Covid-19: Kematian di Brasil lewati 100. 000 kasus, tak ada tanda wabah segera mereda

9 Agustus 2020, 17: 21 WIB Sumber gambar, Anadolu Agency/Getty Brasil mencatat lebih sejak 100. 000 kematian yang berselirat dengan Covid-19. Ini merupakan angka terbesar kedua di dunia. Para-para pakar menyatakan, belum ada kode bahwa pandemi di negara tersebut akan segera mereda.

Covid-19: Kematian di Brasil lewati 100

Brasil mencatat lebih dari 100. 000 kematian yang berkaitan secara Covid-19. Ini merupakan angka terbesar kedua di dunia.

Para pakar menyatakan, belum ada tanda kalau pandemi di negara itu bakal segera mereda.

Awalnya, Covid-19 membunuh bertambah dari 50. 000 orang pada Brasil dalam tiga bulan prima pandemi. Angka itu berlipatganda hanya dalam 50 hari setelahnya.

Sementara itu, terdapat setidaknya tiga juta peristiwa positif Covid-19 di negara itu.

Pandemi diyakini belum mencapai titik sempurna, tapi pertokoan dan restoran sudah kembali beroperasi.

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, meremehkan dampak virus corona dan menentang berbagai pembatasan yang dianggapnya dapat memukul perekonomian.

Pimpinan dari golongan sayap kanan itu, yang tahu terpapar virus corona, tak putus dengan kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan sejumlah gubernur negara periode. Dia bahkan kerap berkontak wujud dengan pendukungnya dalam berbagai agenda luar ruang, tanpa memakai kedok.

Spesialis kesehatan mengeluhkan strategi pemerintahan Bolsonaro yang tidak terkoordinasi dan malah fokus untuk memulai kembali acara perekonomian.

Kebijakan itu diyakini bakal meningkatkan penyebaran virus.

Tim tanggap pandemi yang dibentuk Bolsonaro dipimpin seorang jenderal angkatan darat. Dia tidak mempunyai pengalaman dalam bidang kesehatan bangsa.

Dua menteri kesehatan sebelumnya, dua-duanya berprofesi sebagai dokter, mundur sebab tidak setuju dengan Bolsonaro terkait jarak sosial dan penggunaan hydroxychloroquine sebagai pengobatan.

Berbagai penelitian mengatakan obat itu tidak efektif menyembuhkan penderita Covid-19.

Bolsonaro, yang menyebut Covid-19 dengan istilah ‘flu ringan’ mendapat kritik dari dalam dan luar kampung. Ia menyebut kesembuhannya berkat obat anti-malaria.

Untuk memutar video itu, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Brasil memiliki 100. 477 kematian terkait virus corona dan 3. 012. 412 kejadian positif, menurut data Kementerian Kesehatan. Namun jumlahnya diyakini jauh bertambah tinggi karena pengujian yang tak memadai.

Hanya Amerika Serikat yang memiliki angka lebih tinggi daripada Brasil.

“Kita harus hidup dalam keputusasaan, karena ini adalah tragedi sesuai perang dunia. Tetapi Brasil berharta di bawah pengaruh bius secara kolektif, ” kata Jose Davi Urbaez, anggota senior dari Gabungan Pakar untuk Penyakit Menular, pada kantor berita Reuters.

“Pesan pemerintah keadaan ini adalah: ‘Tangkap virus corona Anda dan jika serius, ada perawatan intensif. ‘ Itu meringkas kebijakan kami hari ini, ” ujarnya.

Ada kekhawatiran penyakit ini menyebar lebih lekas di lingkungan kelas bawah & daerah terpencil, seperti masyarakat adat. Kelompok itu sulit mengakses fasilitas kesehatan yang memadai.

Sebagai penghormatan kepada para korban, Sabtu (08/07), grup non-pemerintah Rio de Paz menempatkan salib di pasir di Pantai Copacabana yang terkenal di Rio de Janeiro. Mereka juga menggugurkan 1. 000 balon merah ke langit.

Ketua Senat, Davi Alcolumbre, mencanangkan empat hari berkabung di dewan perwakilan rakyat. Presiden Bolsonaro belum berkomentar terkait kebijakan itu.

Awal pekan itu Bolsonaro mengatakan bahwa ia menyesal atas semua kematian akibat Covid-19, tapi menyarankan agar “kita harus melanjutkan hidup”.

Brasil menyumbang hampir setengah lantaran semua kematian terkait virus korona yang tercatat di Amerika Latin dan kawasan Karibia, di mana lebih dari lima juta kejadian telah dikonfirmasi, menurut Universitas Johns Hopkins, yang melacak penyakit tersebut secara glob

Negara lain yang sangat diguncang pandemi adalah Meksiko, yang jumlah kematian warganya tertinggi ketiga di dunia dengan 52. 000 kasus.

Peru, Kolombia, dan Chile meruakan negara Amerika Latin asing yang juga mengalami pandemi payah.

Para-para ahli mengatakan, kombinasi faktor praja yang penuh sesak, kemiskinan, & sistem kesehatan yang tidak memadai berkontribusi pada wabah di negara-negara tersebut. al.