Kepala keluarga, tiga waria: ‘saya memiliki anak tiga banci ini, Tuhan yang buat’

16 menit dengan lalu Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kelompok waria ataupun transpuan berorganisasi untuk mengubah prinsip negatif sebagian masyarakat tentang kehadiran mereka. Melalui organisasi Fajar Sikka, mereka yang memiliki kenangan anyir menjadi transpuan, saling menguatkan, merasuk bersama masyarakat untuk berkegiatan baik.

Kepala keluarga, tiga waria: 'saya memiliki anak tiga banci ini, Tuhan yang buat'

Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kelompok waria atau transpuan berorganisasi untuk mengubah prinsip negatif sebagian masyarakat tentang kehadiran mereka.

Melalui organisasi Fajar Sikka, mereka yang memiliki kenangan getir menjadi transpuan, saling mengisbatkan, berbaur bersama masyarakat untuk berkegiatan sosial.

Di antara anggotanya adalah 3 bersaudara dari satu keluarga dengan menjadi transpuan.

Florensia Nona, 73 tarikh, berolok-olok bersama teman-teman sebaya di bawah teduh pohon kersen, pada pelataran rumah.

Mulutnya tak berhenti mengunyah kapur serasa yang dicampur dengan buah pinang. Barisan giginya hitam pekat, akan tetapi masih terlihat kokoh.

“Saya tiap hari masih berkebun, menanam kacang, ” katanya saat ditemui BBC News Indonesia di Desa Ipir, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/07).

Florensia Nona memiliki delapan anak. 3 perempuan. Lima terlahir sebagai laki-laki, tapi tiga di antaranya, berubah menjadi perempuan seiring waktu.

“Mereka sampai gede, rambutnya panjang. Mereka datang ke dunia ini sebagai laki-laki. Tapi mereka duduk-duduk, dan lama-lama berjalan dengan gemulai, ” katanya.

Sejak mungil, ketiganya memang tak pandai berjalan seperti lazimnya laki-laki: berkebun. Tapi untuk pekerjaan rumah seperti membakar, mereka jagonya, kata Florensia.

“Saya memiliki anak tiga banci ini, Tuhan yang buat, ” kata Florensia sambil tersenyum.

Putra pertama Florensia yang menjadi transpuan adalah Ardianus yang kemudian akrab disapa Linda Ardian. Linda jarang pulang ke panti saat remaja, karena selalu bertengkar dengan bapaknya.

Bapaknya tak suka Linda belajar mengikat tenun, karena tempat mempercayai mitos yang berkembang pada kampungnya bahwa lelaki yang menenun kain kelak akan jadi bahan serangan babi hutan.

“Bapak marah, jangan ikat tenun, nanti babi alas gigit. Makanya si Linda tersebut pergi. Tapi mama tidak hati, ” kata Florensia.

Bukan hanya itu, bapak selalu marah dengan Linda, karena positif memasak di rumah.

“Bapak marah ini, sampai pukul. Sebab kamu ini laki, kenapa seperti perempuan. Jiwa Linda ini bilang, bapak jangan marah. Kami masak ini membangun untuk bapak, ” kenang Florensia.

Tapi, sejak bapak meninggal sembilan tahun lalu, segala urusan adat istiadat keluarga kini diwakili oleh Linda. Mulai dari urusan tanah, pernikahan hingga rapat pengambilan keputusan.

“Hanya dengan Linda, bisa omong soal perkara rumah adat. Sementara mereka dengan dua (anak laki-laki) itu, belum bisa untuk urusan adat pada rumah, ” kata Florensia.

Florensia juga bercerita, suaminya kerap membedakan perlakuan dua budak laki-laki lainnya dari tiga anak yang menjadi transpuan.

“Mereka tiga orang ini sudah jadi perempuan. Kamu dua orang ini kudu isap rokok, minum arak, ” kata menirukan ucapan mendiang suaminya saat masih hidup.

Tapi bagaimana pun, Florensia mengatakan, “Mama sayang, sebab mereka anak kandung saya. ”

Budak kesayangan itu, Linda, saat tersebut bekerja sebagai penjaga kos-kosan di Kota Maumere.

Kenangan pahit zaman kecil diperlakukan berbeda dari besar adik laki-laki yang kini telah menikah, masih membekas dalam ingatannya.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di instrumen pencari lain

“Jadi waktu itu, adik (laki-laki) saya dua orang tak pernah temanan (dengan) kita. Tetap dengan bapak, makan dengan abu, isap rokok dengan bapak. Namun kami tiga orang itu tetap dengan mama, ” kata Linda.

Selain itu, Linda juga dididik secara keras untuk menjadi laki-laki.

“Kadang saya dipukul, saya disiksa, kadang-kadang dikasih telanjang, kadang dikasih botak rambut, tapi saya terima saja, saya tetap lawan sama orangtua saya. Kalau mereka enggak mau, ya saya lawan, saya lari sembunyi, ” kata Linda secara suara bergetar.

Sikap bapaknya sempat melunak, saat Linda mulai bekerja sebagai penjaga toko, dan membantu kesibukan keluarga.

“Jadi waktu itu bapak sejumlah, biar kamu jadi banci, akan tetapi kamu tetap kasih saya uang untuk kita hidup di vila. Jadi waktu saya kerja itu uang gaji saya itu selalu saya kasih ke bapak, ” kata Linda.

Hingga napas terakhir abu, Linda tetap dengan pendirian menjadi seorang transpuan. “Saya sudah memaafkan (bapak) waktu putus napas. Saja bapak pesan, tak boleh mengembat, tidak boleh berbuat sembarang, berbuatlah baik kepada orang, ” kata pendahuluan Linda.

Linda merasakan menjadi seorang rani sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia menaruh hati dengan laki-laki, teman sekelasnya.

“Jadi waktu itu, setelah berteman dengan dia. Saya sudah ngerasa, saya ini benar-benar perempuan, ” kata Linda.

Tapi saat SD, Linda masih malu-malu untuk mendeklarasikan muncul sebagai seorang transpuan.

Tidak bagaikan adiknya, Lempianus Nong Pitoi dengan sekarang akrab disapa Lola Pitaloka.

Lola tak pernah merasakan bangku madrasah. Menurut Linda, adiknya lebih lega untuk menjadi transpuan karena tidak terbelenggu rasa malu dari lingkungan sekolah.

“Saya dengan duluan (jadi transpuan di keluarga), sejak kecil itu sudah mengayak. Sudah bermain (peran) perempuan. Boneka-boneka. Masak-masak, ” ujar Lola.

Saat baru kali melihat Linda bersolek serta menggunakan pakaian perempuan, Lola mengiakan sempat terkejut.

“Bukan karena saya yang ada, atau saya dengan suruh seperti saya. Harus berdandan seperti saya, harus bergaya sesuai perempuan. (Datang) dengan sendirinya, ” kata Lola.

Mereka berdua jarang berbagi bercerita tentang perubahan diri menjadi transpuan. Tapi ada kalanya, mereka bertengkar karena masalah kosmetik dan pakaian.

“Pernah bertengkar, karena baku rebut bedaknya. Pensil alisnya. Ini hamba punya. Ini saya punya, tak boleh pinjam. Beli, kau memiliki sendiri, ” kata Lola sambil tersenyum, mengenang masa remaja beserta kakaknya.

Dulu, keduanya juga kompak saling memberi peringatan ketika bapak cukup marah di rumah, termasuk berbagi tempat persembunyian untuk bersolek dan berpakaian perempuan.

Anak lelaki yang menjadi transpuan berikutnya adalah Serpinus Nong Essy, sekarang disapa Essy Moff. Tapi ia sudah lama merantau ke Kalimantan, dan belum kembali ke kampung halaman.

Florensia Nona bukan cuma memiliki tiga anak, tapi juga punya tiga keponakan yang menjadi transpuan—sepupu dari Linda, Lola & Essy.

Salah satunya, Petrus Peter Song atau akrab dipanggil Chintya Datores. Ia mengaku sudah merasakan menjadi perempuan saat duduk dalam bangku sekolah dasar.

Sampai kesudahannya, beranjak remaja, Lola mengajak Chintya bekerja di sebuah salon pada Kota Maumere. Dari sinilah, ia mulai terbiasa berdandan dan menggunakan pakaian perempuan.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript ataupun coba di mesin pencari lain

“Kebiasaan Kakak Lola ajarin seperti itu, aku bangun, mandi, saya berdandan, hamba berpakaian perempuan, sudah saya duduk manis di depan (salon), ” kata Chintya

Dari titik ini juga, Chintya mulai bergaul dengan komunitas transpuan di Kabupaten Sikka dan memulai usaha salon sendiri, termasuk memproduksi tenun ikat.

“Saat tersebut sudah bisa bekerja mencari uang untuk biaya kehidupan papa serta mama, ” katanya.

Dari keluarga gembung transpuan ini, Lola yang menyesatkan aktif berorganisasi di Fajar Sikka. Chintya mendapat bantuan pemasaran produksi tenun ikatnya dari Fajar Sikka, dan Linda sesekali ikut berhimpun untuk arisan atau kegiatan berdoa bersama.

Fajar Sikka

Cepat menjelang siang. Teras sekretariat Fajar Sikka yang berada di Kota Maumere hampir tertutup kiriman barang kebutuhan sehari-hari: beras, minyak, gula, bumbu dapur, mie instan, datang sabun.

Lola ikut mengemas barang-barang itu menjadi bungkusan-bungkusan kecil.

Bungkusan ini akan dibagikan kepada puluhan anak terdampak Covid-19 di daerah pelosok, bagian Timur Kota Maumere.

Setelah selesai mengepak, Lola menyapu keringat di dahi dengan tisu. Sesekali bercermin, memastikan make up di wajahnya tidak luntur.

Mobil jemputan pun tiba. Ia bersama pengurus Fajar Sikka pun duduk manis di tempat mobil bak yang dimodifikasi wadah duduknya dengan kayu.

Warga penerima sandaran sembako sudah berkumpul di satu diantara rumah.

Senyum dan tawa terkembang menghiasi wajah mereka, saat Lola mulai membuka pertemuan dengan menyanyikan sebuah lagu daerah…

“Tambah lagi, Kak! ” teriak beberapa warga, menandakan mereka tak cukup dihibur utama lagu.

‘Artis’ daripada Fajar Sikka pun hanya mampu menghela napas, tapi juga senyum-senyum malu mendapat perhatian dari awak. “Okeh, satu lagu lagi sungguh, ” kata Lola diiringi tawa dan tepuk tangan dari warga.

Selama masa pandemi covid-19, Fajar Sikka lebih banyak beraksi mengelola bantuan sembako dari dan untuk umum, termasuk berkampanye tentang protokol Covid-19 dengan berkeliling kampung, sambil membagikan masker gratis.

Dengan bergabung di Pagi buta Sikka, Lola ingin mengubah stigma masyarakat terhadap transpuan. Ini juga berangkat dari pengalaman pahit menjelma transpuan ‘pangkalan’, yang kerap mendapat kekerasan. “Pernah disiram oli asusila, bahkan sampai air kencing, disiram, ” katanya.

“Saya bergabung di Fajar Sikka, saya kepingin berubah, tidak seperti dulunya lagi, tidak nyebong (mangkal) di tiang. Dengan bergabung di Fajar Sikka ini, jadi kita tuh mau membuktikan kelakuan yang baik, ya kita dihargai begitu oleh masyarakat, ” kata lola.

Salah satu penerima bantuan, Fransiska Kondeja Solapung mengaku publik transpuan ini yang pertama memberinya sembako selama pandemi. “Dengan suasana kami ini, rasa terharu. Awak rasa senang, ada perhatian sebab waria ini, ” katanya.

Penduduk Desa Talibura belum lama ini diterjang banjir, termasuk menjadi wilayah secara tingkat kasus demam berdarah yang tinggi.

Pendiri sekali lalu Ketua Fajar Sikka, Hendrika ‘Bunda Mayora’ mengatakan sasaran penerima tumpuan sembako sudah disurvei terlebih awal. “Orang-orang betul-betul yang terdampak, telah kami observasi, sudah kami ansos (analisa sosial), pergi lihat, serta survei, kami bantu, ” katanya.

Penyaluran sembako ini bukan yang pertama. Penyaluran sembako ini sudah dikerjakan beberapa kali selama masa pandemi.

Sandaran sembako ini berasal dari para donatur, yang mempercayai Fajar Sikka dalam mengelola dan mendistribusikan buat mereka yang terdampak Covid-19.

“(Para donatur) melihat aksi-aksi kami melalui akun Facebook yang saya unggah, itu lihat, bukan hanya waria, daripada sekian banyak waria yang kami tolong, tetapi juga beberapa teman-teman disabilitas, mama-mama janda, lansia dengan kami bantu, ” kata Mayora.

Fajar Sikka dirintis 2018 lalu. Berawal dari grup doa yang diberi nama ‘Gembala Baik’, organisasi ini kemudian tumbuh, ‘berinklusi’ dengan masyarakat.

Kegiatan Fajar Sikka beragam. Mulai berkeliling kampung mengajar anak-anak, membantu pesta perkawinan warga, penyuluhan pertanian, doa bersama sampai arisan. Sebagian kegiatan masih berlangsung di masa pandemi.

Sekarang anggotanya hampir mencapai 45 orang, baik sebab kalangan transpuan dan transman pada Kabupaten Sikka. Umumnya, anggota Pagi buta Sikka menjadi tulang punggung keluarga; menyekolahkan adik-adik, belanja bulanan sendi, sampai merawat orangtua yang sudah renta di rumah.

36 tahun baru punya KTP

Pandemi Covid-19 ini juga memukul usaha kelompok transpuan di Kabupaten Sikka. Salon tutup karena sepi pelanggan, pesanan katering makanan mandek, & penjualan tenun ikat, seret.

Selain kehidupan membantu mengelola dan mendistribusikan sembako, Fajar Sikka juga mengadvokasi anggotanya memperoleh Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Selama ini, transpuan di Kabupaten Sikka kesulitan memiliki KTP. Permasalahannya, karena mereka kabur atau terusir dari rumah, tanpa membawa nama diri, kehilangan KTP selama di rantau, sampai enggan mengurus sebab minder menjadi transpuan.

“Saya resmi oleh sebab itu warga negara Indonesia setelah sempurna 36 tahun, ” kata bagian Fajar Sikka, Marianus Juni Migo, atau akrab disapa Cece serupa tertawa kecil.

Cece, salah satu anggota Fajar Sikka yang dibantu komunitasnya untuk merebut KTP.

Tim advokasi dari Pagi buta Sikka berkali-kali mendatangi kantor dinas catatan sipil setempat, mendesak supaya pejabat setempat mengeluarkan KTP untuk warganya.

Cece yang baru pertama kali punya KTP, selama ini pengganggu memperoleh kartu identitas tersebut setelah merantau ke Kota Maumere sebab tanah kelahiran di Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

“Saya anak prima, adik-adik sudah berkeluarga semua. Oleh karena itu adik-adik sudah punya kartu anak, saya sendiri yang belum. Orangtua sudah almarhum, ” katanya.

Sekretaris Fajar Sikka, Andreas Nong Johan yang akrab disapa Yolanda mengatakan, KTP menjadi masalah mendasar bagi transpuan. Tanpa KTP, mereka selama ini kesulitan membongkar-bongkar kerja, mendapat pinjaman modal jalan hingga mendapatkan bantuan sosial dalam masa pandemi.

“Kalau untuk pinjam simpanan ke bank, ke koperasi ke lembaga keuangan kan butuh identitas yang lengkap, ” kata Yolanda.

Di masa pandemi, tim advokasi Pagi buta Sikka juga mengurusi bantuan baik dari pemerintah untuk anggotanya dengan mengalami kesulitan ekonomi.

“Kami ambil data buat program BST (bantuan sosial tunai) yang langsung kami urus dalam kantor dinas sosial. BST tersebut untuk pertama, kami beberapa orang yang kami urus agak tersedia 15 orang itu dapat semua, ” kata Yolanda.

Fajar Sikka telah menjadi matahari terbit di sedang pandemi. Ketuanya, Mayora mengatakan hendak membawa organisasi ini menjadi mengikuti bahwa transpuan juga punya sisi bersolidaritas di tengah keberagaman Nusantara.

“Fajar Sikka akan menjadi rumah, menjelma tempat yang aman dan damai, tempat kami berbagi, tempat saya berekspresi, tempat kami bisa menyalurkan kemampuan seluruh keberadaan diri awak, ” kata Mayora.