Hoaks vaksin: Pengakuan para Youtuber yang diminta sebarkan berita bohong soal vaksin sebab perusahaan misterius

8 jam yang lalu Sebuah perusahaan pemasaran yang misterius menawarkan uang pada sejumlah pesohor media baik untuk menyebarkan hoaks menghantam vaksin-vaksin Covid-19. Rencana tersebut gagal ketika para influencer atau pemengaruh itu menyampaikan tawaran yang mereka terima kepada khalayak umum.

hoaks-vaksin-pengakuan-para-youtuber-yang-diminta-sebarkan-berita-bohong-soal-vaksin-oleh-perusahaan-misterius-8
  • Charlie Haynes dan Flora Carmichael
  • BBC Trending

Sebuah perusahaan pemasaran yang asing menawarkan uang kepada sebesar pesohor media sosial buat menyebarkan hoaks mengenai vaksin-vaksin Covid-19.

Program itu gagal ketika para influencer atau pemengaruh tersebut mengadukan tawaran yang mereka terima kepada khalayak ijmal.

“Cerita ini diawali secara sebuah email, ” prawacana Mirko Drotschmann, seorang kuli yang juga Youtuber asal Jerman.

Drotschmann biasanya menumpukan tawaran dari merek-merek yang memintanya untuk mempromosikan keluaran mereka ke lebih dibanding 1, 5 juta pengikutnya.

Namun, tawaran pada Mei berarakan tersebut lain daripada yang lain.

Sebuah perusahaan pemasaran bernama Fazze menawarkan Drotschmann untuk mempromosikan sesuatu yang mereka klaim sebagai informasi bocoran bahwa tingkat kematian orang-orang penerima vaksin Pfizer dekat tiga kali lipat lantaran orang-orang penerima vaksin AstraZeneca.

Informasi itu adalah hoaks belaka.

Baca selalu:

Bagi Drotschmann, semakin jelas bahwa dirinya diminta menyebarkan informasi menyesatkan berperan mengikis kepercayaan publik terhadap vaksin di tengah pandemi.

“Saya terkejut, kemudian beta penasaran. Siapa di pulih semua itu? ” introduksi Drotschmann.

Sumber gambar, Mirko Drotschmann

Di Prancis, Youtuber bidang sains, Leo Grasset, menerima tawaran serupa.

Perusahaan itu menawarkan 2. 000 euro (sekitar Rp34 juta) jika Grasset berpartisipasi.

Fazze mengeklaim pihaknya hanyalah perantara bagi seorang klien yang tidak mau identitasnya diungkapkan.

“Benar-benar mencurigakan, ” ujar Grasset.

Molek Grasset maupun Drotschmann tercengang oleh klaim perusahaan Fazze.

Namun, mereka pura-pura tergiring untuk mengetahui lebih tinggi. Mereka kemudian diberikan instruksi rinci tentang apa dengan mereka harus katakan di dalam video Youtube.

Dalam gaya Inggris yang patah-patah, perintah itu menyuruh mereka “berakting seolah Anda punya sifat dan minat pada topik ini”.

Sumber gambar, Leo Grasset

Instruksi itu pula mewanti-wanti mereka agar tak menyebut bahwa video dengan mereka buat disponsori—serta berpretensi bahwa mereka memberikan imbauan secara spontan demi kebaikan penonton.

Platform-platform media sosial punya aturan yang melarang pembuat video merahasiakan konten bersponsor.

Di Prancis dan Jerman, tindakan tersebut juga tergolong ilegal.

Kongsi Fazze pun menyuruh para influencer membagikan artikel sejak surat kabar Prancis, Le Monde , mengenai kebocoran data dibanding Badan Obat-obatan Eropa (EMA).

Artikel itu asli, tapi sama sekali tidak menuturkan soal kematian akibat vaksin.

Namun, jika influencer menyebutkannya, ada kesan invalid bahwa statistik mengenai tingkat kematian berasal dari bocoran data tersebut.

Membaca juga:

Data dengan harus disebut para influencer pada video mereka sejatinya digabung dari sumber-sumber bertentangan serta ditarik keluar dari konteks.

Dengan demikian, influencer nantinya menyajikan jumlah karakter yang meninggal dunia pada sejumlah negara beberapa saat setelah menerima vaksin Covid. Padahal, hanya karena seseorang meninggal setelah menerima vaksin, bukan berarti dia meninggal karena vaksin tersebut.

Bisa saja orang tersebut tewas akibat kecelakaan mobil.

Dari statistik yang diambil dari negara-negara tertentu, kebanyakan orang menerima vaksin Pfizer sehingga jumlah orang yang meninggal setelah menerima vaksinasi Pfizer seolah menjadi kesimpulan.

“Jika Anda tidak mendapat pelatihan sains, Anda mampu bilang, ‘Oh angka-angka itu sangat berbeda, pasti ada kaitannya’. Tapi Anda tak bisa serta-merta menyatakan ada korelasinya, ” kata Grasset.

Para influencer ini selalu diberikan daftar tautan buat dibagi ke khalayak—sejumlah artikel meragukan yang mengutip data-data janggal yang seolah membuktikan vaksin Pfizer berbahaya.

Tengah Grasset dan Drotschmann mengungkap tindakan perusahaan Fazze dalam Twitter, semua artikel—kecuali tulisan Le Monde —menghilang dari jaringan internet.

Secara keseluruhan, rangkaian aksi Fazze untuk menyebarkan informasi menyesatkan ke jemaah telah gagal.

Kemudian, sejak Grasset dan Drotschmann mengungkapkan aksi tersebut, setidaknya 4 influencer lain di Prancis dan Jerman yang menimbrung mengaku bahwa mereka menentang upaya Fazze untuk merekrut mereka.

Akan tetapi, kuli Jerman, Daniel Laufer, mengecap ada dua influencer yang mengambil tawaran tersebut.

Patuh Laufer, dua individu itu mencakup Youtuber asal India, Ashkar Techy, yang normal menayangkan konten soal mobil; serta Everson Zoio pokok Brasil yang punya 3 juta pengikut di Instagram.

Keduanya mengunggah video-video yang memuat pesan seperti gerakan Fazze serta membagikan tautan berita palsu sebagaimana diinginkan perusahaan tersebut. Keduanya juga telah berpartisipasi dalam promosi Fazze sebelumnya.

Setelah Daniel Laufer menghubungi mereka, Everson Zoio dan Ashkar Techy menghapus video masing-masing namun tidak menjawab pertanyaan dengan diajukan Daniel Laufer.

BBC berupaya menghubungi ke-2 influencer namun mereka tidak merespons.

Sumber gambar, Ashkar Techy

BBC juga sudah mengirim email kepada orang yang menghubungi Grasset & Drotschmann. Email itu memantul, bukan dari Fazze, akan tetapi dari domain sebuah kongsi bernama AdNow.

Fazze merupakan bagian dari AdNow, yang merupakan perusahaan pemasaran digital dan terdaftar di Rusia serta Inggris.

BBC berulang kali mencoba menghubungi AdNow melalui telepon, email, & bahkan surat yang diantar kurir ke markas mereka di Moskow. Namun, perusahaan itu tidak merespons.

Keputusannya BBC dapat mengontak Ewan Tolladay, satu dari besar direktur perusahaan Adnow cabang Inggris. Tolladay tinggal pada Durham.

Tolladay mengatakan dirinya hanya punya sedikit kontribusi dengan Fazze—perusahaan yang dia sebut sebagai ventura gabungan antara direktur asal Rusia bernama Stanislav Fesenko dan orang lain yang identitasnya tidak dia ketahui.

Tolladay mengeklaim dirinya bukan periode dari upaya menyebarkan bahan menyesatkan ke publik.

Dia juga mengeklaim dirinya bahkan tidak tahu Fazze mengontrak para influencer sebelum berita itu terungkap. Tetapi, dia tidak bisa memberitahu siapa klien misterius yang dilayani Fazze.

Setelah skandal terbongkar, Tolladay mengisbatkan “pihaknya kini melakukan tanggung jawab dan menutup AdNow di Inggris”. Dia mengatakan Fazze juga akan ditutup.

BBC telah berupaya meminta Fesenko berbicara, namun tak ada tanggapan.

Baik abdi Jerman maupun aparat Prancis telah menggelar penyelidikan terhadap Fazze yang mendekati para influencer. Hingga saat itu identitas klien perusahaan itu belum jelas.

Ada spekulasi keterlibatan Rusia dalam skandal ini dan kepentingan pemerintah Rusia dalam mempromosikan vaksinnya, Sputnik V.

Omid Nouripour, juru bicara bidang kecendekiaan luar negeri dari Kelompok Hijau di Jerman, menasihatkan agar menyelidiki keterlibatan Moskow di balik kampanye Fazze.

“Menjelek-jelekkan vaksin di Barat melemahkan kepercayaan pada demokrasi kita dan ditengarai meningkatkan kepercayaan pada vaksin Rusia. Hanya ada satu bagian yang memeroleh manfaat dan itu adalah Kremlin, ” tukas Nouripour.

Kedutaan Rusia di London membantah anggapan tersebut.

“Kami mengakui Covid-19 sebagai ancaman global dan, karena itu, tidak tertarik melemahkan upaya global dalam melawan [pandemi]. Memvaksinasi orang dengan vaksin Pfizer adalah salah kepala cara menangani virus tersebut. ”

Meskipun kampanye Fazze gagal, Leo Grasset tetap upaya tersebut bukanlah upaya terakhir untuk menggunakan kekuatan influencer sosial guna menyebarkan hoaks.

“Jika Anda ingin memanipulasi opini publik, khususnya anak-anak muda, Anda tak menggunakan TV, ” kata Grasset.

“Belanjakan anggaran yang sama untuk pembuat konten TikTok, YouTube. Seluruh ekosistem dibangun sempurna untuk memaksimalkan efisiensi penyebaran disinformasi. ”