Israel dan Uni Emirat Arab bekerja hubungan diplomatik, wilayah Tepi Barat urung dianeksasi, apa kata Palestina?

Diperbarui 4 jam yang lalu Sumber gambar, Reuters/Getty Images Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) mencapai perjanjian bersejarah dan mengabulkan untuk menormalkan hubungan kedua negara. Kesepakatan ini diumumkan oleh Kepala Amerika Serikat Donald Trump, keadaan Kamis (13/08).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Al Nahyan

Israel dan Asosiasi Emirat Arab (UEA) mencapai perjanjian bersejarah dan sepakat untuk menormalkan hubungan kedua negara.

Kesepakatan itu diumumkan oleh Presiden Amerika Konsorsium Donald Trump, hari Kamis (13/08).

Di dalam pernyataan bersama Presiden Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, & Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Al Nahyan, disebutkan bahwa suara ini “diharapkan akan memajukan jalan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah”.

Secara kesepakatan ini, Israel membekukan jadwal mencaplok sebagian besar wilayah Perebutan Tepi Barat.

Namun Palestina mengeluarkan pandangan negatif atas perkembangan ini.

Pejabat superior Palestina, Hanan Ashrawi, dalam pernyataan di Twitter mengatakan kesepakatan itu “membuka kontak-kontak rahasia antara UEA dan Israel”.

Kepada UEA, Ashrawi mengutarakan, “Tolong jangan bantu kami. ”

Klan Hamas yang menguasai Jalur Gaza menolak kesepakatan Israel-UEA dan menyebutnya sebagai “hadiah bagi pendudukan & kejahatan yang dilakukan Israel”.

Wartawan bidang diplomatik BBC, Jonathan Marcus, mengutarakan secara umum kesepakatan Israel-UEA tidak memberikan keuntungan bagi Palestina.

Perkembangan tersebut, kata wartawan BBC, hanya hendak menimbulkan frutrasi di pihak Palestina, karena sekali lagi mereka terpinggirkan dalam upaya penyelesaian masalah Timur Tengah.

Sebelum dicapai kesepakatan, Israel tak punya hubungan diplomatik dengan negara2 Teluk.

Meski demikian, Israel dan negara2 Teluk sama-sama mengkhawatirkan pengaruh Iran di kawasan, yang mendorong kontak-kontak tidak resmi antara Israel serta negara-negara Teluk.

Segera dirikan kedutaan gede

PM Netanyahu, dalam pernyataan melalui Twitter, menggambarkan kesepakatan ini sebagai “hari yang bersejarah”.

Duta besar UEA dalam Washington, Yousef Al Otaiba, mengutarakan kesepakatan UEA-Israel “adalah kemenangan bagi diplomasi dan bagi kawasan”.

Ia memasukkan, “Ini kemajuan penting dalam ikatan Israel dengan negara-negara Arab, yang akan mengurangi ketegangan dan menciptakan energi baru bagi perubahan pasti. ”

Kesepakatan tersebut adalah perjanjian ke-3 antara Israel dan Arab semenjak Israel menyatakan diri sebagai negara independen pada 1948.

Dua kesepakatan terdahulu dicapai dengan Mesir dan Yordania, masing-masing pada 1979 dan 1994.

Dalam beberapa pekan ke depan, wakil Israel dan UEA akan bertemu untuk menandatangani perjanjian bilateral di bidang investasi, pariwisata, penerbangan tepat, telekomunikasi, teknologi, energi, layanan kesehatan, kebudayaan, lingkungan, dan pendirian biro kedutaan.

Pernyataan bersama AS, Israel dan UEA juga menyebutkan Israel serta UEA akan bergabung dengan GANDAR untuk meluncurkan “Agenda Strategis Timur Tengah”.