Covid: Mengapa kasus virus corona di Israel meningkat baik negara ini sempat paling unggul dalam vaksinasi?

11 September 2021, 16: 56 WIB Sumber gambar, Getty Images Israel pernah menjadi negara dengan terdepan dalam melakukan agenda vaksinasi dunia, namun saat ini menjadi salah satu wilayah dengan kenaikan kasus yang tertinggi di dunia.

Pekerja kesehatan dengan baju perlindungan.

Sumber gambar, Getty Images

Israel pernah menjadi negeri yang terdepan dalam melayani program vaksinasi dunia, namun kini menjadi salah satu wilayah dengan kenaikan kejadian yang tertinggi di negeri.

Negara ini tahu diprediksi menjadi negara perdana yang memvaksinasi seluruh warga. Namun sampai pada minggu pertama September, Israel mencatat kasus tertinggi dihitung berdasarkan jumlah penduduk per bunga, menurut data yang dirangkum Johns Hopkins University. Jumlah vaksinasi yang dilakukan Israel juga turun.

Mengaji juga:

Israel dengan penduduk sekitar sembilan juta jiwa ini sempat menjelma acuan dunia ketika mengambil kembali kegiatan ekonomi umum pada bulan April lulus, sementara saat itu beberapa besar Eropa dan Amerika Serikat masih menerapkan lockdown.

Tetapi kini dengan dihadapi Israel adalah bukan lagi berapa banyak orang yang telah divaksin, tetapi parahnya mereka yang tersentuh virus corona dan dengan jalan apa memastikan bahwa vaksin lestari efektif.

Varian delta saat ini tengah menyebar dan mengancam imunitas itu yang sudah divaksin.

Pada akhir Februari lalu, total mereka yang mendapat ukuran pertama di Israel mencapai sekitar 50% penduduk.

Israel kembali ke kehidupan normal pada awal Juni. Zaman itu, kasus Covid-19 tetap rendah dan program vaksinasi diperkirakan berhasil.

Tetapi sejenis masuk bulan Juli, kasus merangkak naik dan depan September, tercatat lebih dari 10. 000 kasus pertama setiap hari.

Israel berangkat menjalankan program vaksinasi ukuran ketiga atau booster buat mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Sekitar ini upaya memberikan booster menunjukkan tanda-tanda berhasil.

Tetapi meningkatnya lagi kasus tersebut di Israel memicu debat tentang bagaimana masa pendahuluan program vaksinasi dan pandemi Covid.

Para pejabat kesehatan tubuh memusatkan perhatian pada kasus-kasus yang tercatat setelah madrasah dibuka kembali pada 1 September lalu. Minggu ajaran, banyak orang berkumpul dalam acara tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah.

Orang yang belum divaksin

Baru 62% penduduk Israel yang mendapat dua dosis vaksin.

Sumber tulisan, Getty Images

Israel menerapkan kebijakan vaksinasi cukup segera dan mencakup persentase tinggi dari keseluruhan jumlah penduduk. Namun masih ada kira-kira satu juta orang dari sembilan juta jiwa yang belum divaksin.

Israel selalu tergolong negara dengan warga muda. Sekitar sepertiga penduduknya berusia di bawah 14 tahun. Anak di bawah 12 tahun tidak mempunyai mendapat vaksin kecuali bila memiliki penyakit tertentu.

Tersebut berarti, baru sekitar 60% total penduduk yang divaksinasi dengan dua dosis.

Bahkan sekalipun tanpa kelompok dengan belun divaksinasi, pada April lalu, cakupan vaksinasi penduduk sudah dianggap cukup buat meredam penyebaran virus corona. Lalu apa yang berubah?

Imunitas yang berkurang

Penduduk Israel.

Sumber gambar, Getty Images

Varian Delta yang lebih cepat menyebar disebut sebagai kausa di balik meningkatnya penularan ini, walau vaksin dianggap masih tetap efektif mencegah pasien yang tertular melempem parah.

Tetapi para ilmuwan yang memonitor data percaya bahwa faktor utama naiknya kasus di Israel adalah berkurangnya imunitas vaksin Pfizer, yang pada awalnya ialah satu-satunya jenis vaksin yang diberikan di negara itu.

Baca juga:

Profesor Eran Segal, penasehat Covid pemerintah Israel, mengatakan setelah bulan kelima atau keenam setelah vaksinasi, penduduk hanya terlindungi sekitar 30%-40%, turun dari 90% kala vaksinasi dosis kedua dikasih.

“Itulah mengapa kasus terbang lagi, ” katanya, kesimpulan yang diambil dari analisa yang cukup teliti terkait tingkat infeksi pada karakter yang divaksin pada bulan-bulan berbeda.

Walaupun kasus terangkat, vaksinasi tetap ampuh menyekat orang sakit parah sementara yang belum divaksinasi merasai gejala parah sembilan kali lipat pada mereka yang berusia di atas 60 dan dua kali ganda bagi mereka yang lebih muda.

Vaksinasi dosis ketiga bisa membantu?

Penduduk Israel.

Sumber tulisan, Getty Images

Israel mengeluarkan vaksinasi dosis ketiga alias booster untuk menangani turunnya imunitas penduduk, pertama untuk mereka yang berusia di atas 60 tahun dan baru-baru ini bagi yang berusia 40 tahun.

Booster ini dianggap mulai jadi dengan tingkatan orang yang masuk rumah sakit berangkat berkurang pada penduduk primitif.

“Langkah ini berhasil menekan gelombang varian Delta, ” kata Profesor Segal.

Bahan awal menunjukkan kenaikan kekebalan sebanyak sepuluh kali lipat serta berkurangnya gejala parah setelah booster, dibandingkan dengan mereka yang baru mendapat dua kali vaksin.

Dr Anat Ekka Zohar, dengan memimpin studi tentang rencana booster, mengatakan tiga jumlah “sangat efektif dalam menyembunyikan infeksi dan sakit parah. ”

Ia menambahkan, “Tiga dosis adalah solusi buat menekan wabah. ”

Pikiran perlunya vaksinasi booster?

Program vaksinasi booster ini melahirkan debat sengit karena masih banyak sekali orang di dunia yang bahkan belum mendapat dosis pertama.

Sejumlah pihak mempertanyakan apakah kelakuan vaksinasi setiap enam kamar atau setiap tahun mampu dipertahankan, seperti halnya dengan vaksin flu yang penuh dilakukan di negara dengan empat musim.

Bukti telah menunjukkan bahwa vaksin Covid aman dan efektif untuk sebagian besar orang, namun masih ada sejumlah perkara yang belum terjawab. Salah satunya adalah berapa periode kekebalan vaksin ini berlaku dan apakah booster mau memberikan perlindungan lebih gede?

Mungkin saja, vaksin 3 dosis yang diperlukan laksana halnya untuk vaksin hepatitis B.

Atau cukup besar dosis dengan kekebalan alamiah.

Orang dapat memiliki pelestarian alami setelah terkena virus corona, tanpa mendapatkan vaksin. Tapi risikonya adalah rendah parah dengan komplikasi atau bahkan sekarat.

Vaksin masa ini dapat melindungi karakter dari gejala parah, tetapi masih dapat terkena secara gejala ringan.

Hipotesa para-para ilmuwan menyebutkan orang yang berulang kali terpapar Covid, dengan perlindungan vaksin dan imunitas alami dari penularan sebelumnya, masih dapat terkena juga tetapi dengan fakta kurang mengkhawatirkan.

Tetapi ilmuwan lain khawatir, Covid sedang dapat menulari orang dengan paling rentan dan itu yang terkena Covid “dalam waktu lama” masih belum diketahui berapa banyak sejauh ini.