Afghanistan: Cerita orang-orang yang gagal melarikan diri dari Taliban

2 September 2021, 18: 37 WIB Sumber gambar, Getty Images Ribuan awak Afghanistan berduyun-duyun pergi ke Bandara Kabul dalam dua pekan terakhir dalam upaya keluar dari negara itu dan kabur dari Taliban.

afghanistan-cerita-orang-orang-yang-gagal-melarikan-diri-dari-taliban-15
  • Swaminathan Natarajan
  • BBC World Service

Sumber gambar, Getty Images

Ribuan warga Afghanistan berduyun-duyun pergi ke Bandara Kelulusan dalam dua pekan belakang dalam upaya keluar daripada negara itu dan melarikan diri dari Taliban.

Mereka berhari-hari menunggu dengan gelisah tanpa air, makanan, atau toilet agar bisa diangkut dengan pesawat. Penuh yang nyaris meninggal karena serangan bom bunuh muncul oleh ISIS-K dan kemudian serangan drone AS.

Negeri AS mengatakan bahwa mereka bersama dengan mitra telah berhasil mengevakuasi 123. 000 orang sebelum tenggat 31 Agustus.

Namun banyak orang, termasuk mereka yang pernah bekerja di tadbir Afghanistan, aktivis perempuan, jurnalis, serta orang-orang dari kelompok minoritas agama dan seksi, telah tertinggal.

BBC berbicara kepada tiga orang yang tidak mampu pergi. Mereka sekarang dalam persembunyian, jadi nama sah mereka diubah untuk melindungi identitas mereka.

Sesudah Taliban merebut Kabul, Nazeef, bersama istri dan bayinya meninggalkan rumah mereka.

“Sayangnya saya tidak bisa tinggal. Saya meninggalkan rumah beta dan berpindah-pindah. Saya berganti lokasi setiap hari. Kami sekarang bersembunyi di sendi saudara saya, ” introduksi Nazeef kepada BBC.

Sumber gambar, Getty Images

Pria yang pernah bekerja jadi manajer kantor pemerintah tersebut punya riwayat panjang secara Taliban. Masalahnya dimulai kala ia dikirim untuk mengaudit pinjaman yang diberikan pada petani di wilayah pedesaan, yang berada dalam buntut Taliban.

“Dalam peran itu saya telah berkunjung ke 18 provinsi selama dekat dua tahun untuk berbahasa dengan petani. Taliban tidak suka proyek ini sebab didanai oleh negara langka, Saat bekerja, saya tahu aktivitas Taliban dan menyampaikan informasi itu kepada kawan-kawan media saya. ”

Baca juga:

Nazeef berkata Taliban mengetahui kalau ia adalah sumber informasi itu dan “menyampaikan peringatan” kepadanya, melalui kakaknya. Ia mengaku mengabaikan peringatan tersebut dan terus menyuarakan perilaku oposisinya terhadap kelompok keras itersebut, antara lain dengan menulis kritik pedas di media sosial.

Namun merupakan peran terakhirnya di pemerintah yang ia pikir membuatnya menjadi target utama.

“Saya bekerja di departemen dengan sangat sensitif, mengelola keterangan pribadi orang-orang. Taliban cakap jika mereka menangkap kami, mereka bisa mendapatkan nama dan alamat beberapa orang yang mereka ingin jadikan bahan. ”

Sumber gambar, Getty Images

Ia mendengar lantaran tetangganya bahwa Taliban muncul ke rumahnya setidaknya 3 kali dalam dua pasar terakhir.

“Saya dapat data mereka telah membunuh tujuh orang yang pernah menyala dengan pemerintahan sebelumnya di Kabul, baru dua keadaan yang lalu. ”

Karena ia tidak bekerja untuk pemerintah asing, ia tidak mendapat panggilan dari pemerintah negara-negara Barat untuk hadir ke bandara. Namun Nazeef mencoba peruntungannya dan tetap berangkat ke bandara bersama istri dan anaknya.

“Saya sudah empat kali memeriksa tapi tidak bisa berangkat. Saya bawa dokumen buat menunjukkan bahwa saya berlaku di wilayah sensitif dan nyawa saya dalam bahaya namun saya tidak mampu menemui atau berbicara dengan pejabat kedutaan. Saya apalagi tidak bisa mendekati gerbang bandara. ”

Nazeef kacau ia tidak akan bisa banyak bergerak setelah semakin banyak petempur Taliban berada di Kabul. Ia sedang bersiap untuk menempuh perjalanan berisiko bersama istri dan anaknya dengan membayar penyelundup bani adam.

Ia tahu itu akan jadi perjalanan yang berat, di mana banyak migran tewas dan perempuan terutama rentan terhadap pelecehan seksual.

“Bahkan itu tidak gampang, ” kata Nazeef, sebab “Taliban mengatakan mereka telah menutup semua penyeberangan perbatasan dengan negara tetangga”.

Walaupun begitu, Nazeef siap untuk mengambil risiko.

“Mereka tidak akan pernah memaafkan aku. Jika saya tinggal pada Kabul, Taliban akan membunuh saya jika mereka menjumpai saya. ”

“Saya ingin pergi karena tak ada jaminan bahwa nyawa saya aman, ” cakap Ahmed.

Ahmed sudah bertahun-tahun bekerja sebagai jurnalis serta kemudian mendapat jabatan sebagai penasihat media di salah satu departemen di pemerintahan Afghanistan.

Sumber gambar, Getty Images

Ia belum menerima kerawanan pembunuhan secara langsung, namun ia takut karena Taliban menyita semua dokumentasi daripada kantor tempatnya bekerja, tercatat daftar staf yang menyimpan namanya.

“Tindakan Taliban masa ini biasa saja. Tapi bagaimana perilaku mereka sesudah mendirikan pemerintahan, itu pertanyaannya. ”

Ia curiga Taliban masih mengonsolidasikan kekuasaannya dan menunggu waktu yang langsung untuk “melenyapkan mereka dengan dianggap sebagai musuh”.

Ahmed tidak percaya dengan amnesti umum yang diberikan sebab Taliban.

Istrinya dan kakaknya meminta Ahmed untuk pergi. Karena dia memiliki visa Inggris yang valid, dia memutuskan untuk pergi ke bandara Kabul pada Kamis lalu namun ketika ia tiba, seluruh jalan pada luar gerbang utama sempurna dengan orang-orang.

Nekat, ia melompat ke saluran drainase yang sejajar dengan hidup, untuk menghindari antrean.

Saat mengarungi air selokan setara lututnya, ia mendengar perkataan ledakan keras.

“Ledakannya sejenis kuat, saya sampai terlempar ke tanah oleh aliran kejut. Tangan dan wajah saya memar. Ledakan bom itu hanya 150 meter dari posisi saya. ”

Sebanyak 170 orang, tercatat 13 tentara AS, tewas dalam serangan bom yang menghentikan operasi evakuasi untuk sementara.

Ahmed dijemput sebab kakaknya dan ia datang di rumah setelah kurang jam. Ia berkata sekitar selusin orang yang pernah bekerja di berbagai bagian media untuk pemerintah kini telah pergi ke bervariasi negara melalui penerbangan penyelamatan.

Ahmed ingin keluar secepatnya mungkin. Ia berkata dia tidak yakin kapan penerbangan komersial akan kembali jalan dari bandara Kabul, jadi ia berencana menyeberang pinggiran ke Pakistan, dan mencoba peruntungannya di sana.

“Situasinya buruk sekali, ” imbuhnya.

“Taliban menyetop mobil-mobil dan memeriksa semua orang, meminta mereka menunjukkan kartu individualitas. ”

Sesudah mendapat panggilan dari pemerintah Inggris, Parvana bergegas ke bandara Kabul untuk kelam.

“Saya menikah dengan seseorang yang bekerja dengan tentara asing. Karena itu kami dalam bahaya besar. ”

Namun ia tidak mampu keluar dari Afghanistan.

Sumber gambar, Getty Images

Parvana menikah dengan seorang penerjemah yang bekerja untuk tentara Inggris di Afghanistan.

Suaminya bermigrasi ke Inggris kaum tahun yang lalu dan akhirnya mendapatkan izin buat membawa istrinya ke Inggris setelah Taliban mengambil alih Kabul.

Namun ia tak mendapat visa di paspornya dan sekarang mengkhawatirkan keselamatan nyawanya.

“Kedutaan-kedutaan ditutup di sini. Bagaimana pemerintah Inggris bakal mengelola skema relokasi? Saya tidak tahu bagaimana cara kerja relokasi dari negara ketiga? Situasinya sangat membatalkan dan saya merasa habis asa sekarang. Saya tidak bisa pergi ke Inggris, ” ujarnya.

Lebih dibanding 15. 000 orang telah dievakuasi oleh Inggris sejak 14 Agustus. Namun Parvana tidak ada di jarang mereka.

“Saya di sana enam hari enam suangi tapi tidak berhasil. Sungguh-sungguh penuh. Saya duduk dalam tanah. Itu tidak aman sedikit pun. Saya berusaha betul keras untuk masuk tetapi tidak bisa bergerak sesenti pun. ”

Seiring orang-orang terus berdatangan ke bandara ia kehabisan makanan serta air.

“Saya berusaha tak makan atau minum sebab tidak ada toilet. Cuacanya panas sekali di siang hari dan saya merasakan benar-benar lelah. ”

Dalam satu hari ia membuang bandara untuk menggunakan toilet di rumah kerabatnya.

“Ketika saya kembali, kerumunan bertambah besar dan saya hidup jauh di belakang gaya saya sebelumnya. Jauh daripada gerbang. ”

Parvana kesudahannya menyerah dan pulang ke rumah, walaupun ia memprediksi akan ada lebih penuh orang di bandara, jika atau ketika, penerbangan evakuasi kembali dilangsungkan.

Sumber gambar, Getty Images

Sementara itu, kehadiran militan Taliban yang mengancam di jalanan sudah membatasi pergerakan Parvana.

“Jalanan hampir kosong, ” ujarnya.

“Semua orang diam pada rumah. Pasukan Taliban secara senapan mesin dan pelontar granat (RPG) berpatroli dalam jalanan dan menanyai orang-orang yang ingin meninggalkan Afghanistan. ”

Parvana berasal lantaran keluarga yang sangat lapuk dan terbiasa mengenakan burka dengan penutup wajah. Dia tidak bekerja dan memeriksa media sosial untuk data.

“Taliban mengatakan tidak mau ada balas dendam. Tetapi saya melihat video itu membunuh beberapa pejabat tentara di Kabul. Saya tidak bisa percaya pada mereka. Setelah Amerika pergi, mereka akan menemukan dan mematikan lebih banyak orang. ”

Perempuan itu berkata harapannya telah pudar dengan keberangkatan penerbangan evakuasi terakhir, dan ia ingin negara-negara Barat memberikan tekanan pada Taliban untuk menjamin keamanan bagi orang-orang yang ingin keluar Afghanistan.

“Komunitas internasional tidak boleh melupakan kami dan melakukan segala hal untuk segera menolong kami. Jika mereka terus membuang-buang zaman, orang-orang seperti saya tidak akan bertahan hidup. ”