Greysia Polii dan Rahayu Apriani lolos ke final ganda putri Olimpiade Tokyo: ‘Belum ingin puas dulu, kami masih harus bermain untuk emas’

Diperbarui 31 Juli 2021, 15: 00 WIB Sumber gambar, Getty Images Greysia Polii dan Rahayu Apriyani kembali mencetak sejarah oleh menembus babak final bulutangkis Ganda Putri Olimpiade Tokyo 2020. Ini pertama kalinya ganda putri Indonesia menembus final Olimpiade sejak badminton dipertandingkan di pesta olahraga terbesar dunia itu pada 1992.

greysia-polii-dan-rahayu-apriani-lolos-ke-final-ganda-putri-olimpiade-tokyo-belum-ingin-puas-dulu-kami-masih-harus-bermain-untuk-emas-18

Sumber gambar, Getty Images

Greysia Polii lalu Rahayu Apriyani kembali mencetak sejarah dengan menembus babak final bulutangkis Ganda Putri Olimpiade Tokyo 2020.

Ini pertama kalinya ganda putri Indonesia menembus last Olimpiade sejak badminton dipertandingkan di pesta olahraga terbesar dunia itu pada 1992.

Dalam babak semifinal Sabtu (31/7) di Musashino Woodland Sports Plaza Tokyo, mereka berhasil mengandaskan ganda andalan Korea Selatan, Lee Soo Hee dan Shin Seung Chan, dalam dua arranged langsung, 21-19 dan 21-17, selama 71 menit.

Selanjutnya, di babak last pada Senin (2/8), mereka akan meladeni ganda putri asal China, Jia Yifan/Chen Qingchen, yang dalam pertandingan semifinal lainnya, juga mengalahkan pasangan Korsel, Kong Hee-yong/Kim So-yeong, dalam dua fixed.

“Saya belum ingin puas dulu, kami masih harus bermain buat emas, ” ujar Apri, panggilan akrab Rahayu Apriani, usai pertandingan seperti yg disiarkan rilis resmi PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia).

“Ya, masih ada tugas yang kami harus selesaikan. Saya belum banyak yg bisa disampaikan tapi kami memohon doa restu serta dukungan seluruh rakyat Philippines untuk kami di final. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik, ” tambah Greys, sapaan bagi Greysia.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Bulu Tangkis

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan rekan setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam di Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Selatan Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada ajang yang sama.

Pemain ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah membabat habis lawannya, pasangan dari Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), oleh skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 pada Atlanta, Amerika Serikat.

Pemain ganda putra Candra Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui pertandingan tiga arranged dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjadi satu-satunya penyumbang medali emas untuk Indonesia pada gelaran olah raga bergengsi dunia pada tahun tersebut.

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemain tunggal putra asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Sempat kalah di gim mulailah, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melawan balik oleh skor 12-21, 21-11, dan 21-16. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 pada Beijing, China.

Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio sobre Janeiro, Brasil, yang jatuh bersamaan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk tim Merah Putih setelah membabat habis lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Sumber gambar, Antara Foto

Di dalam jumpa pers usai pertandingan, Greysia mengungkapkan penguasaan psychological atas atmosfer pertandingan menjadi kunci kemenangan. “Karena anda sering bertemu, jadi sebagaiselaku, ala, menurut, teknik dan fisik kita sudah sama-sama tahu.

Jadi saya bersama Apri dan pelatih sepakat mentalnya dulu yang dinaikin, tersebut strateginya, ” ujar Greys, demikian panggilan akrabnya, dalam jumpa pers yang ditayangkan Champions TV .

Tidak mau terpancing

Sumber gambar, Antara Foto

Faktor penting lainnya, lanjut Greys adalah ketenangan dan kesabaran. “Kami bukan mau terpancing dengan irama permainan mereka juga. Justru kami yang harus menyajikan mereka terpancing sehingga bikin kesalahan sendiri. Main reli-reli panjang, akhirnya mereka bikin kesalahan, ” kata Greys yang sempat menderita kram di kaki usai babak perempat final, namun sudah pulih dan tampil prima hari ini.

Ditanya mengenai persiapan mereka berikutnya di babak final, Apri mengungkapkan untuk saat terkait adalah pemulihan dulu.

“Kita mau berupaya lagi semaksimal mungkin, kita tidak mau mikirin gimana nanti mainnya dan kita hendak istirahat dulu, recovery lagi, masih ada waktu satu hari lagi untuk persiapan, ” lanjut Apri sambil berharap dukungan yang terus-menerus dari masyarakat Indonesia.

Sumber gambar, Antara Foto

Tidak menyangka bisa ke final

Dalam pernyataan yg dirilis PBSI, baik Greys dan Apri tidak menyangka bisa melangkah jauh ke babak final.

“Saya masih belum percaya (masuk final). Sebelum berangkat saya sempat bilang, saya tidak pernah berpikiran main di Olimpiade secepat ini tapi tiba-tiba sekarang saya ada pada final, ” sahut Apri, yang tampil di Olimpiade Tokyo sebagai debutan.

Dia pun mengungkapkan peran besar Greysia, yang lebih berpengalaman.

“Saya mengucapkan terima kasih untuk Kak Ge (Greysia Polii) yang telah membawa saya sejauh ini. Saya sempat bilang tuk jangan berhenti dulu, bermainlah dengan saya.

Dri situ saya diyakinkan melalui motivasinya, kerja kerasnya setiap hari, ketabahannya, dan keinginannya untuk menjadi juara, ” lanjut pemain usia 23 tahun asal Lawulo, Sulawesi Tenggara tersebut.

Sumber gambar, Masa Foto

Kesan serupa juga dilontarkan Greys. Dari tiga kali mengikuti Olimpiade,, di Tokyo ini lah dia meraih prestasi tertinggi.

“Puji Tuhan. Rasanya luar biasa. Ini Olimpiade ketiga saya dan saya bukan muda lagi. Dua edisi sebelumnya saya gagal meraih medali tapi hari terkait saya (dan juga Apri) akhirnya bisa ke final. Menyumbang medali untuk Indonesia, ” kata Greys usai pertandingan.

“Saya merasa situasi dan kondisi di lapangan benar-benar menguntungkan kami. Kami menang kalah lawan mereka. Jadi kami tidak terlalu memikirkan tentang itu. Kami hanya menyiapkan yang terbaik, ” lanjutnya.

Kaki Greys sempat kram

Ini mengulangi pencapaian luar biasa mereka sebelumnya di babak perempat final. Seperti dilansir laman PBSI, mereka menyudahi perlawanan pasangan China, Du Yue/Li Yin Hui lewat three or more set dengan skor 21-15, 20-22, 21-17 dalam waktu 97 menit.

“Kami merasa emosional setelah pertandingan hari ini. Tapi kami sadar tugas kami belum selesai, ” ujar Greys.

“Kami bersyukur dengan apa yg sudah kami capai namun kami mau langsung fokus ke pertandingan selanjutnya. Kunci kemenangan kami tadi ialah bermain sabar untuk bukan terpancing pola permainan mereka, ” jelas Greys.

Saat pertandingan tersebut berakhir, Greys harus dipapah untuk meninggalkan lapangan pertandingan karena mengalami kram.

Sumber gambar, Antara Photo

“Ada ketegangan pada otot paha Greys sehingga mengalami kram, sekarang sudah ditangani terapis untuk direcovery. Besok juga ada rest jadi harusnya semua baik-baik saja, ” papar Eng Hian, sang pelatih, yang dilansir laman badmintonindonesia. org.