Obat virus corona: AS borong sediaan obat remdesivir, anggota DPR ucap ‘harganya keterlaluan’

Pemerintah Amerika Serikat telah memborong hampir semua pasokan obat remdesivir untuk khalayak dunia. Sebab pihak berwenang di AS, obat produksi Gilead Sciences itu ialah obat pertama yang diperbolehkan untuk dipakai merawat pasien Covid-19.

Pemerintah Amerika Serikat telah memborong hampir semua sediaan obat remdesivir untuk khalayak negeri.

Oleh pihak berwenang di AS, obat produksi Gilead Sciences itu merupakan obat pertama yang diperbolehkan untuk dipakai merawat pasien Covid-19.

“Presiden Trump telah membina kesepakatan menakjubkan guna memastikan awak Amerika punya akses pada obat pertama yang diotorisasi untuk Covid-19, ” kata Menteri Kesehatan AS, Alex Azar, dalam laman resmi Depkes AS.

Disebutkan laman tersebut bahwa Depkes AS telah mengamankan 500. 000 paket obat remdesivir untuk bermacam-macam rumah sakit di AS datang September mendatang.

Jumlah itu mencakup 100% produksi Gilead pada Juli, 90% produksi dalam Agustus, dan 90% produksi dalam September.

Sebagai sketsa, satu paket obat remdesivir rata-rata meliputi 6, 25 ampul.

‘Harganya keterlaluan’

Gilead Sciences mengumumkan harga remdesivir, pada Senin (29/06).

Untuk negara-negara kaya, satu paket obat tersebut dibanderol US$2. 340 atau hampir Rp39 juta.

Bagi pasien di GANDAR yang menggunakan asuransi komersial, Gilead menghargai US$3. 120 per paket atau sekitar Rp45 juta. Itu artinya satu ampul dibanderol US$520 alias Rp7, 5 juta.

Dalam surat terbukanya, Eksekutif Gilead, Daniel O’Day, mengutarakan harga tersebut jauh di kolong manfaat yang diberikan remdesivir memikirkan seorang pasien dapat memperpendek rawat inap di rumah sakit GANDAR sehingga bisa menghemat US$12. 000 atau Rp173, 6 juta.

Akan tetapi, beberapa kalangan berkeras bahwa biaya remdesivir seharusnya bisa lebih rendah sebab obat itu dikembangkan dengan sokongan keuangan dari pemerintah AS.

Lloyd Dogget, anggota DPR AS dari fraksi Demokrat dengan mewakili Negara Bagian Texas, mengutarakan “harganya keterlaluan untuk obat dengan sangat sederhana dan yang diselamatkan dari tumpukan kegagalan dengan memakai pendanaan dari uang rakyat. ”

Kegagalan yang dimaksud Dogget adalah remdesivir tidak berpunya mengobati pasien Ebola.

‘Harga dan akses yang adil’

Seorang ilmuwan terkemuka Inggris mengatakan “kerangka kerja dengan lebih kuat” harus dibuat demi memastikan harga dan akses yang adil pada obat-obatan ketika perlu nasional terjadi.

Prof Peter Horby dari Universitas Oxford mengatakan kepada BBC bahwa agak “sudah diperkirakan” Gilead, yang ialah perusahaan asal AS, akan menghadapi “tekanan politik tertentu di lembah lokal”.

“Ini memunculkan dua pertanyaan penting: berapa harga yang adil untuk obat dan seperti apa akses dengan adil untuk obat? Itu ialah topik yang umum tapi sangat penting dalam krisis global laksana sekarang. ”

Perkara juga muncul jika vaksin Covid-19 ditemukan.

“Perusahaan-perusahaan komersial dibentuk untuk bersikap kaya ini dan kita perlu kerangka kerja yang lebih kuat kalau ingin mengembangkan hal seperti ini yang digunakan untuk darurat nasional. ”

Korsel distribusikan remdesivir

Walau AS telah memborong remdesivir, Korea Selatan dilaporkan mampu memperoleh obat tersebut & mulai membagikannya kepada rumah kecil.

Pasokan obat remdesivir yang diperoleh Korsel adalah hasil sumbangan Gilead Sciences. Korsel biar tengah merundingkan pembelian obat itu dengan Gilead, kata Pusat Pengendalian Penyakit Korea sebagaimana dikutip dewan berita Reuters.

“Pasien yang dapat diberikan remdesivir terbatas pada anak obat kasus berat dengan pneumonia & memerlukan terapi oksigen, ” tutur lembaga itu.

Sebelumnya, regulator Inggris mengatakan ada lulus bukti untuk menyetujui penggunaannya di dalam pasien Covid-19.

Bukti awal menunjukkan obat itu mampu mengurangi waktu pemulihan sekitar 4 hari, tetapi belum ada data bahwa obat itu akan menyelamatkan lebih banyak nyawa.