Covid di India: WNI berkisah soal warga kasta berasaskan, orang kaya yang ‘merasa hebat dan boleh tabrak protokol kesehatan’

7 tanda yang lalu Sumber tulisan, Arif/Agoes/Ayu Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tinggal di India bercerita fenomena, antara asing yang unik soal awak kasta atas di Rajkot, Gujarat, yang “merasa hebat dan boleh melanggar aturan kesehatan” di tengah lonjakan kasus yang mencapai ratusan ribu sehari.

  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

Mahasiswa Indonesia di India

Sumber gambar, Arif/Agoes/Ayu

Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tinggal di India mengarang fenomena, antara lain yang unik soal warga kasta atas di Rajkot, Gujarat, yang “merasa hebat dan boleh melanggar protokol kesehatan” di tengah lonjakan urusan yang mencapai ratusan ribu sehari.

Mereka serupa bercerita, meski kasus harian Covid-19 di negara tersebut naik tajam, masih ada warga yang “tetap teledor dalam menjalankan protokol kesehatan”.

Pada hari Kamis (22/04) kasus positif virus corona bertambah hampir 315. 000, angka harian tertinggi dalam dunia.

Banyak rumah sakit kewalahan dan muncul masukan penjarahan tabung-tabung oksigen sebab pasok tabung ini menipis. Yang juga menipis merupakan pasok obat-obatan penting.

Meroketnya kejadian positif membuat warga khawatir, termasuk warga Indonesia yang berada di India.

Arif Sorayaman Hulu, mahasiswa Indonesia di Rajkot, Gujarat di India barat, mengucapkan yang antara lain menyusun dirinya khawatir adalah “abainya warga dalam menerapkan protokol kesehatan”. Padahal penerapan protokol ini sangat penting pada menekan pandemi.

“Aktivitas masyarakat berjalan normal, padahal negeri sedang menerapkan lockdown (karantina wilayah), ” kata Terpelajar.

Baca juga :

Ia juga melihat pada pusat kota banyak masyarakat yang tidak mengenakan kedok.

Suatu ketika Arif beruang di rumah sakit di Rajkot yang menangani pasien-pasien Covid-19.

“Saya berdiri di depan rumah melempem itu dan saya tahu ambulans berlalu-lalang… belum lengkap satu pasien ditangani, sudah datang lagi pasien dengan baru… saya [juga] melihat ada anak obat yang sangat parah, keluarganya menangis sejadi-jadinya, namun penanganannya saya lihat lamban, lengah sekali, ” tutur Pintar.

‘Diperparah oleh sistem sosial’

Arif Sorayaman Hulu

Sumber gambar, Arif Sorayaman Desa

Arif mengatakan dirinya melihat “fenomena unik” pada mana kelompok masyarakat daripada kasta atas, dari grup kaya dan elite, “sepertinya boleh melanggar protokol kesehatan”.

“Karena mereka merasa sudah hebat, berasal sejak kelompok sosial yang mulia, mereka merasa bisa melaksanakan apa saja, ” sirih Arif yang mengambil haluan hukum.

Menghadapi situasi semacam ini, Arif dan kurang mahasiswa Indonesia di Rajkot, berusaha hati-hati dengan tetap menaati protokol kesehatan.

“Kami tahu, kami ingat Covid-19 ini sangat berbahaya, kami mematuhi protokol, tapi lagi-lagi saya melihat mahasiswa lain kurang serius, ” katanya.

Yang membuatnya khawatir adalah ia tinggal di asrama yang dekat dengan gedung yang dipakai untuk menampung orang-orang yang medium menjalani isolasi karena tersentuh Covid-19.

“Dan mereka dibiarkan keluar [dari gedung]#@@#@!!… sepertinya mereka menganggap Covid-19 itu nothing (tak tersedia bahayanya), ” kata Pandai.

“Dua teman kepala kamar saya terkena Covid-19 dan harus isolasi [di gedung di depan asrama] dan mereka dibolehkan lalu-lalang, ” prawacana Arif.

‘Merasa sudah lulus lawan pandemi’

Mohd Agoes Aufiya

Sumber gambar, Mohd Agoes Aufiya

Status berbeda dirasakan oleh mahasiswa Indonesia di Delhi, Mohd Agoes Aufiya.

Agoes mengatakan karantina wilayah serta sejumlah pembatasan — yang diberlalukan lagi mulai hari Minggu (18/04) — ditaati warga di kota itu.

“Semua warga letak di rumah, tidak ke mana-mana, kecuali bagi mereka yang punya alasan berlaku untuk keluar rumah, ” kata Agoes.

“Toko yang menyediakan kebutuhan objek pokok buka, tapi toko-toko yang menjual bahan atau produk nonesensial tutup… gardu sepatu atau toko ponsel, itu tutup, ” katanya.

Ia mengatakan secara umum warga di Delhi mematuhi protokol kesehatan, misalnya mengenakan masker.

Baca juga :

“Mungkin sekitar 95% pakai masker, tapi ya tetap saja sedang ada yang tidak memakai masker. Saya merasa ketakukan atau kekhawatiran [warga] tidak seperti zaman gelombang pertama, ” logat Agoes, mahasiswa doktoral arah hubungan internasional ini.

“Ketika itu orang-orang pakai masker, pakai sarung tangan, memakai face shield dan menerapkan jaga jarak. Tapi dengan berjalannya waktu, mungkin sebab merasa sudah menang [melawan pandemi virus corona], karena angka urusan memang sempat turun pada bulan November, Desember, Januari, Februari, mungkin membuat kewaswasan atau ketakutan warga tidak sebesar dulu, ” cakap Agoes.

Perasaan seperti itu ia perkirakan menjadi penyebab masyarakat tak lagi setia sepenuhnya melaksanakan protokol kesehatan.

Krematorium di Delhi

Sumber gambar, Reuters

“Saya pernah ke daerah Jakhal di Haryana, itu tak ada warga yang menjalankan masker, ” kata Agoes.

Di tengah naiknya angka kasus, Agoes dan para-para mahasiswa Indonesia di India mengintensifkan komunikasi melalui agregasi Whatsapp.

“Kami berbagi keterangan, mengingatkan bahwa keadaan saat ini sulit dan kita seluruh harus waspada, terutama dalam wilayah-wilayah episentrum, seperti pada New Delhi, Kerala, Karnataka, Tamil Nadu dan Uttar Pradesh… mereka yang ada di kawasan-kawasan itu diminta untuk hati-hati, ” katanya.

Informasi juga dibagikan ke warga Indonesia lain, antara lain soal jika tersedia warga yang menghadapi kesulitan atau terkena Covid-19 buat memberi tahu pihak KBRI, untuk memastikan tersedia bantuan bagi warga Indonesia dengan memerlukan.

Rumah sakit dalam Uttar Pradesh kewalahan

Ayu Andriyaningsih

Sumber gambar, Ayu Andriyaningsih

Penyekatan juga diterapkan oleh negeri di negara bagian Uttar Pradesh. Mahasiswi Indonesia di Lucknow, ibu kota negeri bagian, Ayu Andriyaningsih, mengucapkan warga diwajibkan berada dalam rumah.

“Terasa sekali ketika lockdown diberlakukan… jauh lebih sepi. Alhamdulillah, disini masyarakat taat, ” logat Ayu.

“Masyarakat tidak keluar rumah, kecuali buat urusan atau alasan yang valid… jadi kalau lockdown terasa sekali sepinya, ” imbuh Ayu. “Tak tersedia orang di jalan, bertepatan asrama saya di depan kalan raya, ” katanya.

Uttar Pradesh, negara arah dengan populasi 240 juta jiwa, sangat terdampak pandemi.

Sejak pandemi bermula, terekam lebih dari 851. 000 kasus di negara arah ini dengan angka moralitas setidaknya 9. 800 karakter.

Rumah-rumah sakit menolak anak obat karena sudah tidak ada tempat tidur, sementara pengabenan jenazah seakan tak bakal pernah berhenti.

India

Sumber tulisan, Reuters

“Pernah dalam satu hari, kasus bertambah kira-kira 30. 000 jadi agak-agak rumah sakit kewalahan, ” kaya Ayu.

“Saya sendiri merasa antara tekanan tidak stres… sekarang kami juga puasa, kemudian di dalam posisi dikurung dengan status seperti ini, jadi saya misalnya susah cari benih makanan. Sekarang ini suram mencari sayur segar, ” kata Ayu.

“Kadang tersedia vendor (pedagang) yang hadir ke asrama, tapi membentuk tidak semuanya 100% segar, ” katanya.

Ia mengakui dirinya sangat khawatir dengan pandemi yang memburuk.

“Kami khawatir sekali sebab kasusnya melonjak, jadi curiga… ini membuat kami waspada, ” kata Ayu.

Penuh yang meyakini meroketnya urusan dipicu oleh festival-festival agama dan kampanye pemilu negara bagian, yang dihadiri penuh orang dan penyelenggara batal memastikan protokol kesehatan betul-betul ditaati.

Pemerintah negara periode dan federal mengeklaim situasinya masih bisa dikendalikan, namun banyak pihak mengatakan negeri telah “gagal mengantisipasi gelombang kedua” ketika situasi melandai antara Oktober 2020 had Februari 2021.