HUT RI 75: Siapa Laksamana Maeda, perwira Jepang yang disebut berlaku dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia?

14 Agustus 2020, 09: 18 WIB Sumber gambar, Munasprok Pada 16 dan 17 Agustus 1945, naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan dan ditulis di rumah seorang perwira tinggi Tentara Laut Jepang, Laksamana Muda Tadashi Maeda. Siapa dia?

  • Jerome Wirawan
  • Wartawan BBC News Indonesia

maeda, proklamasi

Pada 16 dan 17 Agustus 1945, naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dirumuskan & ditulis di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, Laksamana Muda Tadashi Maeda. Siapa tempat?

Naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia membereskan banyak kisah. Salah satunya adalah tempat dia dirumuskan, yaitu dalam Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat—rumah yang dulunya dihuni oleh Laksamana Tadashi Maeda. Kok rumah Maeda dipilih? Dan siapa dia?

Pada 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta diculik oleh Soekarni Kartodiwirjo dan beberapa pemuda ke Rengasdengklok, Jawa Barat.

Tanpa kemunculan dua sosok tersebut, sidang Badan Persiapan Kemerdekaan (PPKI) bentukan Jepang terpaksa harus ditunda.

Achmad Soebarjo, dengan kala itu bekerja di pejabat penasehat Angkatan Darat Jepang, kemudian mendapat informasi bahwa Sukarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok.

Dia segera ke sana dan bernegosiasi agar Sukarno serta Hatta bisa dibebaskan. Para muda bersedia membebaskan kedua tokoh tersebut dengan syarat proklamasi harus lekas diumumkan tanpa bantuan Jepang.

hut ri, sukarno-hatta, maeda

Bonnie Triyana, seorang sejarawan sekaligus Pemimpin Redaksi akbar Historia , memperhitungkan peristiwa penculikan Rengasdengklok ini jadi suatu kelokan dalam sejarah Indonesia.

“Kalau mereka tidak diculik mungkin mereka hadir di sidang PPKI dan membacakan kemerdekaan. Tapi bakal sangat lain maknanya kalau kita lihat secara kontrafakta apa yang terjadi pada Sukarno Hatta & apa yang terjadi pada keluarga Indonesia apabila mereka tidak diculik. Ya mereka tanggal 16 Agustus pagi memimpin sidang PPKI & Bung Hatta sudah menyiapkan naskah pidato kemerdekaan yang akan dibagi-bagikan kepada anggota PPKI, ” paparnya.

‘Jangan halang-halangi kami merdeka’

Malam harinya, Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta guna memverifikasi kekalahan Jepang di tangan sekutu.

Berkat afiliasi Achmad Soebarjo, para tokoh memeleset ke rumah Laksamana Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Saat itu Jakarta dikuasai Angkatan Darat Jepang.

Maeda mengusulkan agar Sukarno, Hatta, & Achmad Soebarjo menemui Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto, kepala staf Tentara Angkatan Darat ke-16 yang menjelma kepala pemerintahan militer Jepang pada Hindia Belanda atau yang dikenal Gunseikan.

Yamamoto tidak menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Laksamana Maeda. Ia memerintahkan Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Bagian Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut.

Nishimura mengatakan kondisi sudah berubah, keinginan kemerdekaan sudah tidak bisa sedang diwujudkan.

Jaka Perbawa, kurator koleksi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, mengatakan bahwa dalam kesempatan itu Sukarno menodong Nishimura agar tidak menghalangi kemerdekaan Indonesia.

“Kecewa dengan jawaban Nishimura, Bung Karno dan Bung Hatta belakangan meminta kepada Nishimura: Kalau syarat kemerdekaan sudah tidak bisa lagi diwujudkan, jangan halang-halangi kami lepas dengan cara kami sendiri, ” jelas Jaka.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah

Dari sini, menurut Jaka, terbetik ide untuk menggunakan rumah Laksamana Maeda sebagai tempat persiapan independensi Indonesia.

“Pertimbangan wilayah Menteng, pertimbangan rumah Maeda sebagai wilayahnya Angkatan Bahar Jepang yang tidak bisa gegabah dimasuki kempetai Jepang. Di sinilah peran Soebardjo ketika memilihkan wadah yang aman agar tidak tersedia gangguan dari Angkatan Darat Jepang maupun kempetai.

“Terjadilah proses menodong izin. Achmad Soebardjo, Bung Karno, dan Bung Hatta meminta kerelaan kepada Laksamana Maeda 16 Agustus waktu itu pukul 10 malam. Apakah bersedia rumahnya dipakai sebagai tempat persiapan kemerdekaan atau tak, ” papar Jaka.

Setelah Maeda meluluskan, para pemuda berinisiatif menjemput anggota PPKI. Beberapa anggota PPKI dengan berasal dari luar Jakarta seperti dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi ditempatkan di Hotel Des Indes.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah

Dalam beberapa versi sejarah disebutkan bahwa setibanya di rumah, Maeda beristirahat di lantai atas tetapi meminta ke ajudannya, yaitu Shigetada Nishijima, untuk mengawal peristiwa itu serta memerintahkan kepala rumah tangga menyiapkan makanan dan minuman buat para tokoh di lantai bawah.

Menurut Bonnie Triyana, keterlibatan Maeda di rumahnya dengan para tokoh kemerdekaan sempat disembunyikan selama beberapa tahun setelah proklamasi 1945.

“Anda mampu bayangkan apabila rapat perumusan proklamasi ini tersiar luas di rumah seorang Jepang dihadiri oleh orang Jepang, apa yang akan dibuat oleh propagandanya Belanda yang periode itu ingin balik lagi?

“Wah, Nusantara ini bentukan fasisme Jepang, Nusantara ini boneka Jepang. Itu persuasi yang dilakukan Belanda meyakinkan pada sekutu bahwa ini harus dikembalikan keadaannya sebelum perang karena negeri sekarang tidak legitimate, dia disokong Jepang” papar Bonnie.

Presentational grey line

Siapa Maeda?

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau jika di mesin pencari lain

Sebelum menjelma tuan rumah bagi Sukarno, Hatta, dan para tokoh kemerdekaan, Maeda sudah tinggal di Jakarta semenjak 1930-an, menurut Jaka Perbawa.

“Laksamana Maeda di periode 1930-an itu sudah tinggal di Indonesia dan beberapa orang Jepang lainnya, mereka ditempatkan sebagai mata-mata. Tindakan infiltrasi biro intelijen Jepang untuk merangkul, mendata kira-kira baik itu tokoh-tokoh kaum muda ataupun tua yang mampu diajak bekerja sama untuk melahirkan Persemakmuran Asia Timur Raya.

“Mereka sudah tahu siapa saja tokoh-tokoh yang bisa direkrut dan Achmad Soebardjo salah satunya, ” cakap Jaka.

hut ri, jepang, maeda, sukarno-hatta

Dalam catatan Shigetada Nishijima yang dihimpun Universitas Waseda di Tokyo, Laksamana Maeda membentuk Jakarta Kaigun Bukanfu, yang beranggotakan kurang lebih 77 orang dari kalangan militer dan sipil, 13 karakter di antaranya adalah perempuan.

WP Suhartono dalam buku terbitan 2007 berjudul Kaigun Laskar Laut Jepang: Penentu Krisis Maklumat , menyebut pembentukan Jakarta Kaigun Bukanfu untuk memperoleh dukungan massa melalui tokoh-tokoh nasionalis demi kemajuan Perang Asia Timur Raya.

Organisasasi Jakarta Kaigun Bukanfu bermarkas dalam bekas bangunan gedung Volkscreditbank (Bank Kredit Rakyat) pada masa Hindia Belanda. Bangunan berlantai dua itu sampai saat ini masih muncul kokoh dan menjadi Markas Tinggi Angkatan Darat di jalan Medan Merdeka Utara Jakarta Pusat.

Hubungan Laksamana Maeda dengan Achmad Soebardjo dan tokoh-tokoh nasionalis lainnya melahirkan pembentukan Asrama Indonesia Merdeka dalam kawasan Kebon Sirih, Jakarta.

“Acmad Soebardjo lah yang menjadi kepercayaannya Maeda dengan membentuk Asrama Indonesia Langgas di Kebon Sirih. Bung Karno pun mengajar di sana, Iwa Kusumasumantri mengajar di sana, ” kata Jaka Perbawa.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

Laksamana Maeda harus menanggung konsekuensi mengandung setelah mengizinkan rumahnya sebagai wadah perumusan naskah proklamasi. Saat Inggris datang pada September 1945, Maeda dan stafnya, Shigetada Nishijima, ditangkap dan dimasukkan ke penjara Glodok dan rutan Salemba.

Dalam wawancara dengan Basyral Hamidy Harahap yang dituangkan dalam buku berjudul, Kisah Istimewa Bung Karno , Nishijima membeberkan kisahnya di dalam kurungan dengan Maeda.

Dia dipaksa mengiakan oleh Belanda untuk mencap Republik Indonesia merupakan bikinan Jepang. Sebab dalam tanggal naskah proklamasi tercatat ’05 berdasarkan tahun Jepang, tidak ’45.

Nishijima mengatakan, walau dirinya disiksa sampai buang air kecil berdarah, dia tetap tidak mengaku.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

Setelah dipulangkan ke Jepang, Maeda mengundurkan diri dari angkatan bahar Jepang menjadi rakyat biasa, tidak memiliki tunjangan pensiun.

Namun, Bujang Perbawa dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi menengarai bahwa generasi ketiga tahun 2000-an kemungkinan memposisikan Maeda sebagai sosok yang layak diperhitungkan dalam percaturan pasca Perang Dunia II.

“Ini dibuktikan dengan beberapa kali kurang lebih dua sampai tiga kali taruna-taruna angkatan laut Jepang merapat dengan kapal di Semenanjung Priuk dan datang ke museum ini khusus untuk mencari tahu di mana Maeda tinggal, ” tutur Jaka.

Pada 17 Agustus 1977, Maeda diundang pemerintah Indonesia buat menerima tanda kehormatan Bintang Jasa Nararya.

Presentational grey line

Perumusan tulisan proklamasi

Memasuki 17 Agustus 1945 pusat malam, puluhan tokoh pemuda beserta anggota PPKI telah berkumpul dalam rumah Laksamana Maeda.

Proses perumusan naskah proklamasi dilakukan oleh Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo di bagian makan, sedangkan yang lainnya menanti di ruang besar.

“Bung Karno mau Bung Hatta yang mendikte sebab Bung Hatta yang paling sopan bahasanya. “You diktein , saya tulis” kata Bung Karno. Makanya ada corat-coret. Ada Soebardjo juga bertiga mereka merumuskan, ” kata Bonnie.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

Seusai merumuskan naskah proklamasi, Sukarno melangkah ke bagian besar di rumah Laksamana Maeda, tempat berkumpul 40 sampai 50-an orang.

Hatta mengusulkan agar memasukkan deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat dengan founding fathers nya meneken semua.

“Kemudian Sukarni datang dengan pokok dua orang saja yang tandatangan, Sukarno dan Hatta, tapi akan nama rakyat Indonesia. Ya telah disetujui, ” kata Bonnie.

Setelah disepakati siapa yang harus menandatangani apa saja yang harus diubah & sudah sepakat, Sukarno meminta pada Sayuti Melik untuk mengetik tulisan proklamasi dengan didampingi wartawan BM Diah.

Namun, masalah muncul. Laksamana Maeda tidak memiliki mesin ketik dengan huruf Latin, tapi huruf kanji.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

Berdasarkan kesaksian Satsuki Mishima, sebagai asisten famili di kediaman sah Maeda, bahwa atas perintah Maeda, dia berusaha untuk mencari serta meminjam sebuah mesin ketik sejak Konsulat Jerman.

“Di sana ada Utama Kandelar. Akhirnya mesin ketik Armada Laut Jerman itulah yang digunakan untuk mengetik naskah Proklamasi, ” tutur Jaka Perbawa, kurator kumpulan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Saat mengetik, Sayuti Melik mengubah tiga kata dari tulisan tangan Sukarno, semacam kata ‘tempoh’ menjadi hanya ‘tempo’. Kemudian ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ menjelma ‘atas nama bangsa Indonesia. ‘

Lalu penulisan tahun. Pada naskah tulisan bung Karno tertulis: ‘Jakarta, 17-8-05’, oleh Sayuti Melik ditambah menjadi ‘hari 17 bulan 8 dan tahun 05’.

“Tahun 05 merupakan penanggalan kalender Jepang 2605 tersebut setara dengan 1945, karena di jaman Jepang, mereka tidak menggunakan tahun Masehi di semua cetakan harus menggunakan tahun Jepang, ” kata Jaka.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

Setelah naskah proklamasi rampung diketik pukul 02. 00 dini hari, Sukarno dan Hatta membubuhkan petunjuk tangan di atas grand piano yang ada di rumah Maeda.

Berbekal naskah yang telah ditandanganinya, Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia beberapa tanda kemudian di kediamannya yang terpaku hampir dua kilometer dari panti Laksamana Maeda.

Secara keseluruhan panti Maeda hanya digunakan selama empat jam. Namun, empat jam tersebut lah yang turut menentukan nasib Indonesia sebagai sebuah negara.

“Semuanya seperti belokan di sejarah. Sendi ini seperti sebuah halte dengan dilewati dalam rangkaian sejarah kita. Jadi sebelum halte-halte lain kita lewati ini satu diantara halte di mana kemerdekaan kita dirumuskan, ” pungkas Bonnie.

hut ri, sukarno-hatta, laksamana maeda, sejarah, jepang

LIPUTAN KHUSUS 75 TARIKH KEMERDEKAAN INDONESIA