GANDAR: Trump minta bantuan Xi Jinping agar menang pilpres, kata bekas penasihat keamanan nasional

Presiden Amerika Konsorsium, Donald Trump, berupaya meminta tumpuan kepada Presiden China, Xi Jinping, agar dia bisa kembali lulus dalam pilpres AS mendatang, ucap mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, dalam buku barunya.

GANDAR: Trump minta bantuan Xi Jinping agar menang pilpres, kata bekas penasihat keamanan nasional

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berupaya menodong bantuan kepada Presiden China, Xi Jinping, agar dia bisa balik menang dalam pilpres AS mendatang, sebut mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, dalam buku barunya.

Dalam cuplikan tampang karyanya yang diberikan kepada media AS, Bolton mengatakan bahwa Trump ingin China membeli produk-produk pertanian dari para petani AS.

Para koresponden media mengucapkan hal ini mengingatkan khalayak ketika Trump dituding meminta presiden Ukraina menyelidiki bakal calon presiden sebab Partai Demokrat, Joe Biden.

Pemerintahan Trump diketahui berusaha mencegah buku ini tidak datang. Menurut Departemen Kehakiman, buku tersebut memuat “informasi rahasia”, namun Bolton menepisnya.

Buku berjudul The Room Where It Happened bahan dirilis pada 23 Juni mendatang.

Dalam buku tersebut, Bolton juga membahas klaim-klaim yang berujung pada sidang pemakzulan Trump.

Klaim itu, antara asing, Trump menahan bantuan militer ke Ukraina guna menekan Presiden Volodymyr Zelensky agar memulai penyelidikan kepada Joe Biden dan putranya, Hunter.

Trump membantah informasi tersebut dan, setelah sidang berlaku selama dua pekan di Senat yang dikendalikan Partai Republik, tempat tidak dimakzulkan.

Bolton mengatakan penyelidikan itu mungkin bertentangan hasilnya jika tidak hanya fokus ke Ukraina, tapi contoh-contoh campur tangan politik lainnya.

Bolton bergabung dengan Gedung Suci pada April 2018 dan kabur pada September 2019. Saat itu dia mengatakan dirinya memutuskan berakhir sebagai penasihat keamanan nasional. Mau tetapi, Trump berujar bahwa Bolton dipecat karena perbedaan pendapat dengan “kuat”.

Apa yang dituduh Bolton terkait Xi Jinping?

Tuduhan Bolton merujuk pada pertemuan antara Trump dan Xi pada pertemuan G20 dalam Osaka, Jepang, pada Juni 2019.

Presiden China tersebut mengeluh bahwa sejumlah kalangan pada AS menyerukan perang dingin yang baru, menurut Bolton dalam kutipan buku yang diterbitkan harian New York Times,

Trump, kaya disebutkan Bolton, kemudian berasumsi bahwa Xi merujuk pada orang-orang Golongan Demokrat.

“Trump, dengan menakjubkan, mengubah percakapan itu menjelma soal pemilihan presiden AS [pada 2020], dengan menyebut kemampuan ekonomi China dan memohon Xi supaya memastikan dirinya menang, ” tulis Bolton.

“Dia mendahulukan pentingnya para petani dan pentingnya peningkatan pembelian kacang kedelai dan gandum dari China terhadap buatan pemilihan, ” tambah Bolton.

Ketika Xi sepakat biar diskusi mengenai produk-produk pertanian menjadi prioritas dalam perundingan dagang, Trump menyebut Xi sebagai “pemimpin terhebat dalam sejarah China”.

Penuturan Bolton ini dibantah Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, pada Rabu (17/06). Lighthizer mengatakan permintaan agar China membantu Trump agar terpilih lagi “tidak pernah terjadi”.

Bolton juga menyuarakan soal percakapan antara Trump & Xi saat makan malam dalam acara pembukaan pertemuan G20. Masa itu, keduanya berdiskusi soal pembangunan kamp-kamp di wilayah Xinjiang, bagian barat China.

Trump, kata Bolton, berujar bahwa pendirian kamp-kamp tersebut seharusnya terus berlangsung karena “itu adalah hal yang benar untuk dilakukan”.

Berbagai kelompok hak asasi manusia telah dengan keras mengritik China mengenai pembangunan kamp-kamp tersebut dengan menahan sekitar satu juta orang etnik Uighur dan etnik minoritas lainnya untuk dihukum dan diindoktrinasi.

Apa hal lain yang disebutkan dalam buku Bolton?

Beberapa penasihat terdekat Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Bolton sendiri, memikirkan untuk mundur dari jabatan sebab muak atau frustrasi, sebut sang mantan penasihat keamanan nasional.

“Dia menebak-nebak motif orang, melihat konspirasi di balik segala sesuatu, dan secara menakjubkan pasti tidak tahu bagaimana memimpin Gedung Putih—jangankan pemerintah federal yang luhur, ” tambah Bolton.

Dia menyertakan rincian sejumlah permufakatan pribadi, antara lain Trump dituduh tidak tahu Inggris punya gaya nuklir dan Finlandia adalah sebuah negara.

Dalam kepala kesempatan, sebagaimana dituliskan Bolton, si presiden mengatakan akan mengancam tertinggal dari NATO jika para gabungan di blok tersebut tidak memajukan anggaran belanja di sektor pertahanan.

Bolton juga menyebut bahwa Pompeo—yang secara umum dianggap setia kepada Trump—pernah mengeluh dia mengalami “serangan jantung” dalam dialog dengan pemimpin Korea Selatan.