Covid-19 di Indonesia: Mengapa epidemiolog khawatir ada lonjakan urusan, walau rasio positif mendapati ‘rekor terendah’

tujuh menit yang lalu Sumber gambar, Moch Farabi Wardana/Getty Pemerintah Indonesia mengeklaim angka positivity rate atau nalar positif Covid-19 di Nusantara mencatat rekor terendah, yaitu 3, 05%, namun situasi ini diragukan seorang terampil penyakit menular lantaran pelacakan kontak (tracing) dan pengetesan (testing) yang dianggap sedang rendah.

Vaksin

Sumber gambar, Moch Farabi Wardana/Getty

Pemerintah Indonesia mengeklaim angka positivity rate atau rasio positif Covid-19 di Indonesia mencatat rekor terendah, yaitu 3, 05%, namun hal ini diragukan seorang ahli penyakit menular lantaran pelacakan kontak ( tracing ) dan pengetesan (testing) dengan dianggap masih rendah.

Apabila klaim angka positivity rate sebesar 3, 05% per tanggal 12 September itu sesuai kenyataan, oleh karena itu Indonesia sudah di bawah ambang batas minimal Sistem Kesehatan Dunia (WHO) yakni 5%.

Positivity rate merupakan persentase jumlah kasus membangun terinfeksi virus corona dibagi dengan jumlah orang dengan menjalani tes atau penelitian.

Seperti diketahui, apabila positivity rate suatu wilayah semakin tinggi, maka kondisi pandemi di daerah tersebut memburuk.

Tetapi jika rendah, akan berlaku sebaliknya.

Baca pula:

Menteri Kesehatan Tabiat Gunadi Sadikin, dalam kerap kerja dengan Komisi IX DPR, Senin (13/09), melahirkan rekor terendah angka positivity rate itu, seiring menurunnya kasus penularan Covid-19 dalam Indonesia belakangan ini.

“Dari enam indikator WHO, untuk kasus konfirmasi sudah masuk ke level satu, yakni level yang paling cantik di bawah 20 urusan konfirmasi per 100. 000 penduduk per minggu… positivity rate-nya sudah turun ke batas normalnya WHO dalam bawah 5%, ” membuka Budi Gunadi.

Berangkat sekolah

Sumber gambar, AKBAR TADO/ANTARA FOTO

Akhlak Gunadi juga mengeklaim kalau upaya pelacakan kontak Covid-19 yang dilakukan pemerintah “sudah jauh membaik” sesuai kaki WHO.

Namun, epidemiolog lantaran Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, standarisasi pelacakan kontak dan testing Covid-19 yang sudah digariskan pemerintah, tidak berjalan sepatutnya di lapangan.

“Kota-kota ataupun kabupaten tidak ada dengan melakukan tes secara lengkap, kecuali Jakarta, tapi kalau tracing-nya semuanya ‘hancur’, ” kata Tri Yunis Miko Wahyono kepada BBC News Indonesia, Senin (13/09).

Covid-19

Sumber gambar, GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO

Untuk itulah, Tri Yunis meminta pemerintah Indonesia biar memastikan agar data-datanya terkait penurunan kasus Covid-19 tersebut “dikonfirmasi dengan baik”.

“Makanya saya ingatkan kepada negeri, kalau datanya tidak mampu dipastikan, saya khawatir hendak terjadi lonjakan [kasus], ” ujarnya.

Membaca juga:

“Kalau tidak standar tesnya, kemudian pula kontak tracing-nya tidak pengampu, maka kemudian angka yang dibacakan bahwa ada kemerosotan level itu, ya, berarti angkanya semu, ” tambahnya.

Temuan tiga kasus terpaut pelacakan covid-19 di kota Makassar (Sulsel), dan praja Kendari (Sulawesi Tenggara), yang dilaporkan wartawan setempat kepada BBC News Indonesia, juga menguatkan kekhawatiran pakar keburukan menular tersebut.

Tengah, pakar permodelan matematika dari Institut Teknologi Bogor (ITB) Nuning Nuraini mengatakan, penurunan positivity rate di Indonesia tidak terlepas dari kemerosotan kasus Covid-19 di Indonesia sejak Agustus lalu.

Covid-19

Sumber gambar, Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

“Memang tampak menurun, daya tes juga tinggi di sekitar Juli karena sungguh banyak kasus ditemukan, akan tetapi seiring dengan penurunan urusan maka jumlah orang yang di tes juga menurun, dan hal ini berpengaruh pada positivity rate yang turun, ” kata Nuning dalam pesan tertulis pada BBC News Indonesia, Senin (13/09),

“Natural sebenarnya, tetapi jika kita ingin tahu dengan ‘baik’ situasinya, zaman ini sebenarnya waktu buat melakukan sampling test buat memastikan bahwa kondisinya benar ‘aman’, ” tambahnya.

Sebelumnya, WHO menyoroti angka positivity rate Covid-19 di Indonesia yang sudah di bawah batas aman 5%.

“Sejak catatan mingguan 30 Agustus hingga 5 September, angka positivity rate menghunjam menjadi 6, 6%, dari pekan sebelumnya 12, 1%, ” ungkap WHO pada laporan mingguan yang dirilis Rabu (08/09) lalu.

Baca juga:

Di Indonesia, peningkatan tajam positivity rate terjadi pada Juli 2021, yaitu melampaui 30% dan 40%, ketika berlaku lonjakan kasus COVID-19 dalam atas 40. 000 hingga 50. 000 setiap hari.

Angka ini lebih mulia dari puncak kasus sebelumnya per Desember 2020 hingga Januari dengan positivity rate mencapai 28, 8%.

Peristiwa di Sulawesi Tenggara, apakah pelacakan berjalan ideal?

Shally Maulana, 46 tahun, menceritakan apa yang dialami keluarganya meminta layanan kesehatan tubuh puskesmas di kampung halamannya di Kota Kendari, Daerah Sulawesi Tenggara.

Di dalam pertengahan Juli 2021, praja Kendari berstatus zona abang dengan tingkat persebaran Covid-19 tertinggi dari kabupaten atau kota lainnya di provinsi itu.

Covid-19

Sumber gambar, Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO

Shally, yang tinggal di Banda Aceh, menghubungi ibunya kepala 72 tahun – yang mengurung diri di kamar terpisah untuk menghindari relasi erat dengan orang-orang serumah. Saat itu ibunya telah menunjukkan gejala Covid-19.

Tempat kemudian menghubungi puskesmas setempat untuk meminta bantuan & dijanjikan untuk membantunya. Tetapi kenyataannya itu tak sudah terjadi.

Alasanya, mereka tak bisa menemui ibunya sebab sibuk dalam proses pemakaman para pasien Covid-19 yang meninggal.

“Akhirnya saya mendapat bantuan ambulance dari tempat lain, bukan tempat tinggal kami, ” ungkap Shally kepada wartawan di Kendari, Riza Salman, yang mengadukan untuk BBC News Nusantara, Senin (13/09).

Covid-19

Sumber tulisan, Asuh Suhartono/ANTARA FOTO

Berdasarkan hasil tes swab antigen dari rumah sakit terdekat, ibu Shally dinyatakan terpapar Covid-19 dan mengalami petunjuk ringan dan dipersilahkan pulang untuk menjalani isolasi mendiri.

Sehari setelah itu, kurang petugas Puskesmas baru sampai melakukan pengecekan kesehatan karakter serumah.

“Setelah tersebut tidak ada sama seluruhnya (pengecekan) hingga beliau sembuh. Tidak ada! ” ungkapnya. “Apakah selanjutnya di follow up dengan tracking? Tak ada juga. Berhenti pada situ saja. ”

Mengapa puskesmas terkendala dalam cara pelacakan – kasus dalam Sulawesi Selatan

Ernianti, staf kesehatan di Puskesmas Barang Lompo, kota Makassar, yang terlibat dalam jalan pelacakan kasus Covid-19, mengiakan pernah mendapati beberapa suku pasien yang menolak untuk ditemui.

Rata-rata pasien ataupun pihak keluarga yang menyimpan kontak erat ini menolak karena mereka takut isolasi, katanya kepada wartawan dalam Makassar, Darul Amri yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (13/09) malam.

“Kita arahkan swab antigen tapi mereka itu tak mau, itu kendalanya tak mungkin juga dipaksa, ” kata Ernianti.

“Bahkan yang kontak eratnya dengan sudah positif terus dilakukan tracing ke rumahnya siapa-siapa kontak eratnya dan itu menolak, ” tambahnya

Menurutnya, sebelum petugas puskemas melakukan pelacakan, mereka melakukan penyuluhan lebih dulu, tapi tersebut pun ditolak.

Covid-19

Sumber tulisan, Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

“Mereka itu tidak mau, tersedia sih sebagian yang mau dan ada sebagian tak mau. Kalau pemaksaan kami tidak bisa paksa, cuma kita hanya bisa mengontrol, apakah selama lima keadaan dia bergejala kita perdana koordinasi kita pantau semua, ” ujarnya.

Temuan pada lapangan menunjukkan kendala terbesar yang sering ditemui tim tracer adalah keluarga pasien menolak dipantau oleh pihak puskesmas, bahkan ada dengan mengganti nomor kontak (telpon) yang didaftarkan.

Seorang awak Makassar, Lia, yang berusia 34 tahun, dan pernah terpapar Covid-19, mengaku dirinya tak melaporkan kasusnya ke puskesmas terdekat, karena khawatir mendapat stigma.

“Kenapa beta tidak melapor ke puskesmas karena waktu itu pandangan orang terhadap orang covid ‘kan perlakuannya lebih buruk dari pada perampok, ” ungkapnya kepada wartawan dalam Makassar, Darul Amri, Senin (13/09).

Lalu dia memastikan melakukan isolasi mandiri di rumahnya, sembari setiap 10 hari melakukan swab, ternyata pada hari ke 10, hasilnya negatif.

Departemen Kesehatan akui ada kendala

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Indonesia menyebut sudah ada 16 provinsi yang melaporkan angka positivity rate di bawah 5%, namun hal itu tidak terlepas dari kelemahan di lapangan, kata salah-seorang pejabatnya.

Covid-19

Sumber gambar, Kuncoro Widyo Rumpoko/Getty

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, tidak kurang provinsi yang belum memperbaharui status kasus Covid-19 pada wilayahnya, utamanya angka mair akibat Corona.

Dia melahirkan hal itu disebabkan sejumlah faktor, seperti prosedur administrasi berjenjang, mulai level RT, RW, Kecamatan, Kelurahan, hingga Disdukcapil untuk menyatakan pasien meninggal akibat COVID-19.

“Meskipun kasus covid-19 menurun masih banyak provinsi yang belum memperbarui status kasusnya yang telah berusia lebih dibanding 21 hari, hal tersebut terjadi karena adanya keterlambatan dalam melakukan input bahan kematian ke dalam sistem, ” katanya dalam siaran pers PPKM, Rabu (08/09).

“Belum lagi ada keterbatasan para nakes untuk tidak bisa langsung menginput informasi data kematian karena tingginya beban kerja dalam menangani tingginya kasus aktif di saat itu, ” sambung dia.

Ahli penyakit menular dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menyungguhkan ada penurunan kasus Covid-19 di Indonesia, namun dia meragukan upaya pelacakan serta pengetesan sudah berjalan optimal.

Itulah sebabnya, Tri Yunis meragukan pula klaim pemerintah Indonesia bahwa angka positivity rate atau rasio tentu Covid-19 di Indonesia mengecap rekor terendah, yaitu 3, 05%.

“Angka positivity rate harus terukur dari nilai tesnya harusnya standar dan kontak tracingnya harus penumpil pula, ” kata Tri Yunis kepada BBC News Indonesia, Senin (13/09).

Covid-19

Sumber gambar, Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA MENJEPRET

Dari hasil inspeksi, dua proses itu tidak berjalan sesuai standar yang sudah digariskan WHO, walaupun pemerintah Indonesia sudah mewujudkan aturan teknisnya.

“Jadi, angka terendah [positivity rate] itu menjadi tidak terstandarisasi, karena di Indonesia tesnya satu per 1. 000 populasi per hari atau per minggu.

“Kemudian, semua kabupaten dari 514 kabupaten, cuma provinsi DKI Jakarta atau 5 kota dengan standar. Yang lainnya enggak standar, ” jelasnya.

Begitu pula kontak tracing-nya. Menurutnya, harus ada pemeriksaan PCR pada semua kontak dengan orang yang terpapar Covid-19.

“Kontak tracing itu mulia kasus akan dikontak minimal 20 atau 30 karakter, menurut WHO, tapi dalam Indonesia kontak tracing-nya dua sampai delapan, bahkan rata-rata enam orang, ” perkataan Tri Yunis.

“Itu berguna rata-rata yang di-tracing hanya keluarga, ” katanya.

Covid-19

Sumber gambar, ARDIANSYAH/ANTARA FOTO

“Kalau itu tidak standar tesnya, kemudian juga kontak tracing-nya tidak standar, maka kemudian angka yang dibacakan kalau ada turun level itu, ya, berarti angkanya imajiner, ” tandas Tri Yunis.

“Kalau cara mengukurnya salah, ya, akan tidak terlihat ada yang hilang atau ada yang tidak terlaporkan.

“Jadi kalau angka itu tidak terlaporkan, saya gamang Indonesia [kasus covid-19] tiba-tiba akan tinggi teristimewa, ” tandasnya.

Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR pada Senin (13/09), Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengeklaim bahwa upaya pencarian kontak Covid-19 yang dikerjakan pemerintah “sudah jauh membaik” sesuai standar WHO.

Wartawan di kota Makassar, Sulawesi Selatan, Darul Amri dan wartawan di praja Kendari, Sulawesi Tenggara, Riza Salman, ikut berkontribusi di laporan ini.