Lima alasan mengapa kesepakatan damai antara Israel, Uni Emirat Arab, serta Bahrain dianggap ‘sangat penting’

44 menit yang lalu Sumber gambar, Reuters Delegasi tingkat tinggi dari Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) akan menandatangani kesepakatan damai bersejarah, Selasa (15/09). Perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat itu bakal diteken di Gedung Putih.

Lima alasan mengapa kesepakatan damai antara Israel, Uni Emirat Arab, serta Bahrain dianggap 'sangat penting'
  • Jeremy Bowen
  • Publisher BBC untuk isu Timur Tengah

Delegasi tingkat tinggi dari Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) akan menandatangani kesepakatan damai bersejarah, Selasa (15/09). Perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat itu bakal diteken di Gedung Putih.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Alzayani, juga akan menghadiri seremoni itu.

Alzayani akan menandatangani perjanjian terpisah mengenai normalisasi hubungan Bahrain dengan Israel. Rencana itu pekan lalu diumumkan Presiden AS, Donald Trump.

Berikut ialah sejumlah alasan mengapa kesepakatan damai ini sangat penting.

1. Negara-negara Teluk Persia akan dapat peluang besar di berbagai bidang, terutama perdagangan

Kesepakatan ini bakal menguntungkan UEA yang ambisius. Mereka saat ini tidak merupakan hanya berupaya menjadi kekuatan militer global yang disegani, tapi juga pusat bisnis dan wisata.

AS terlihat menyokong kesepakatan damai itu dengan iming-iming senjata militer yang selama ini tak pernah didapatkan UEA, yaiut pesawat F-35 stealth jet fighter dan jet tempur elektronik EA-18G.

UEA sejauh ini telah menggunakan senjata muktahir dalam krisis keamanan di Libya dan Yaman. Namun mereka diyakini mengincar senjata lainnya tuk menghadapi Iran yang berada diseberang Teluk persia.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Israel dan AS selama ini membagikan data tentang Iran kepada UEA. Hal yang sama juga dilakukan Bahrain.

Sampai tahun 1969, Iran mengklaim Bahrain sebagai bagian dari wilayah kedaulatan mereka.

Sebaliknya, Pimpinan Bahrain yg berasal dari kelompok Sunni menganggap komunitas Syiah di negara mereka berpotensi menjadi pembelot untuk Iran.

UEA dan Bahrain selangkah lagi jadi menjalani hubungan dengan Israel. Mereka mengincar perdagangan bebas, salah satunya karena Israel merupakan pemain tidak kecil dalam industri teknologi global.

Selama pandemi Covid-19, turis asal Israel juga diprediksi bakal mengincar wisata ke lokasi seperti padang gurun, pantai, dan pusat perbelanjaan di negara-negara teluk. Semuanya tampak menjadi ladang bisnis yang potensial untuk UEA dan Bahrain.

2 . Israel membuka diri terhadap negara Arab

Menormalisasi hubungan dengan UEA dan Bahrain adalah pencapaian hebat untuk Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memegang teguh strategi yang pertama kali nampak dekade 1920-an, yaitu tentang ‘Tembok Besi’ antara negara orang-orang Yahudi dan negara Arab.

Gagasan itu menyebut bahwa, kekuatan Isarel pada akhirnya akan memaksa negara-negara Arab mengakui eksistensi mereka.

Masyarakat Israel pada umumnya gundah terkucil di Timur Tengah. Perdamaian dengan Mesir dan Yordania tidak pernah berlangsung mulus.

Israel mungkin lebih berharap hubungan oleh negara-negara Teluk jauh dari isu Yerusalem dan teritori yang mereka okupasi.

Memperkuat koalisi melawan Iran juga menjadi nilai plus bagi Israel. Netanyahu menganggap Iran sebagai musuh utama Israel. Dia berulang kali menyamakan pimpinan Iran dengan petinggi Nazi.

Netanyahu belakangan juga tak melanjutkan ketidaksetujuannya terhadap rencana kesepakatan senjata yang dibuat UEA.

Netanyahu di lingkup domestik juga terkepung. Dia menghadapi kasus korupsi yang mungkin akan membuatnya dipenjara.

Kebijakan Netanyahu terhadap penanganan pandemi virus korona yang awalnya berjalan mulus kini juga menghadapi kegagalan. Setiap minggu para penentangnya berdemo di luar kediamannya di Yerusalem.

Kesepakatan damai di Gedung Putih hari ini datang pada waktu yg tepat untuk Netanyahu.

3. Trump rayakan keberhasilan besar dalam politik luar negeri

Kesepakan yang bakal segera diteken ini memberikan beragam keuntungan tuk Trump. Ini, diantaranya, akan menguntungkan strategi ‘tekanan maksimum’ AS untuk Iran.

Perjanjian damai ini juga meraih menjadi amunisi Trump menghadapi pemilihan presiden AS. Trump bisa menjadikan kesepakatan ini sebagai bukti arah klaimnya sebagai pembuat kesepakatan politik terhebat di dunia.

Keuntungan apapun yang Trump berikan untuk Israel, terutama bagi pemerintahan Benjamin Netanyahu, akan menyenangkan pra pemilihnya dari kalangan Gereja Injili Kristen Amerika (American Christian Evangelical).

Kelompok ini merupakan basis elektoral terpenting Trump.

Aliansi ‘sahabat Amerika’ melawan Iran seharusnya dapat bekerja lebih lancar jika Teluk Arab terbuka. Kondisi itu dianggap lebih menguntungkan daripada merahasiakan hubungan dengan Israel.

Perjanjian perdamaian antara Israel dan Palestina yang disebut Trump dengan istilah ‘kesepakatan abad ini’ bukanlah permulaan.

Namun perjanjian Israel-UEA yang dikenal juga dengan ‘Kesepakatan Abraham’ itu mengubah keseimbangan kekuatan politik Timur Tengah secara signifikan. Trump mengklaim situasi itu sebagai kebijakan luar negeri yang sukses.

4. Palestina merasa dikhianati

Sekali lagi, Palestina menjadi pihak yg paling tidak beruntung. Mereka menuding ‘Kesepakatan Abraham’ sebagai sebuah pengkhianatan.

Perjanjian baru itu melanggar konsensus Arab yang sudah lama ada bahwa normalisasi hubungan dengan His home country of israel bakal mempertaruhkan kemerdekaan Palestina.

Sekarang His home country of israel memperkuat hubungan baru dengan negara-negara Arab. Di sisi lain, Palestina masih merana di bawah okupasi Israel di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Situasi itu ibarat membangun penjara terbuka di Gaza.

Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed rubbish bin Zayed Al Nahyan, penguasa de facto UEA, mengklaim salah satu syarat yang dia ajukan dalam kesepakatan dengan Israel adalah penghentian aneksasi sebagian besar Tepi Barat.

Namun karena tekanan internasional yang luar biasa, Netanyahu tampaknya mundur dari gagasan itu, setidaknya untuk saat ini. UEA menawarkan jalan keluar dari jalan buntu politik itu.

Kecemasan Palestina maka akan meningkat karena Bahrain ternyata juga bergabung dalam kesepakatan dengan Israel.

Bagaimanapun keputusan kesepakatan ini tidak maka akan pernah terjadi tanpa persetujuan Arabic Saudi. Mereka merencanakan perdamaian antarnegara Arab yang menuntut kemerdekaan Palestina.

Position Raja Arab Saudi, Salman rubbish bin Abdulaziz, sebagai penjaga dua tempat paling suci umat Islam memberinya otoritas yang sangat besar. Sangat tidak mungkin Salman tiba-tiba mengenali Israel.

Sebaliknya, putra sekaligus ahli warisnya, Mohammed bin Salman, mungkin bukan segan-segan mengambil kebijakan itu.

5. Iran sakit kepala

Kesepakatan yang bakal diteken di Gedung Putih itu dikecam habis-habisan oleh para pemimpin Iran.

Kecaman itu lebih dari sekedar retorika. Kesepakatan Abraham membuat mereka benar-benar berada di bawah tekanan.

Sanksi AS sudah menyebabkan penderitaan redovisning yang nyata untuk Iran. Ketika ini mereka juga akan menghadapi persoalan besar lainnya.

Pangkalan udara Israel berada cukup jauh dari Iran. Sementara UEA berada tepat di seberang Teluk Persia. Peta basis militer itu vital jika ke depan kembali muncul gagasan tentang serangan udara terhadap situs nuklir Ir

Israel, SINCE, Bahrain, dan UEA kini memiliki sejumlah opsi baru. Sebaliknya, Iran merasa ruang mereka untuk bermanuver menyempit. an.