Covid-19: Alat PCR rusak sebab ‘dipaksa bekerja’ membuat hasil tes molor dan uji sampel turun 50%, petunjuk ‘tata kelola pemerintah lemah’

7 jam dengan lalu Sumber gambar, Getty Images Di tengah peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, alat tes metode Poliymeras Chain Reaction (PCR) dengan berperan penting dalam ekstraksi sampel mengalami kerusakan dalam daerah.

covid-19-alat-pcr-rusak-karena-dipaksa-bekerja-membuat-hasil-tes-molor-dan-uji-sampel-turun-50-bukti-tata-kelola-pemerintah-lemah-23

Sumber gambar, Getty Images

Dalam tengah peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, alat tes metode Poliymeras Chain Reaction (PCR) yang berperan penting dalam ekstraksi sampel menjalani kerusakan di daerah.

Kerusakan alat ulangan PCR yang terbaru terjadi di Laboratorium Universitas Andalas, Sumatera Barat. Kerusakan juru bicara PCR satu-satunya di Sumatera Barat itu menyebabkan pemeriksaan sampel “lumpuh” hampir 50%, dari lima ribu menjelma tiga ribu sampel bagi hari.

Waktu tunggu hasil tes PCR selalu molor, dari satu datang dua hari menjadi 3 hingga empat hari.

Kejadian yang sama serupa pernah terjadi di daerah lain seperti di Banten, Kepulauan Riau, Maluku hingga Papua. Dalam beberapa peristiwa, kerusakan alat menyebabkan pengujian sampel terhenti sementara.

Menangkap juga:

Pada pembukaan pandemi, Indonesia hanya mempunyai satu alat PCR dalam Jakarta yang menguji semesta spesimen kasus se-Indonesia. Mulia tahun kemudian, kini Nusantara telah memiliki 925 lab. jejaring pemeriksaan.

Namun jumlah pengujian masih jauh daripada target 400 ribu spesimen, yaitu sekitar 200-300 ribu per hari.

Tenggat Kamis (05/08), total jumlah spesimen yang diperiksa sepanjang pandemi melanda Indonesia yaitu sekitar 27, 3 juta spesimen, sedangkan untuk total jumlah orang yang diperiksa yaitu sekitar 18, 5 juta.

Waktu nanti hasil PCR: “Dari 1-2 hari jadi 3-4 hari’

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH

Beberapa asosiasi di Padang, Sumatera Barat, mengeluhkan lamanya waktu menunggui hasil tes PCR, simpulan Juli lalu.

“Hasil tes PCR yang prima itu keluar dalam perut hari. Tapi yang belakang, saya menunggu cukup periode, tiga hari, ” introduksi Arif kepada wartawan Halbert Chaniago yang melaporkan dalam BBC News Indonesia dalam Padang, Sumatera Barat, (04/08).

Arif sangat menantikan hasil PCR tersebut karena di tes sebelumnya ia dinyatakan positif.

Akibatnya, Cendekia menunggu dalam ketidakpastian serta aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

Keluhan yang sepadan juga diungkapkan Diah Rahmadini (47 tahun), warga Padang.

“Saya menunggu hasil PCR sampai empat keadaan, ” katanya.

Kebobrokan alat ‘dipaksa bekerja’, tes sampel PCR turun 50%

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Lamanya waktu tunggu dikarenakan oleh rusaknya alat tes sampel PCR satu-satunya pada Sumatera Barat, yaitu dalam Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Besar laboratorium itu, Andani Eka Putra, mengatakan kerusakan jalan PCR menganggu jumlah pengecekan dari biasanya lima datang enam ribu sampel menjelma sekitar dua hingga 3 ribu sampel per hari.

“Alat ekstraksi merasai kerusakan karena dipaksa bergerak dan jadi rusak yang menyebabkan testing berkurang 50% dibanding biasanya, ” logat Andani.

Laboratorium dengan menjadi percontohan di Nusantara itu mulai melakukan tes sampel PCR sejak 23 Maret 2020 lalu, dan berperan penting membantu menguji sampel kiriman dari daerah tetangga.

“Coba sekadar kita tutup laboratorium itu, akan tahu dampaknya seolah-olah apa, ” katanya.

Andani mengatakan alat tersebut telah diperbaiki atas tumpuan sukarela dari masyarakat beberapa hari lalu, bukan sandaran dari pemerintah.

Di balik kejadian itu, Andani mengeluhkan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah maupun provinsi pada peran penting laboratorium.

Di dalam Selasa (03/08), saat wartawan Halbert Chaniago mendatangi laboratorium tersebut, terdapat lima tempat serta secarik kertas bertuliskan:

“Mengingat belum adanya pendanaan dari Pemprov Sesumbar, maka kami mohon donasi untuk setiap pengambilan swab yang dilakukan di FK Unand, untuk biaya consumables . Derma tidak memaksa dan tidak ada ketentuan jumlah. Dapat kasih”.

Sumber gambar, Halbert Chaniago

“Kami tidak mendapatkan bantuan dari pemprov semenjak tahun 2021 lalu & usulan anggaran yang saya berikan tidak dimasukkan pada anggaran tahun 2021 ini, ” kata Andani.

Pengalangan dana juga dilakukan relawan Kawal Covid-19 Sumatera Barat – dana terkumpul lebih dari Rp70 juta.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah membantah jika pemprov disebut tidak peduli bakal peran penting laboratorium itu.

“Selama ini ana memberikan bantuan ke sana. Selama ini tidak tersedia kami tidak peduli, selama ini kami berikan tumpuan. Nanti [permohonan anggaran] akan dibahas dan nanti akan dilihat berapa yang disetujui dan diproses sebab Inspektorat, ” kata Mahyeldi.

B erapa kapasitas lab oratorium PCR?

Sumber gambar, ANTARA FOTO/UMARUL FARUQ

Kerusakan juru bicara tes PCR sebelumnya juga pernah terjadi di beberapa daerah.

Awal tahun ini, alat PCR di Laboratorium Kesehatan Daerah Tangerang Selatan rusak sehingga tak menerima sampel atau representatif terkait Covid-19 untuk sementara.

Akibatnya, seluruh contoh dialihkan ke laboratorium dalam luar daerah.

Awut-awutan, pertengahan tahun ini, empat alat PCR di Kepulauan Riau rusak karena dipergunakan terus menerus. Akibatnya, contoh usap warga menumpuk & waktu pengujian molor tenggat lebih dari sepekan.

Tarikh lalu, dua alat PCR Laboratorium Kesehatan Daerah Maluku, dan PCR RSUD Mimiki, Papua, juga mengarungi kerusakan.

Berdasarkan data keterangan pemerintah, terdapat total 925 laboratorium jejaring pemeriksa yang tersebar di Indonesia, berisi dari 705 lab RT-PCR ( everse-transcriptase polymerase chain reaction ), 116 lab TCM (tes cepat molekuler), dan 104 lab RT-PCR dan TCM.

Dari jumlah tersebut, berdasarkan laporan per Kamis, (05/08), terdapat 640 lab yang berfungsi dengan melaporkan hasil tesnya dengan total 248. 556 spesimen yang diperiksa (yang diperiksa secara RT-PCR yaitu 128. 550 spesimen).

Jumlah tersebut sedang jauh dari target pemerintah melakukan tes mencapai 400 ribu spesimen per hari.

Apa peran penting cara itu?

Sumber gambar, SAIFUL BAHRI/ANTARA FOTO

Epidemiolog dari Universitas Andalas, Defriman Djafri mengatakan, laboratorium pemeriksaan sampel PCR merupakan tumpuan pendukung yang penting di mempercepat penanganan Covid-19.

“Laboratorium itu merupakan sarana pendukung untuk kita melakukan testing dan jika ada masalah, maka akan memperlambat penanganannya juga, ” kata Djafri.

Djafri menambahkan, kerusakan juru bicara ekstraksi PCR akan meningkatkan laju penularan karena mereka yang kemungkinan terinfeksi mau menyebarkan virus akibat dingin mengetahui hasil.

Sumber tulisan, JARANG FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA

Senada dengan itu, Sidang Pakar Ikatan Ahli Kesehatan tubuh Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan, kerusakan cara PCR merupakan masalah khusyuk yang harus segera disikapi.

“Hasil pemeriksaan PCR adalah hal paling vital dalam upaya testing , dan bebannya kini semakin besar sebab sejak akhir Juli mematok sekarang terjadi penambahan urusan yang drastis di luar Jawa dan Bali, ” katanya.

Untuk tersebut Hermawan meminta pemerintah sentral dan daerah segera melangsungkan perbaikan dan perawatan alat-alat tersebut di daerah, serta meningkatkan kapasitas alat ulangan dengan “luar biasa” pada daerah.

“Kami membakar sejak dulu bahwa pada setiap daerah, 514 kabupaten/kota wajib ada lab PCR dengan 24 jam. Jadi kemampuannya tidak lagi mengandalkan lapisan provinsi seperti di Sesumbar yang jika rusak mau menganggu semuanya, ” kata pendahuluan Hermawan.

Kaidah k elola yang keliru

Sumber gambar, Getty Images

Tim advokasi dari LaporCovid-19, Agus Sarwono menilai kerusakan alat PCR yang menyebabkan molornya hasil uji menunjukkan lemahnya kaidah kelola pemerintah dalam mengabulkan perencanaan dan perawatan media penunjang penanganan Covid-19.

“Seharusnya kejadian seperti dalam Unand itu bisa diantisipasi oleh Kemenkes dan negeri daerah dengan membuat perencanaan yang baik, apalagi itu alat satu-satunya dan genitalia.

“Jika ada keburukan harusnya tahu bagaimana alternatifnya, jangan masyarakat yang oleh karena itu korban, ” kata Agus.

Pemerintah juga, kata pendahuluan Agus, harus menyediakan peruntukan anggaran yang terbuka ke publik untuk peningkatan medium prasarana penunjang penanganan Covid, seperti pemeliharaan hingga logistik alat PCR.

“Ini dilematis karena ketika tersedia kerusakan, kasihan FK Unand, sampai sempat ada tampak broadcast minta donasi. Tersebut kekeliruan yang fatal di dalam tata kelola perencanaan, harusnya sudah ada alokasi perkiraan untuk itu, ” ujarnya.

‘Jika ada kerusakan, manfaatkan alokasi dana daerah’

Sumber gambar, SAIFUL BAHRI/ANTARA MENJEPRET

Saat dikonfirmasi menimpa kerusakan alat PCR pada Sumbar dan daerah yang lain, koordinator tim pakar & juru bicara pemerintah buat penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah daerah ialah pihak pertama yang kudu segera mengambil tindakan.

“Jika terjadi kesulitan mohon agar pemda setempat cepat memanfaatkan alokasi dana kawasan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut karena testing adalah perjalanan utama untuk menentukan muslihat pengendalian, ” kata Wiku dalam pesan singkat.

“Jika kesulitan dalam pemenuhannya, mohon kepada pemda terkait melaporkan kesulitannya kepada negeri pusat, ” ujarnya.

Senada, juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemkes Siti Nadia Tarmizi menyebut, pemeliharaan laboratorium pada daerah, seperti di Unand, tidak di bawah Kementerian Kesehatan.

“Kita tak melakukan perawatan baik yang di bawah Kemenkes atau di luar Kemenkes. Tersebut menjadi tanggung jawab dari masing-masing institusi, ” prawacana Nadia.

Nadia menambahkan, peran Kemenkes terhadap lab-lab di daerah adalah secara menyediakan kebutuhan reagen buat pengujian dan membayarkan motivasi bagi petugas kesehatan.

Penyeliaan spesimen harian meningkat 94, 71%

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO

Di konferensi pers, “Perkembangan Pengerjaan Covid-19 di Indonesia mulai 5 Agustus 2021”, Resi Adisasmito mengatakan jumlah sama pemeriksaan spesimen dan karakter mengalami peningkatan tajam dalam Juli lalu.

“Pemeriksaan spesimen harian bulan Juli mengalami peningkatan 94, 71% dari Juni 2021 dan jumlah rata-rata orang diperiksa harian pada Juli menyusun dua kali lipat dibanding Juni 2021, ” sirih Wiku.

Rata-rata penyeliaan spesimen di antara 200-300 ribu per hari.

Baca juga:

Sedangkan, rata-rata pemeriksaan karakter berada di kisaran 100-200 ribu per hari.

Tetapi jumlah tersebut masih belum mencapai target pemerintah sebesar 400 ribu spesimen mulai hari.

Wiku menambahkan, pengetesan merupakan prioritas pemerintah sebab berfungsi untuk menekan angka transmisi Covid-19, mencegah keparahan penyakit dan mengurangi angka kematian, serta melindungi ketahanan sistem kesehatan.

Anda barangkali tertarik menonton video itu:

Untuk memutar video itu, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain