Covid-19: Uji klinis terapi plasma pembawaan dimulai, pakar minta donor ‘diseleksi hati-hati’ tapi teknologi ‘belum ada’

5 jam yang lalu Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc. Seorang pakar kesehatan mengatakan donor untuk terapi plasma konvalesen harus “diseleksi secara hati-hati dan diukur nilai antibodinya”. Namun, teknologi untuk melayani hal itu kini masih dikembangkan di Indonesia.

Covid-19: Uji klinis terapi plasma pembawaan dimulai, pakar minta donor 'diseleksi hati-hati' tapi teknologi ‘belum ada'

Seorang pakar kesehatan mengatakan donor untuk terapi plasma konvalesen harus “diseleksi secara hati-hati & diukur kadar antibodinya”. Namun, teknologi untuk melakukan hal itu kini masih dikembangkan di Indonesia.

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tonang Dwi Aryanto, mengucapkan hal itu menyusul pelaksanaan uji klinis plasma tahap dua dan tiga yang secara resmi diumumkan pemerintah, Selasa (08/09).

Ia menyuarakan tak semua orang yang sembuh dari virus corona memiliki harga antibodi cukup, yang membuat itu ideal sebagai donor.

Di sisi lain, proses pengukuran antibodi itu memerlukan teknologi yang masih di dalam tahap pengembangan, sebagaimana dijelaskan peneliti Lembaga Eijkman, yang digandeng negeri dalam penelitian terkait manfaat plasma darah untuk pasien Covid-19.

Uji khasiat plasma darah

Plt Kepala Pranata Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Slamet mengatakan uji klinis plasma konvalasen akan merekrut 364 pasien jadi partisipan, dan ditargetkan selesai tutup tahun 2020.

Ia menjelaskan plasma konvalesen adalah bagian darah yang mengandung antibodi dari sejumlah orang yang sudah sembuh dari Covid-19 dan diharapkan dapat membantu penyembuhan anak obat Covid-19.

“Perhatian utama para peneliti ialah keamanan dan efikasi (khasiat) daripada terapi itu sendiri, ” kata Slamet.

Uji klinis akan pokok dilakukan pada pasien dengan isyarat sedang yang mengarah gawat (pneumonia dengan hipoksia) di samping anak obat bergejala berat, dan tak hendak diberikan untuk pencegahan.

Empat panti sakit menyatakan sudah siap melayani uji klinis itu, sementara 25 lainnya juga telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi.

Salah satu yang menyatakan siap adalah Rumah Melempem Umum Pusat dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, yang secara sendiri telah menjalankan terapi plasma semenjak April lalu.

Menurut Ketua Awak Plasma Konvalensen, Ruswana Anwar, sekitar ini sejumlah pasien yang diberikan plasma darah, dengan digabung bentuk terapi lain, menunjukkan perbaikan suasana.

“Kalau dia masuk kriteria pantas dan berat, 40% membaik.

“Kalau telah kritis dengan gangguan organ, terutama gangguan jantung, irama jantung, selalu sakit ginjal yang berat, lazimnya secara klinis covid-nya menunjukkan perubahan, tapi pasien meninggal juga kesudahannya. ”

Kondisi sejumlah pasien yang membaik setelah diberi plasma pembawaan diklaim pula oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dokter I Ketut Suyasa.

RS Unud sudah secara mandiri menggunakan bentuk terapi ini sejak beberapa bulan yang lalu.

Bagaimana syarat antibodi lengkap?

Menunjuk sejumlah penelitian, Ruswana mengatakan donor ideal adalah mereka yang sudah mengalami gejala parah selama menderita covid-19.

Syarat lain yang kudu dipenuhi adalah mereka harus negatif covid-19 minimal selama dua minggu dan maksimal selama tiga bulan.

Mereka juga tak boleh menderita penyakit-penyakit seperti AIDS atau hepatitis, tambah Ruswana.

Tak hanya itu, kondisi donor ideal lain dijelaskan Sinse Tonang Dwi Ardyanto, yang pula pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Ia mengatakan pemilihan anak obat yang sudah sembuh itu harus dilakukan secara hati-hati karena tidak semua memiliki antibodi cukup.

Ia menunjuk juga sebuah penelitian di Inggris Juni lalu, yang menunjukkan 2% hingga 8, 5% dari sekitar 100 pasien covid-19 yang dianalisis, tidak mengembangkan antibodi meski sudah sembuh dari virus corona.

Kalau orang seperti itu menjadi donor, plasma mereka tak akan efektif, malah bisa membawa risiko, katanya.

Tonang menjelaskan dua syarat antibodi seseorang bisa digunakan.

“Satu, kadarnya cukup, dua memiliki daya netralisasi (virus). Kalau dua ini belum terpenuhi sementara virusnya datang, oleh karena itu perlawanannya jadi perlawanan parsial.

“Dia bisa mengikat virus, tapi tak bisa menjinakan atau melumpuhkannya. Jadi justru dalam hal covid, dikhawatirkan membuat virus lebih mudah untuk berikatan masuk sel tubuh kita. ”

Ia menyebut kondisi itu jadi antibody-dependent enhancement (ADE).

“Maka donor dengan akan dipakai untuk memberi plasma konvalasen itu sudah dengan persyaratan ketat. Jadi, tidak semua dengan sembuh dari covid-19 bisa menjelma donor.

“Ibaratnya jumlah ‘tentaranya’ lulus, senjatanya ada’.

‘Keterbatasan teknologi’

Sayangnya, teknologi untuk melakukan hal tersebut masih sangat terbatas.

Rumah Sakit Umum Pusat dr Hasan Sadikin misalnya tak memiliki fasilitas serupa itu.

Meski begitu, ketua tim plasma konvalensen Ruswana Anwar mengutarakan kadar antibodi yang rendah, di beberapa kasus, tetap dapat menolong memperbaiki kondisi pasien yang dirawat di ICU.

Ia mengatakan pihaknya juga sangat ketat memeriksa riwayat kesehatan pasien untuk memastikan kepatutan mereka menjadi donor.

Sementara, Peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman David H Muljono, yang juga arah dari tim peneliti plasma darah kementerian kesehatan, mengakui keterbatasan teknologi yang ada.

David mengatakan negara yang memiliki teknologi mumpuni sebagaimana yang disebut Tonang di antaranya adalah Amerika Serikat dan China.

Lebih lanjut, David menjelaskan standar aurum untuk melihat daya netralisir antibodi adalah plaque reduction neutralization test (PRNT), yang kini masih dikembangkan sebab Lembaga Eijkman.

Ke depannya, plasma-plasma dari rumah sakit yang menyelenggarakan uji klinis akan dikumpulkan di lembaganya.

“Sekarang ini kita pantas meneliti… plasma-plasma ini nanti dikumpulkan, sambil diobati itu dikumpulkan, biar nanti tau kadar berapa yang bisa bunuh virus.

“Kedua ingin tau titernya (dosis antibodinya) berapa. Cerai-berai diciptakan metode lain yang bisa dilakukan di laboratorium biasa, ” ujarnya.

Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan tubuh mengatakan keselamatan pasien yang menjadi subyek adalah prioritas.

Dalam keterangannya, Kementerian Kesehatan mengatakan pemantauan terhadap situasi kesehatan partisipan akan terus dikerjakan.