini mencakup latihan khusus dan mengirim pemain di turnamen internasional secara selektif, dengan harapan mendongkrak peluang menyabet bintang.

Namun rancangan program tersebut buyar gara-gara pandemi ijmal Covid-19.

Praktis, setelah ajang All England 2020 di Birmingham, Inggris, dekat semua turnamen besar dibatalkan.

“Bisa dikatakan sekarang semua kekuatan pemeran menjadi kosong-kosong lagi, ” kata Herry memberi pepatah atas situasi kekuatan para pemain elite di masa pandemi. “Kita tak terang kekuatan lawan yang nyata, ” imbuhnya.

Ia mengutarakan para pemain China — salah satu pesaing depan tim bulutangkis Indonesia — sudah tidak terjun dalam turnamen besar selama mulia setengah tahun terakhir.

Menyelidiki lawan adalah salah kepala upaya penting dalam memimpin pertandingan. Namun itu saat ini tak bisa dilakukan.

Pada luar itu, ada uzur lain dengan begitu minimnya turnamen internasional dalam satu, 5 tahun ini, yaitu bagaimana merasakan kembali ” feeling bertanding di lapangan”.

Baca juga :

Sumber gambar, PBSI

Di pusat sejumlah kendala ini, Pengelola Pusat Persatuan Bulutangkis Segenap Indonesia (PBSI) memutuskan buat terbang ke Jepang lebih awal dan menggelar latihan khusus di Kumamoto selama sekitar 10 hari sebelum masuk ke Perkampungan Atlet di Tokyo.

Pemeran tunggal putra Anthony Ginting dan pemain ganda afiliasi Melati Daeva Oktavianti mengutarakan latihan di Kumamoto menjadi ajang untuk membenahi ancang-ancang terakhir dan aspek-aspek nonteknis.

“Ini kan Olimpiade pertama bagi saya, jadi di sana (Kumamoto) ada anju akhir untuk hal-hal nonteknis, ” kata Melati.

Praveen/Melati tingkatkan kekompakan

Melati serta pasangannya di ganda larutan, Praveen Jordan, menjadi salah satu tumpuan harapan medali.

Praveen/Melati mencatat prestasi mengesankan di seri Eropa sebelum secara cemerlang menjuarai All England 2020.

Keduanya mengutarakan secara teknis, persiapan terjun di Olimpiade Tokyo sudah rampung dan sejak sekitar Mei, memfokuskan pada intensifikasi komunikasi di lapangan, yang digambarkan Praveen sebagai “meningkatkan chemistry “.

“Kalau soal pelajaran [fisik] tetap pelatih sudah tahu, kalau dari kami sendiri [yang kami lakukan adalah] menjaga motivasi, jaga kondisi [fisik], jaga kekompakan dan chemistry , ” kata Praveen dalam kalender bincang-bincang dengan mantan pemeran ganda campuran Liliyana Natsir.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Menyilih Tangkis

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan rekan setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam dalam Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Daksina Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada medan yang sama.

Pemain ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah membabat habis lawannya, pasangan daripada Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.

Pemain ganda anak Candra Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui pertandingan tiga babak dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjadi satu-satunya penyumbang medali emas untuk Indonesia pada lapik olah raga bergengsi negeri pada tahun tersebut.

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemain tunggal anak asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 di dalam Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Tahu kalah di gim prima, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melawan balik dengan skor 12-21, 21-11, serta 21-16. Keduanya menyumbangkan bintang emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 pada Beijing, China.

Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang jeblok bersamaan dengan Hari Kebebasan Indonesia. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk tim Merah Putih setelah membabat beres lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Pada wawancara dengan BBC News Indonesia, Praveen mengatakan ia dan Melati bisa melangsungkan prestasi seniornya, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang meraih medali emas di Olimpiade 2016.

“Itu memotivasi aku dan Melati [untuk meraih emas di Tokyo]#@@#@!!… soal lawan, kita sudah mengantipasipasi. Yang terberat sepertinya dari pemain-pemain China, ” kata Praveen.

Jordan/Melati berada di Persekutuan C bersama Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark), dan Simon Wing Hang Leung/Gronya Somerville (Australia).

Dua posisi ulung di setiap grup hendak melangkah ke babak delapan besar. “Melihat drawing cukup baik, head to head kita tidak kalah akan tetapi ini Olimpiade. Jadi siapa pun lawannya tidak boleh lengah, ” kata Melati, dalam rilis yang dikeluarkan PBSI.

“Satu langkah menetapkan satu langkah saja dulu. Semua lawan harus diwaspadai, tidak boleh fokus ke salah satu, ” introduksi Melati.

Sumber gambar, PBSI

Baca juga :

Pelatih ganda campuran, Nova Widianto, mengatakan sekarang dengan menjadi perhatian adalah faktor mental.

“Kondisi Praveen/Melati sekitar ini sudah sangat molek. Latihannya sudah banyak ke teknik, latihan fisiknya sudah dikurangi. Tinggal menyiapkan dan menguatkan mental saja. Dengan terpenting sekarang mentalnya kudu siap, ” kata Nova kepada Tim Humas & Media PP PBSI.

“Karena Olimpiade selama ini jika saya lihat, kadang-kadang orang yang ada di peak performance -nya belum tentu dengan mental. Kalau saya lihat ke belakang, Owi/Butet tersebut performa terbaiknya di 2012 tapi emasnya di 2016. Kenapa? Karena mereka secara permainan 2012 itu sudah bagus tapi secara moral belum siap, ” sebutan Nova menganalisis.

Kevin/Marcus tidak mau gegabah

Tumpuan bintang emas juga ada di pundak dua pasangan berpasangan putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan.

Keduanya masing-masing berada di peringkat mulia dan dua dunia, yang di atas kertas setidaknya memperlihatkan, keduanya punya peluang besar meraih emas.

Sumber gambar, PBSI

Namun, kedudukan ini juga bisa menjelma kendala, sesuatu yang disadari oleh pelatih ganda putra, Herry IP.

Itulah sebabnya Herry sudah menyiapkan apa yang ia sebut “catatan-catatan khusus”.

“Yang tak kalah penting adalah menyusun suasana hati pemain. Pada setiap pemain tidak sama, mereka punya karakter masing-masing. Hamba harus bisa menjaga dorongan, menjaga mental, agar target bisa dicapai, ” kata Herry.

Catatan khusus ini ia susun setelah berulang kali mendampingi pemain dalam ajang penting seperti Perlombaan Dunia dan All England.

Kevin/Marcus yang menempati unggulan pertama berada di Persekutuan A bersama Lee Yang/Wang Chi-Lin (China Taipei), Ben Lane/Sean Vendy (Inggris), & Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India).

Hendra/Ahsan — yang diunggulkan di tempat kedua — menempati Grup D berhubungan Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), Choi Sol Gyu/Seo Seung Jae (Korea Selatan), dan Jason Anthony Ho-Shue/Nyl Yakura (Kanada).

Menghakimi undian, pelatih ganda anak Herry IP mengatakan, “Harus siap karena undian kita tidak bisa memilih, barang apa pun hasilnya ya harus dihadapi, ” kata Herry.

“Di grup bakal ada tiga pasangan yang hendak dilawan dengan plus-minus masing-masing. Jadi berat atau rendah menurut saya tergantung anju dan kesiapan atlet tersebut sendiri, ” lanjutnya. Menurut Herry, saat ini sulit menentukan kekuatan lawan sebab sudah lama sekali tidak ada pertandingan.

“Untuk strategi, baru jelang harinya kita akan diskusi. Kita kan ada lihat video-video rekaman pertandingan sebelumnya, ” ucap Herry. Senada dengan Herry, Marcus juga mengomentari undian dengan nada yang tak terlalu gentar.

“Ya namanya Olimpiade, kita sudah tidak bisa pilih-pilih lawan. Semua merata kekuatannya, bakal ramai lah, ” ujar Marcus. Sebelumnya, Kevin mengatakan dirinya tak ingin gegabah biar saat ini berada di peringkat satu dunia.

“Kualitas pemain [ganda putra] sekarang jauh lebih merembet. Semuanya punya kans yang sama untuk juara, ” kata Kevin.

Kans emas kedua bagi Hendra

Sumber gambar, BWF

Bagi Hendra, ini menjadi kans ke-2 untuk kembali meraih aurum, setelah emas pertamanya dalam Olimpiade 2008 di Beijing bersama Markis Kido.

Di Olimpiade 2016 di Rio, Hendra/Ahsan gagal lulus dari fase grup.

Kali ini di Tokyo, Ahsan mengatakan ingin memajukan fokus di lapangan. “Setiap kemenangan, setiap poin hendak sangat berarti. Semua lawan merata. Jadi bisa selalu faktor penentunya nanti hisab poin, ” kata Ahsan.

Hendra, sementara itu mengutarakan, “Kita mau lebih pokok, step by step , satu perlombaan ke pertandingan lain. Main lebih berani dan bertambah yakin lagi. ”

Banyak yang menempatkan Hendra/Ahsan sebagai kuda hitam. Masa usia tak lagi muda, pasangan ini masih bisa menjuarai All England di 2019.

Bagi Kevin/Marcus, batu sandungan bisa datang dibanding pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Endo/Watanabe sukses menghadang Kevin Marcus di final All England 2020. Pada All England 2021, duo Jepang ini juga keluar sebagai juara.

Wartawan olahraga Reza Adi Surya mengutarakan pelatih ganda putra Herry IP tentu sudah menyiapkan strategi khusus jika Endo/Watanabe bertemu Kevin/Marcus.

“Dalam beberapa kesempatan, pasangan Jepang ini memang selalu bisa mengalahkan Kevin/Marcus. Tapi bicara peluang di Tokyo, saya memperkirakan 60: 40 untuk Kevin/Marcus, ” kata Reza.

Selain Praveen/Melati, Kevin/Marcus, dan Hendra/Ahsan, Indonesia juga menerjunkan sendiri putra Anthony Ginting, Jonathan Christie, tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung, dan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Sumber gambar, PBSI

Ginting mengatakan dirinya sudah ngerasa siap terjun di Olimpiade Tokyo.

“Sudah periode persiapannya, sejak All England 2021. Jadi, so far sudah siap, jaga pokok, tinggal simulasi feeling , untuk membawa perasaan ke pertandingan, ” kata Ginting.

Ia mengucapkan dirinya banyak mempelajari lawan melalui video-video pertandingan, molek yang dikumpulkan sendiri maupun yang disiapkan tim PBSI.

Kan lama tak ada pertandingan, jadi kami tak tahu kekuatan lawan, [karenanya] video-video periode penting, ” kata Ginting.

Latihan, baik teknis & nonteknis, sudah dimaksimalkan, dan seperti kata peraih emas Olimpiade 2000 Candra Kejayaan, semuanya sekarang bergantung dalam penampilan di lapangan.

“Yang penting bermain tenang, tanpa terburu-buru, dilewati satu perlu satu, ” kata Kamar.

Melihat latihan di Pelatnas Cipayung maupun di Kumamoto, terasa adanya tekad yang kuat untuk meraih aurum.

“Kami akan habis-habiskan membela tradisi medali emas, ” kata Rionny Mainaky, besar bidang pembinaan dan prestasi PBSI.