Demam berkebun di tengah pandemi Covid-19: ‘Sekadar tren atau akan maka gaya hidup berkelanjutan? ‘

sejam yang berantakan Sumber gambar, Dok. IG Laligar_Nursery Berkebun di rumah menjadi opsi masyarakat untuk beraktivitas positif pada tengah aturan pembatasan selama pandemi Covid-19. Pilihan yang membuat produsen tanaman hias kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar.

Laligar Nursery tanaman hias

Berkebun di rumah menjadi pilihan umum untuk beraktivitas positif di tengah aturan pembatasan selama pandemi Covid-19.

Pilihan yang membuat produsen tanaman hias kewalahan untuk menutup permintaan pasar.

Menurut pakar perkotaan, tren berkebun di rumah sebagai bentuk pelarian melepaskan stress di pusat tekanan pandemi dan kemungkinan hanya akan terjadi sesaat karena rutinitas kembali menggilas.

Raissa Faranda, 20 tahun, punya lahan kosong sekitar besar meter persegi di halaman panti. Lahan minimalis itu telah menjelma rumah bagi aneka tanaman bertabur dan hias.

“Di teras juga ada banyak pot, cabai, tomat ceri, buncis, kacang panjang, bunga matahari, basil, seledri, terong, paprika, kurang bunga calendula, zinnia, ada monstera, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Sabtu (19/09).

“Paling favorit, ego suka banget bunga matahari. ”

berkebun di rumah

Mahasiswi di salah satu kampus swasta Jakarta, mengaku sudah menyukai berkebun sejak dua tahun terakhir. Tapi kian tekun di masa pandemi.

“Karena betul pandemi, lockdown . Aku nggak bisa ke kampus, semua online. Dan itu bahkan jadi kayak berkebun itu kesibukan di luar ruangan, yang jatuhnya meditasi buat aku. Refreshing -nya aku, ” kata Raissa.

Selama menekuni berkebun, perut pelajaran yang ia dapat: janji dan kesabaran. Komitmen ‘bangun pagi, untuk tetap ingat menyiram meskipun ada kegiatan lain’, dan ketenangan untuk menuai hasil kebun.

“Nggak agak-agak kayak tanam satu benih, pada satu minggu langsung berbunga, tersebut nggak mungkin banget. Jadi harus sabar, dirawat terus, ” sebutan Raissa yang punya mimpi mempunyai kebun, dan memenuhi kebutuhan pangannya dari sana.

berkebun di rumah

Bukan hanya Raissa yang memiliki mimpi seperti itu. Deasy Putri, 34 tahun, yang besar di Jakarta punya mimpi memajukan pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Saat ini Deasy memiliki kebun seluas 300 meter persegi di belakang vila. Ketika harga kebutuhan memasak dalam dapur melambung, ia tak merasakan.

“Saya tidak pernah mengalami mahalnya cabe dan mahalnya jahe. Tinggal ambil dari belakang, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Minggu (20/09).

Pemanfaatan lahan minimalis halaman sendi untuk berkebun juga ditekuni Imam Kurnia Putra, 29 tahun.

Direktur produk di salah satu perusahaan start-up, mengatakan sempat mengabaikan lahan kosong di rumahnya.

petani kota berkebun dari rumah

“Sebelum pandemi itu, kita cuma ada tanaman yang dikasih sama developer. Cuma nggak disiram juga. Karena berangkat pagi, pulang sore-malam. Maksudnya memulainya aja nggak sempat, ” kata Imam kepada BBC News Indonesia, Sabtu (19/09).

Namun, masa pandemi mengubah kebiasaan Imam dan isterinya untuk memulai berkebun.

“Tadinya kita cuma tanam di balkon kamar atas, itu cuma 1×1 meter. 3-4 tanaman. Awalnya kita coba dibanding kunyit, daun salam, daun jeruk, sama cabai, sama telang. Nah itu yang benar-benar dipakai istriku buat masak, ” kata Imam.

Selain bisa mengurangi ketegangan hidup karena pandemi, berkebun juga punya haluan praktis, kata Imam.

“Tujuannya buat memenuhi kebutuhan di dapur juga kayak kalau perlu cabe jika habis, tinggal ambil aja . Kayak daun tenteram, daun jeruk, kayak gitu , lumayan membantu serupa. ”

Selama masa pademi, ‘demam berkebun’ ikut melanda warga perkotaan. Peristiwa yang diyakini makin diminati jadi momentum mendekatkan manusia dengan alam.

Sarah Adipayanti adalah Learning Coordinator Parak Kumara, sebuah wadah belajar berkebun yang berdiri sejak 2016. Menurutnya, minat masyarakat untuk berkebun makin tinggi di tengah pandemi.

Ara – sapaan Sarah Adipayanti, mengatakan minat ini ditunjukkan dari tingginya pesan yang masuk lewat media sosial. Pesan ini terkait dengan teknik mulai bertanam hingga cara menuai.

“Lebih interaksi sosial lewat IG ataupun meningkat juga request webinar online tentang berkebun, ” katanya.

Kegiatan pelatihan berkebun secara online mulai dibanding dasar, hingga membuat kompos dibanderol Rp300. 000-350. 000 per pengikut.

Kebun Kumara juga melibatkan lembaga pemerhati pertanian, hingga pesohor buat melakukan edukasi berkebun lewat media sosial.

Sebut saja Nadine Chandrawinata, Tantri Namirah, Chitra Subiyakto serta Artika Sari Devi Kusnayadi.

Ara mengatakan saat ini lembaganya lebih banyak berkegiatan melalui online, tercatat membuat konten-konten kreatif untuk edukasi. Kebun Kumara lebih menekankan permaculture.

“Transisi awal dari offline ke online saja (tantangannya), tapi sisanya malah aku melihat positifnya, orang-orang, malah semakin tertarik dan peka untuk berkebun di rumahnya sendiri, ” katanya.

Permintaan melambung: ‘tanaman belum berurat sudah dibeli’

Syafrul Reiza, 31 tahun, adalah pemilik Laligar Nursery. Keluaran UIN Jakarta meneruskan bisnis tumbuhan hias ayahnya sejak 2006.

Ia mengiakan kewalahan dengan permintaan tanaman hias di masa pandemi.

“Yang jadi jual itu tanamannya juga kewalahan, karena permintaan itu, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (21/09).

Sebagai perbandingan, sebelum pandemi Reiza menjual tanaman jenis begonia polkadot sebanyak 50-100 tanaman dalam masa sampai dua pekan.

“Saat pandemi itu ada seminggu itu kira-kira 200-500 pieces permintaan. Sedangkan daya nursery itu nggak cukup buat memenuhi permintaan pasar, ” katanya.

Pemilik Laligar Nursery, Syafrul Reiza menunjukkan salah satu koleksi tanaman hiasnya.

Bukan hanya permintaan terhadap flora yang melambung tinggi. Keberadaan pot untuk menanam juga langka di pasaran.

Sebelum pandemi, harga jambangan ukuran 20 centimeter Rp12. 000 per lusin. Tapi harganya naik hingga 100% di masa pandemi.

“Sekarang itu Rp20. 000-22. 000 bola lampu lusin. Naiknya luar biasa, ” cakap Reiza.

Perilaku pasar juga berubah. Membeli tanaman yang sebenarnya belum jadi untuk dijual. Reiza bercerita, buat tanaman hias jenis begonia biasanya baru siap dijual setelah kepala bulan setelah dipotong dari induknya.

“Tapi ini 1-3 hari supplier sudah ambil, karena takut kehabisan. Padahal akar itu belum menonjol, belum apa, sudah diambil, ” kata Reiza.

Selama masa pandemi, Reiza mengaku omsetnya naik lebih dibanding 100%. Jika di rata-rata Rp6 juta per bulan.

“Itu hanya omset di penjualan wholesale-kepada pengecer dalam jumlah besar-saja, belum ditambah penjualan retail baik online maupun yang langsung ke nursery, ” katanya.

berkebun di rumah

Sejumlah tanaman hias yang dipasarkan antara lain paperomia, Raphidophora tetrasperma, pakis, giant veriegata, peperomia raindrop, pictum, philodendron squamiferum, sansevieria, kaktus, gloriosum, monstera adansonii & lainnya.

Reiza meyakini berkebun bagi klub perkotaan akan menjadi gaya tumbuh baru yang berkelanjutan.

Dan usaha ini, kata dia, akan selalu diminati meski diperkirakan akan menjalani ‘penurunan yang tidak signifikan’.

Market place , media sosial, selama itu masih ada, atau ada perkembangan berikutnya teknologi informasi ini, tanaman memper ini akan eksis, ” katanya.

tanaman hias

Hanya demam sesaat?

Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna dari Universitas Trisakti Jakarta, menilai masa pandemi ini memproduksi masyarakat terbatasi untuk beraktivitas dalam luar ruangan.

Tidak seperti sebelum pandemi, kebahagiaan itu bisa dicari lewat belanja ke mal, berkantor, berkumpul, berwisata, dan lainnya.

“Kalau masyarakat itu dikekang, ada constrain t di situ, kudu ada ruang. Ada virus, lalu pemerintah membuat aturan-aturan.

“Makin saksama aturan itu, makin mengekang, maka orang akan keluar mencari ruang-ruang baru, ” kata Yayat kepada BBC News Indonesia, Minggu (20/09).

Ia melihat hal ini layaknya hangat bersepeda di masa pandemi. Menurutnya, masyarakat kota perlu menyalurkan daya konsumsinya untuk bahagia dan ada.

“Bagi mereka itu ketika eksis, kemudian di- upload instagam itu tadi, berkebun pun jadi semacam branding . Sekarang itu bersepeda biar bukan sekadar menyalurkan, tapi menjelma status. Sebetulnya banyak berkebun, dia tidak mendapat buahnya. Tapi mendapat statusnya, ” kata Yayat.

Yayat memperhitungkan demam berkebun ini kemungkinan cuma terjadi di masa pandemi.

Pokok, ketika vaksin sudah ditemukan ataupun masanya sudah lewat, perhatian orang akan dibetot pada rutinitas sehari-hari.

“Tren ini suatu saat akan berehat, ketika suatu saat dia akan menemukan titik-titik lain. Pintu-pintu asing, ” katanya.

Pekerjaan rumah terbesar bagi pelaku berkebun di rumah adalah konsistensi untuk merawat tanaman.

Imam, salah satu pelaku petani tanah air mengakui setelah masa pandemi, rutinitas perkantorannya akan kembali sedia zaman.

Sulit untuk menjadwal menyiram kebunnya.

Tapi ia punya solusi: memakai alat penyiram otomatis atau, “Kita juga bisa minta bantuan sebanding tukang kebun di kompleks untuk siram, ” katanya.