Keadaan Kesehatan Seksual Sedunia: Peristiwa kekerasan seksual anak meningkat – “Pendidikan seks jangan selalu dianggap tabu serta liberal”

4 September 2021, 13: 38 WIB Sumber gambar,. Pendidikan seks dan kesehatan tubuh reproduksi (kespro) mendapat tantangan berlipat ganda ketika mengikuti masa pandemi bahkan dalam sekolah yang menjadikan rencana ini ke dalam pembelajaran.

hari-kesehatan-seksual-sedunia-kasus-kekerasan-seksual-anak-meningkat-pendidikan-seks-jangan-selalu-dianggap-tabu-dan-liberal-34

Sumber gambar, .

Pendidikan seks dan kesehatan tubuh reproduksi (kespro) mendapat tantangan berlipat ganda ketika mengikuti masa pandemi bahkan dalam sekolah yang menjadikan kalender ini ke dalam penelaahan.

Situasi makin buruk, karena tak penuh sekolah yang menerapkan rencana pendidikan seks dan kespro dalam mata pelajaran secara alasan tabu atau sebab keteteran dengan mata pelajaran utama.

KPAI menilai benar anak untuk mengakses pelajaran seks dan kespro yang tersumbat merupakan “rangkaian” dengan menyuburkan krisis kekerasan seksi anak di masa pandemi. Kondisi ini masih terjadi di tengah Hari Kesehatan tubuh Seksual Sedunia yang diperingati setiap 4 September.

Mengaji Juga:

Siang itu, Jasmine—bukan nama sebenarnya—baru pulang sekolah. Di rumah sepi, hanya ada seorang pekerja sendi tangga.

Sambil melirik ke kiri-kanan, ia diam-diam mengambil akbar dewasa milik tantenya yang tergeletak di ruang tamu. Jasmine yang masih berumur 11 tahun, menyibak kaca “permainan seksual seperti permainan polisi dan tahanan”.

“Aku tidak pernah membahas tersebut ke teman-teman, karena kebetulan sekolah swasta religius, yang berbasis agama. Jadi, peristiwa itu agak tabu untuk dibicarakan, ” kenang Jasmine, pada pengalaman pertama tentang pornografi saat duduk di sekolah dasar.

Sumber tulisan, Thinkstock

Rasa penasaran berlanjut. Jasmine mendapat foto & video gamblang pornografi melalaikan internet ketika duduk dalam bangku SMP.

“Waktu pertama kali lihat itu langka dan jijik, karena tersebut beda yang muncul dalam kepalaku sebelumnya saat beta baca di majalah, dengan mana kalau di organ itu terlihat permainan dengan menyenangkan, ” kata Jasmine.

Berangkat dari pengalaman mereka yang belum cukup memperoleh pendidikan seks dan kespro dan mencari ke saluran lain seperti Jasmine, sebanyak sekolah saat ini menjadikannya sebagai program dalam pembelajaran.

Pendidikan seks dan kespro lewat terobosan

Sumber tulisan, Dok. SMPN 22 Semarang

Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak (TK/TB) Ceria Tomoho di Yogyakarta menjadi lupa satu sekolah yang mendirikan terobosan bagaimana menerapkan pelajaran seks dan kesehatan reproduksi pada peserta didik.

Terobosan itu lewat lagu yang diciptakan oleh para guru. Cara unik pembelajaran melalui nyanyian ini berlangsung lima tahun terakhir, agar peserta didik memahami betapa bernilai tubuh mereka untuk dilindungi dari ancaman orang lain.

Silvia Hermin Ekasari ialah kepala sekolah TB/TK Rencana Tomoho, terus mencari terobosan atas keresahan wali melanggar pendidikan seks dan kespro anak usia dini, “karena orang tua itu kala bingung cara penyampaiannya serupa apa”.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Ari Bowo Sucipto

Lalu terciptalah lagu ” Mandiri ” yang menyimpan pesan: “Katakan tidak masa dilihat dan disentuh/Bila itu terjadi/Lari cepat ke tempat ramai/teriak minta tolong”.

Silvia menambahkan, pendidikan seks & kespro bukanlah membahas pornografi yang vulgar, tapi menyimpan nilai berharga pada awak sendiri sejak dini.

“Bukan hanya ditutupi secara baju yang sopan. Akan tetapi tubuh kita ini, atau anggota tubuh kita itu harus dilindungi, ” cakap Silvia.

Situasi kespro di sekolah

Sumber gambar, Dok. SMPN 22

Dari angka ini, hanya beberapa sekolah saja yang dijadikan percontohan dalam penerapan pendidikan seks dan kespro.

SMPN 22 Semarang adalah salah kepala dari tiga sekolah yang dipilih sebagai percontohan daripada 3. 357 SMP se-Jawa Tengah. Sejak 2017 cerai-berai, sekolah ini menerapkan paket materi dalam Modul Semangat Dunia Remaja (Setara) dengan disampaikan guru bimbingan konseling.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Sigid Kurniawan

Anita Rakhmi Shintasari, tutor bimbingan konseling SMPN 22 mengaku mendapat tantangan sebab pengampu murid saat mula-mula kali menerapkan pendidikan syahwat dan kespro.

“Beliau [orang tua itu] merasa di rumah anak telah cukup dibekali. Jadi kalau dibahas sama teman-temannya, belakang ngelantur, ” kata Anita.

Tapi ia kemudian menjelaskan ini secara personal jika esensi dari pendidikan seks dan kespro “pada keahlian hidup, bagaimana memberikan jatah kepada anak supaya mereka bisa bertanggung jawab dengan dirinya, dan juga mampu merencanakan masa depannya itu dengan lebih baik. ”

Siswa lebih berani ‘berteriak’

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Adeng Bustomi

Setelah bertahun-tahun memberikan pendidikan seks dan kespro di peserta didik, Anita menggubris siswanya menjadi lebih mengerti ketika membangun relasi yang sehat. “Karena dulu kala terjadi perkelahian, kemudian bully ing terkait dengan catcalling , godain temannya, ” katanya.

Selain itu, siswi perempuan menjadi punya keberanian untuk bercerita ketika mendapat pelecehan dari temannya.

“Jadi ada yang pernah dipegang payudaranya oleh jodoh laki-laki, biasanya sebelum tersedia kespro, anak-anak kalau ada kejadian kayak gitu bimbang cerita. Karena diancam sama pelaku.

“Nah, setelah ada kespro ini nggak tersedia lagi anak perempuan yang istilahnya ketakutan seperti tersebut. Jadi mereka lebih membenarkan diri, dan berani mengantarkan kalau dia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, ” tambah Anita.

Pandemi memperburuk keadaan

Sumber tulisan, BBC Indonesia

Pelajaran seks dan kespro ialah pembelajaran tentang keterampilan tumbuh, kata Anita. Tapi penyampaiannya kini menjadi terhambat dalam masa pandemi.

Kasus-kasus kemudian mulai bermunculan, seolah-olah kepemilikan video porno sampai “pacaran yang agak over”.

“Padahal, logikanya mereka sudah mendapat informasi, akan tetapi karena belum secara menyeluruh… Komunikasi dengan guru pula tidak se-intensif dengan interaksi langsung, ” Anita menambahkan walaupun sudah berupaya, akan tetapi kasus ini menjadi sesuatu yang “menyedihkan”.

Sumber gambar, Getty Images

Tantangan sebentuk juga dihadapi TB/TK Ceria Tomoho, di mana pembelajaran jarak jauh mengurangi ketekunan guru dan anak.

“Tantangannya memang tidak mudah-mudahan, karena waktu yang kita berikan, Zoom online biar sebatas satu jam, kira-kira sekitar segitu. Beda secara offline dulu kita mampu bertemu, memegang anaknya, mampu memberikan pengertian pelan-pelan, ” kata Silvia.

TK/TB Rencana Tomoho dan SMPN 22 hanya segelintir institusi pelajaran yang menjadikan pendidikan syahwat dan kespro sebagai rencana utama.

Sumber tulisan, ANTARA

Kebanyakan sekolah yang lain, melakukan pendidikan seks & kespro melalui internalisasi ke dalam mata pelajaran sempurna. Namun, sejauh ini belum ada data yang membuktikan evaluasinya.

Bahkan terdapat sekolah-sekolah yang menolak kerja sepadan untuk pendidikan seks & kespro dengan alasan larangan.

Salah satu pengurus Perserikatan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Muran Gautama bercerita piawai selama tiga dekade, mengatur kerja sama dengan sekolah untuk pendidikan seks serta kespro.

“Ada satu besar sekolah tidak sepaham secara kita. Ya, dianggap itu tidak butuh informasi itu, karena kespro ini lebih cenderung kayak mengeksplore seksualitas, melihatnya hanya sebatas tersebut mungkin, lalu ada kewaswasan, ini kok bicara itu pada remaja, dianggap belum saatnya atau apa lah, ” kata Muran kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, ANTARA

Lalu, hanya 26, 7% siswa menyelami apa saja layanan reproduksi itu, dan baru 12, 7% dari mereka dengan memahami proses pubertas, dan hanya 8, 5% memahami sistem organ reproduksinya.

“Hal ini disebabkan minimnya informasi dari sekolah maupun luar sekolah. ”

Minimnya pengetahuan siswa tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi tersebut secara tidak langsung ikut menyumbang pada angka kehamilan yang tak diinginkan, peristiwa aborsi, pernikahan usia bani, sampai kematian pada pokok saat melahirkan.

Pendidikan syahwat dan kespro terbatas

Sumber gambar, Getty Images

Sekitar ini, pemerintah telah mengabulkan internalisasi atau menyisipkan pendidikan kespro dan seksualitas pada Kurikulum 2013. Internalisasi tersebut melalui mata pelajaran lainnya, seperti biologi, pendidikan cara raga, dan pendidikan pegangan.

Direktur Pendidikan Masyarakat serta Pendidikan Khusus, Kemendikbud-Ristek, Samto, mengakui pendidikan seks & kespro terbatas. Pemerintah, cakap dia, khawatir peserta asuh justru mencari lebih jauh konten negatif lewat internet selama pembelajaran jarak jauh.

“Justru ini yang membuat anak-anak jadi penasaran. Padahal kita kalau daripada Kementerian Pendidikan kan terpatok. Artinya memang kita batasi. Tidak ada vulgar, sampai ke bagaimana perbuatan seksual kayak gitu, ” kata pendahuluan Samto.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN

Lebih sendat, Samto mengatakan peran wali dan lingkungan keluarga menjadi ujung tombak dalam pendidikan seks dan kespro selama pandemi.

PKBI dan sebesar lembaga lainnya pernah mengajukan uji materi UU Sistem Pendidikan Nasional agar pendidikan kesehatan reproduksi masuk kurikulum pendidikan, 2015 lalu. Tetapi, Mahkamah Konsitusi menolak gugatan pemohon karena tak memenuhi legal standing dalam tempat hukum.

Dalam putusannya, MK menyatakan salah satu pemohon yang hamil di sungguh nikah dikatakan, “Bukan semata-mata yang disebabkan dari kurang atau tidak adanya pendidikan kesehatan reproduksi yang diterima para pemohon, melainkan juga karena faktor lingkungan serta dari dalam sendiri pemohon itu sendiri, kurangnya penjagaan baik dari orang gelap dan masyarakat sekelilingnya menjadi andil besar terjadinya hal tersebut, ” jelas Hakim MK, Aswanto.

Kasus meningkat, pemerintah diminta evaluasi

Sumber gambar, Davies Surya/BBC

Bagaimanapun, menurut Anggota KPAI, Ai Maryati Solihah, pendidikan seks dan kespro yang macet dan makin terpuruk pada masa pandemi merupakan masalah berangkai yang bisa menyuburkan kasus kekerasan seksual pada anak.

Dalam laporan dengan diterima KPAI, jumlah bani sebagai korban kekerasan erotis meningkat dua kali ganda di masa pandemi. Sejak 190 kasus di tahun 2019 menjadi 419 urusan di tahun 2020.

Peningkatan kasus selama pandemi juga terjadi terhadap budak yang menjadi korban kebusukan seksual online , dari sebelumnya 87 laporan menjadi 103 petunjuk.

Selain itu, kasus anak yang mengoleksi konten pornografi meningkat empat kala lipat dari masa sebelum pandemi. Semula 94 kasus menjadi 389 kasus.

Sumber gambar, AFP

Menurut Ai Maryati, angka ini hanyalah fenomena puncak gunung es, di mana masih banyak kasus yang tak dilaporkan.

“Sementara hari ini, kita jangankan bicara soal tersebut sebagai optimalisasi sex education atau kesehatan reproduksi, perut tahun terakhir selama pandemi ini kan kita keteteran dengan mata pelajaran esensial anak-anak misalnya, ” katanya.

Ai menyebutnya jadi “rangkaian” masalah di mana penerapan pendidikan seks serta kespro sangat bergantung dibanding kemauan pemerintah, sekolah dan lingkungan keluarga.

Misalnya di lingkungan sekolah, tidak banyak guru yang melakoni esensi dari pendidikan seks dan kespro sehingga tak mampu menginternalisasikan pada ceroboh pelajaran utama.

Sumber tulisan, BAY ISMOYO/AFP via Getty Images

“Karena pemahaman guru-guru kita kan di populasi nasional itu terus sungguh, meningkat. Guru yang mana yang sudah [paham], mana yang belum, itu kan tantangan.

“Itu kegiatan keras. Kita justru kudu evaluatif. Kemendikbud harus mengambil ruang dialog itu membawa para ahli, termasuk kami KPAI dalam mengukur apakah internalisasi sudah jalan ataupun mandek, ” kata Ai Maryati.

Pengasuhan pada suku juga sangat bergantung daripada sosialisasi komunitas atau biar pemerintah. “Dan ini dasar lingkungan yang harus langsung diajak beredukasi, bukan sekadar dua kali kayak seminar”.

Sekali lagi Ai menekankan, pendidikan seks dan kespro merupakan dasar bagi penghormatan pada tubuh sendiri, di dalam tubuh orang lain, mengalami risiko pada seksualitas, yang berujung pada kesetaraan dan keadilan gender. Pemerintah diminta mengevaluasi termasuk membuat terobosan di saat ruang-ruang madrasah mulai dibuka kembali untuk pertemuan tatap muka.

“Jadi, saya pikir sekali sedang kespro, sex education , jangan terlalu dianggap tabu, dianggap kiri, dianggap sesuatu yang liberal, tetapi mari, ini menjelma kepentingan yang memang serupa harus disesuaikan dengan periode, derajat, dengan sasaran kita, ” jelas Ai.